
Setelah memandangi langit, aku pun segera memakai baju dan celana yang sudah di beri L. Bajunya agak kebesaran sih, tapi aku tidak terlalu peduli, yang penting baju nya bisa menutupi kemaluanku dan membuatku tidak kedinginan.
Walaupun aku sudah punya baju, tapi sejujurnya aku masih butuh lagi karena, pasti baju ini akan bau setelah 3 hari kupakai. Dan bau itu akan menggangu petualanganku. Yang kumaksud mengganggu disini bukan karena aku tidak nyaman dengan baunya, tapi karena bau yang menyengat ini bisa mengundang para monster berdatangan kepadaku. Jadi bagiku itu sangat merepotkan dan bisa menguras banyak tenaga.
Mungkin kalau di jalan aku bertemu seseorang mungkin aku akan barter padanya. Dan mungkin sesuatu yang bisa kubarterkan nanti hanyalah daging kelinci atau rusa yang nanti akan kuburu.
Setelah kupikir sudah siap semua, aku pun ingin membaca buku hitam itu dulu, karena aku harus menentukan mencari yang mana dahulu. Ketika buku hitam itu terbuka, tulisan "Alam Ghaib" yang awalnya berada di halaman depan, menghilang dan di gantikan dengan tulisan Pohon Suci.
Aku pun membalikkan halaman selanjutnya dan disitu bisa terlihat lukisan daun yang di lukis dengan pensil. Di bawah lukisan itu terdapat tulisan yang agak panjang. Terdapat 2 lembar yang berisi dengan tulisan. Karena terlalu panjang jadi aku hanya membaca secara cepat, tapi aku bisa paham dengan isinya. Pokoknya tulisan yang panjang itu berisi tentang penjelasan tentang daun itu, ciri-ciri nya, dan letak daun itu berada.
Penjelasan dari daun itu hanya tentang asal-usul dan fungsinya. Bagiku itu tidak terlalu penting, jadi aku melewatkannya saja.
Yang lebih penting itu adalah ciri-ciri nya dan letaknya, jadi aku lebih memilih membaca lebih teliti di situ.
Dikatakan di buku itu, kalau ciri-ciri dari daun pohon suci itu mirip dengan daun pepohonan biasa, tapi ada satu hal yang membedakan dari daun pepohonan biasa. Yaitu,Dia hidup. Daun itu bisa bergerak layaknya Makhluk hidup lainnya, dia punya rasa takut, rasa senang, rasa sedih. Pokoknya dia punya perasaan seperti manusia pada umumnya. Jadi kalau kau ingin menangkap daun itu, maka kau harus menjadi temannya dan merebut hatinya. Setelah kau berhasil merebut hatinya, dia akan kembali menjadi daun biasa yang tidak bisa bergerak dan saat itulah kau bisa menangkapnya.
"Daun yang bisa hidup. Unik sekali, aku jadi tidak sabar bertemu dengan daun itu. Tapi sebelum itu aku harus tahu letak daun itu."
__ADS_1
Aku membaca bagian lokasi daun itu dan ternyata letaknya berada di Negeri Peri. Sejujurnya itu sangat cocok sekali, karena Negeri Peri tidak terlalu jauh dari sini. Sebenarnya dari semua kerajaan di Negeri Manusia. Hanya Kerajaan Daman saja yang berada di dipinggir, semua kerajaan selain kerajaan Daman berada di tengah. Merekakarena disana lebih banyak Resource untuk dimanfaatkan.
Note: Resource itu seperti sumber daya alam, seperti kayu, air, batu mineral, dan banyak hal lain lagi.
Sedangkan di daerah kerajaan Daman itu kebanyakan hanya pepohonan dan air bersih untuk minum sangat sedikit. Karena hal itulah banyak sekali Seller air yang sering sekali datang ke kerajaan Daman untuk mempromosikan air bersih dari kerajaan nya.
Karena jaraknya yabg cukup dekat, jadi aku memutuskan untuk mencari Daun dahulu di Negeri Peri. Pertama-tama aku mengeluarkan peta dari tas. Petanya tidak lengkap sih, hanya menunjukkan Negeri manusia, Negeri Peri dan juga Negeri Penyihir. Ketiga Negeri lainnya belum ditunjukkan sama sekali dan hanya berisi lembaran kosong saja.
Peta yang tidak lengkap seperti ini sebenarnya agak menyulitkan sih. Karena nanti aku harus mencari peta lain yang lebih lengkap dari ini. Biasanya peta yang lengkap itu sangat susah di dapatkan dan juga mahal. Kalau gak salah harga dari peta yang lengkap itu setara dengan 3 keping koin emas. Dan aku tidak punya uang sebanyak itu, kalau saja Rika masih hidup dan ikut berpetualang dengan ku, mungkin masalah uang sudah terselesaikan.
"Baiklah, sudah kuputuskan. aku akan mencari mayatnya Rika dahulu."
Sebelum pergi aku mengemas barang-barang ku kedalam tas. Sesaat setelah semua barang sudah masuk tas, aku menyadari kalau ada sesuatu yang hilang dan itu adalah pedangku.
"Oh iya pedang ku kemana ya?" Aku melihat sekitar dan di samping meteor besar itu aku melihat pedangku sedang menancap di tanah.
Aku pun mengangkat tanganku karena sebelumnya pedang itu kembali padaku ketika aku mengangkat tanganku begini. Namun, setelah beberapa detik aku mengangkat tanganku, pedang itu tak kunjung kesini. Dia masih diam saja disana.
__ADS_1
"Eh? Kok gak kesini, biasanya bisa kok."
"Mungkin kurang lama kali ya." Aku pun mengangkat tanganku lebih lama lagi, tapi setelah 1 menit pedang itu tak kunjung kesini.
"Waduh...ini aneh nih, apa jangan-jangan pedang itu tersangkut ya. Aku cek dulu deh." Aku berjalan menghampiri pedang ku. setelah sampai aku mencoba mencabutnya dari tanah, dan hasilnya dia tidak terjebak sama sekali. Aku bisa mencabut pedangku dengan gampang sekali.
"Lah ini gampang sekali, terus tadi gak mau menghampiriku kenapa. Ah sudahlah, pikir saja nanti. Yang penting pedangnya masih bisa di gunakan." Karena pedang itu terlalu panjang dan tidak punya sarung sama sekali. Jadi pedang itu ku simpan di bagian bawah tasku. Sebenarnya bagian bawah itu tempat untuk selimut dan tenda. Namun, karena aku tidak punya selimut ataupun tenda, jadi pedangku lah yang ku letakkan disitu.
Karena semua sudah siap aku pun segera berangkat tempatnya Raj. Jalannya aku masih hafal, jadi aku tidak perlu. Aku berjalan perlahan kesana, karena aku terlalu capek untuk berlari. Entah kenapa ketika aku mati dan hidup lagi. Tenaga ku jadi terkuras banyak sekali dan membuatku agak lesu. Mungkin ini adalah konsekuensi kalau kau abadi.
Setelah 1 jam berjalan, aku akhirnya sampai di tempatnya Raj yang sudah hancur, disana tidak ada yang berubah. Mayatnya Jangkrik dan anak buahnya masih berada di tempatnya. Namun ada satu hal yang membedakan yaitu sudah ada lalat yang mengerubungi mayat mereka.
Disitu aku tidak peduli dengan mayat mereka. Jadi, aku melewati nya saja tanpa melirik sedikit pun ke mayatnya.
Setelah berjalan kesana-kemari. Di tengah jalan Aku akhirnya menemukan mayatnya Rika. Dia sedang tersangkut di atas pohon dengan jeroannya yang menjulur keluar. Sejujurnya itu aku merasa jijik dan juga merasa tidak tega melihat kondisi mayatnya Rika yang seperti itu. Jadi tanpa berlama-lama aku pun segera menurunkan Mayatnya dari pohon.
Dengan perasaan jijik, aku pun merogoh sakunya dan menemukan sekantong koin emas. Aku sangat bersyukur karena kondisi koin emas itu masih utuh setelah kejadian kemarin.
__ADS_1