Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Makan bersama part 4


__ADS_3

"Tolong ambilkan Puding itu Vivi." Aku menunjuk Puding kecil berwarna hijau. Kenapa aku memilih itu, ya...karena aku suka sekali puding. Teksturnya yang kenyal dan manisnya pas. Itu yang membuat ku suka dengan puding. Lagipula Puding ini tidak membuatmu gampang kenyang seperti Kue dan ini sangat cocok ketika aku lagi kenyang, tapi masih mau makan.


"Baik tuan." Vivi mengambil puding dan memberikan nya padaku.


Aku sangat senang, bahkan aku sampai menjilat bibirku karena tidak sabar ingin mencicipi nya. Aku mengambil sendok kecil yang khusus untuk puding. Aku menyentuh puding itu dan baru saja menyentuhnya sedikit, puding itu sudah terlihat bergoyang-goyang dan itu berarti kalau puding ini sangat kenyal.


Aku pun menyendok puding itu sedikit dan terlihat sangat gampang sekali aku membelah puding itu walaupun aku hanya menggunakan sedikit tenaga saja.


Sebagian kecil puding itu sudah ada disendok, dia terlihat bergoyang-goyang ketika aku mengangkat nya. Aku membuka mulutku dan memakan puding itu. Saat puding itu masuk mulutku, ada rasa manis dari berbagai buah memenuhi mulutku dan itu sangat...enak.Aku belum pernah merasakan puding seenak ini sebelumnya.


Dari banyak puding yang telah kumakan sepanjang hidupku, puding inilah yang paling enak dan itu dikarenakan puding ini memiliki berbagai rasa buah didalamnya. Biasanya paling banyak rasa yang ada di puding itu hanyalah 2, tapi puding ini memiliki 5 atau 6 rasa. Aku tidak tahu pastinya sih, mungkin masih banyak lagi, tapi yang jelas aku bisa merasakan 5 rasa buah dipuding ini.


Tidak seperti sebelumnya kalau setiap beberapa gigit langsung habis, kali ini aku mencicil sedikit demi sedikit puding itu agar bisa tahan lama.


Setelah beberapa menit akhirnya puding itu pun habis kumakan dan aku merasa sangat puas. Setelah makan, aku mengambil kain yang sudah dilipat dengan rapi di samping piring dan mengelap bibirku yang kotor.


"Ah.. makanan nya sungguh enak." Aku meletakkan kain itu di meja.


"Hmm...kau sudah selesai Rakka." Tanya Mama viona yang masih makan hidangan utama.


"Iya ma.." aku masih belum terbiasa memanggil nya mama.


"Dari yang kulihat, kau tadi baru makan sedikit lho, kamu nggak mau nambah?"


"Nggak lah ma...aku sudah kenyang. Lagipula kebutuhan nutrisi ku sudah terpenuhi dengan makanan yang kumakan tadi."


"Oh gitu ya. Kalau kau bilang begitu ya sudah lah..."


Selang beberapa menit Syo juga sudah selesai makan, tapi dia terlihat ingin muntah karena terlalu makan banyak tadi. Lalu Paman Tapoc dan Mama Viona juga sudah selesai makan secara bersamaan.


"Ah...chef kita memang tidak pernah mengecewakan kalau membuat makanan." Paman tapoc meletakkan kain untuk mengelap bibirnya di meja. Lalu dia berdiri dan berkata.


Baik..kalau begitu aku harus pergi lagi ke kerajaan untuk memberikan berkas penting." Paman Tapoc segera berjalan dengan pelayan pribadinya.


"Oh iya..Aku juga halus pelgi ke tempat paman John untuk latihan. Kalau begitu aku pelgi dulu ya kak." Syo segera berlari dengan tergesa-gesa sambil memegangi mulutnya.


"Ah.. iya Syo, hati-hati."


Ruangan itu sudah kosong, hanya ada Aku, Mama Viona dan kedua pelayan pribadi kami.


"Hmm... sepertinya tinggal kita berdua ya Rakka." Mama Viona menyatukan tangannya dan meletakkan dagunya di tangannya. Dia tersenyum seakan merencanakan sesuatu.


"Ah...i..ya nih." Aku tersenyum masam dan memalingkan pandangan ku sambil berkeringat dingin.


Lalu pelayan pribadi dibelakang nya tiba-tiba berkata.


"Maaf nyonya, tapi anda harus segera ke butik anda untuk mengurus masalah produk baru yang sedang bermasalah."


Mama Viona terlihat kesal dan menjentikan lidahnya.


"Tch...hah...Ya sudah lah." Mama Viona berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepadaku.


"Sayang sekali ya Rakka. Padahal kita sudah berdua, tapi ya sudahlah..."


"Hehehe...aku tidak mengerti apa maksud mu ma...."


"Kalau kita berdua lagi suatu saat, nanti kau akan mengerti." Mama Viona mengedipkan matanya kepadaku.


[Semoga hari itu tidak tiba.] Kataku dalam hati.


Aku tidak tahu apa yang direncanakan Mama Viona, tapi aku punya perasaan tidak baik tentang itu. Ketika Mama Viona sudah meninggalkan ruang makan, aku langsung menghembuskan nafas lega


"Hah...untung dia sudah pergi. Ada apa sih dengan Mama Viona? kenapa dia selalu menggoda ku begitu?"


"Nyonya memang begitu tuan. Nyonya suka sekali melihat ekspresi malu pria muda seperti, tuan."


"Apakah semua pria di begitu kan?"

__ADS_1


"Tidak semua hanya yang dia kenal saja."


"Kalau begitu syukurlah, karena aku takut nanti kalau dia melakukan itu ke semua pria, dia akan di gituin."


"Gituin?"


"Ya...kau tahulah." Aku membuat simbol dengan tanganku, dimana ada angka nol dan satu.


"Oh.." Vivi terlihat tidak ingin membahasnya lagi, wajahnya terlihat malu-malu dan itu sangat imut.


"Oh iya Vivi.Sekarang....kita harus ngapain?"


"Hmm...Terserah anda tuan, saya akan ikut saja. Pokoknya saya akan pergi kemanapun tuan akan pergi, Selain kekamar mandi."


"Hmm...." Aku memikirkan, kemana aku mau pergi dan ngapain. Lalu aku terpikir kan kalau aku masih bingung dengan rute di rumah ini. Rumah ini sudah seperti labirin, banyak sekali lorong demi lorong yang bentuknya sama di rumah ini dan itu membuatku bingung.


"Bagaimana kalau kita keliling rumah ini, aku masih belum terbiasa dengan rute rumah ini dan mungkin saja aku bisa tersesat disini."


"Kalau sampai tersesat itu tidak mungkin, tuan. Karena saya akan selalu berada disisi anda."


"Ya itu memang benar, tapi bagaimana kalau kau sakit, kan kau tidak bisa disisiku saat itu."


"Walau saya sakit, saya akan tetap disisi anda, Tuan."


"Tidak bisa, kalau kau sakit, kau harus istirahat. Aku tidak mau sakitmu tambah parah gara-gara aku."


"Tapi..."


"Tidak bisa. Ini perintah langsung dariku."


Viona terdiam sejenak dan kemudian berkata.


"Baik tuan, kalau saya sakit, saya akan istirahat selama satu hari."


"Jangan satu hari, tapi sampai kau sembuh."


Aku tersenyum senang dan berkata.


"Bagus. Nah kalau begitu, ayo kita buat perjanjian." Aku mengeluarkan jari kelingking ku.


"Apa yang harus saya lakukan, tuan." Vivi terlihat kebingungan.


"Kau tidak tahu janji kelingking."


"Maafkan saya, tapi saya tidak tahu."


Aku tersenyum dan kemudian aku memegang tangan kanan Vivi dan mengeluarkan jari kelingkingnya. Lalu aku menyatukan jari kelingking nya dan jari kelingking ku.


"Nah katakan janjimu tadi."


"Hah..baik. kalau saya sakit, saya akan beristirahat sampai sembuh."


"Nah, janji dikunci. Sekarang kau tidak bisa melanggarnya ya."


"Baik tuan."


"Oke.. sebelum kita pergi keliling rumah ini. Sebaiknya kau pergi makan siang dulu sini." Aku berdiri dari kursiku dan mempersilahkan Vivi untuk duduk.


"Tidak usah tuan, saya makannya nanti saja."


"Ah..sudahlah, duduk saja." Aku memaksa Vivi duduk.


"Tapi tuan..." Vivi tang duduk, berbalik badan ke arahku.


"Oh iya. Semua pekerja disini kalau mau makan, makan saja. Tidak usah mempedulikan aku masih disini atau tidak."


Para pelayan yang masih berdiri di tempat tadi, saling tatap-tatapan. Mereka bingung mau menuruti ku atau tetap berdiri disitu sambil menunggu ku keluar.

__ADS_1


Karena mereka tidak bergerak dan malah bingung sendiri. Aku pun berkata pada Vivi.


"Oke...kalau begitu kau makanlah dulu. Aku tunggu diluar ya." Aku berjalan keluar.


"Saya ikut, tuan.." Vivi hendak berdiri dan ingin mengikuti ku, tapi aku menghentikan nya.


"Eitts...makan dulu saja, aku tidak mau kau sakit gara gara aku."


"Tapi tuan, saya harus berada disisi anda terus."


"Hah...okelah. aku mau ke toilet dulu dan saat aku di toilet, kau makanlah dulu, nanti setelah selesai, hampirilah aku di depan pintu." Tentu saja aku tidak akan ke toilet, karena aku juga tidak tahu dimana toiletnya.


"Tapi..."


"Kau mau ikut ke toilet? Mau mengintip ku?"


"Tidak tuan." Wajah Vivi langsung memerah.


"Nah maka dari itu, duduklah disini, makan lah makanan disini dan setelah selesai hampirilah aku. Oke."


Vivi terdiam sejenak dan kemudian berkata.


"Baik tuan, saya akan makan dulu dan saya akan makan dengan cepat."


"Yah...terserahmu lah. Pokoknya aku akan menunggu mu di depan."


Aku pun pergi dari ruang makan, tapi sebelum pergi aku membawa botol wine yang berisi air putih. ketika pergi dan melewati karpet merah, para pelayan membungkuk dan berkata secara bersamaan.


"Terima kasih, Tuan Rakka."


Aku hanya bisa tersenyum sambil berjalan santai keluar. Ketika aku sudah diluar, pintu yang besar itu pun tertutup secara perlahan dan selang beberapa detik pintu itu akhirnya tertutup rapat.


Setelah pintu itu tertutup, aku bisa mendengar riuk-piuk para pelayan di dalam yang mulai terdengar ramai. Mulai banyak sekali orang bicara satu sama lain dan juga suara orang tertawa. Selain suara dari para pelayan, aku juga bisa mendengar suara piring dan sendok yang saling bersentuhan satu sama lain. Dari yang kudengar,Mereka terlihat sangat senang didalam, yah...siapa sih yang tidak senang ketika kau bisa makan-makanan mewah setiap hari.


"Hah..aku tunggu disini saja dah." Aku menunggu di depan pintu besar itu sambil meminum air yang ada di botol.


Baru saja aku menunggu 2 atau 3 menit. Vivi malah sudah keluar dengan mulut penuh makanan. Pintu itu di buka lagi, tapi tak terlalu lebar. Hanya selebar tubuh Vivi saja.


"Baik tuan, ayo kita keliling rumah ini." Kata Vivi dengan mulut penuh makanan.


"Hah...telan dulu itu."


Vivi menelan makanan itu dan berkata lagi.


"Ayo tuan."


"Kau tidak minum dulu?"


"Tidak usah tuan, ayo kita segera pergi saja."


"Hah...kau ini ya. Ini minum dulu." Aku memberikan botol berisi air putih itu.


"Ta..."


"Jangan berdebat lagi." Aku menghentikan dia berbicara, karena aku sudah bosan berdebat dengan dia terus.


Vivi terdiam dan kemudian mengambil botol itu secara perlahan


"Terima kasih tuan." Dia pun meminumnya. Bisa terdengar kalau ada suara teglukan ketika dia meminumnya dan ada setetes atau dua tetes air yang keluar dari mulutnya. Air itu mengalir melewati pipi, melewati lehernya dan sampailah di belahan kedua gunung nya. Ketika aku melihat air itu masuk ke gunungnya, aku langsung mengalihkan pandangan ku dan berpura-pura kalau aku tidak melihat nya. Walaupun begitu, wajahku terlihat memerah dan itu tidak bisa di sembunyikan.


Vivi sudah selesai minum, dia terlihat segar kembali. Setelah selesai dia langsung memberikan botol itu kembali kepadaku.


"Terima kasih atas minumnya, tuan."


"Sama-sama. Nah..kalau begitu ayo pergi."


"Ayo, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2