Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Petualangan dimulai part 2


__ADS_3

Malam hari pun tiba.


Di kegelapan malam hutan belantara. Ada setitik cahaya yang menyala. Cahaya itu berasal dari api unggun yang di buat oleh Rika.


Saat itu aku masih tidak sadarkan diri, aku masih terbaring di tanah yang keras dan hanya beralas daun pisang yang lebar. Sedangkan Rika sedang memasak sesuatu yang terlihat enak.


Bau dari makanan itu sangat enak, bahkan baunya bisa sampai ke alam bawah sadarku. Karena hal itu pun aku akhirnya terbangun, tapi aku terbangun dengan rasa sakit di bagian leherku.


"Bau apa ini?" Aku bangun sambil memegangi leherku.


"Kau sudah bangun ya. Sebentar ya, makan malam nya hampir jadi."


"Makan malam?"


Aku melihat sekitar dan aku melihat banyak sekali pepohonan dan juga hewan yang sedang nongkrong atau tidur di dahan pohon.


"Dimana kita?"


"Di hutan, tapi aku tidak tahu pastinya. kalau saja ada peta, mungkin aku bisa tahu kita ada dimana."


"Hm..?" Aku masih bingung dengan situasi sekarang, karena aku masih tidak ingat kejadian sebelumnya. Lalu aku melihat ke bawah kaki Rika dan melihat sebuah Buku hitam. Saat itu juga aku langsung teringat kejadian sebelumnya.


"Vivi..! Kita harus menyelamatkan nya." Aku segera berdiri dengan panik, dan seperti nya aku sudah tidak lemas lagi karena aku sudah bisa berdiri dengan tegak tanpa terjatuh.


"Tenanglah, kita tidak bisa menyelamatkan nya...."


"Apa maksudmu!? Vivi sekarang pasti sedang di siksa oleh bajingan itu, kita harus..."


"...untuk sekarang!" Percakapan ku terpotong oleh teriakan Rika.


"Aku tahu kau khawatir dengan Vivi. Aku bisa merasakan nya juga, karena kakek Bari juga di tangkap oleh mereka, tapi kita tidak punya apa-apa. Kekuatan, senjata, kita tidak punya semuanya. Kalau kita langsung menerjang tanpa berpikir, kita pasti bakal langsung tertangkap dan di bunuh. Jadi untuk sekarang, kau makanlah dulu. Masalah Vivi dan Kakek Bari kita urus nanti." Rika memberikan daging panggang yang di letakkan di sebuah daun.


Aku menatap Rika yang masih mengajukan daging panggang itu kepadaku. Muka Rika memang terlihat santai, tapi aku bisa melihat kalau sekarang dia ini sedang marah besar.


Aku pun mengambil daging panggang itu dari tangan Rika secara perlahan dan kemudian aku duduk di seberang nya. Aku hanya memegang daging panggang itu tanpa memakannya. Aku hanya terdiam sambil melihat api unggun yang hampir padam. Keadaan sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik dan suara serigala yang terkadang melolong.


Lalu di tengah kesunyian, aku pun mulai bicara.


"Maaf."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Karena berteriak padamu dan juga karena tidak mengerti perasaan mu."


Rika tersenyum tipis.


"Kau tak perlu minta maaf kalau hanya itu, aku sudah terbiasa di teriaki begitu."


"Oleh siapa? Kakek Bari kah?"


Sekarang Rika tertawa kecil.


"Kakek tua itu mana bisa berteriak keras padaku. Yang meneriaki ku itu adalah para warga."


"Para warga? Kenapa?"


"Karena aku mencuri barang mereka."


"Kenapa kau melakukan itu? Jelas lah mereka meneriaki mu."


"Itu cuma kenangan pas kecil saja sih. Dulu aku berpikir dunia ini tidak adil, masa orang-orang bisa memiliki keluarga lengkap dan bisa tidur nyenyak di kasur yang empuk. Sedangkan aku tidak punya ayah,ibu dan aku harus tidur di kolong jembatan. Saat itu Aku cukup kesal melihat kesenangan mereka. Jadi dulu aku berniat ingin mencuri sedikit kesenangan mereka. Tapi baru mencuri sedikit, orang-orang malah meneriaki aku dan menghajarku sampai babak belur. Kalau tahunya begitu, lebih baik aku mencuri semua kesenangan mereka hari itu."


Rika menceritakan masa kecilnya yang kejam dan menyedihkan itu dengan tersenyum dan terkadang tertawa kecil. Aku yang mendengar nya hanya bisa diam sambil menatapnya dengan serius.


"Dia itu bukan siapa-siapa sih, tapi bagiku dia itu adalah keluarga ku yang asli. Ketika aku di ambang kematian karena tidak makan berhari-hari. Kakek muncul dan memberiku sepotong Roti. Saat itu sebenarnya kakek hanya ingin memberiku Roti dan kemudian pergi, tapi karena aku selalu mengikuti nya kemanapun. Jadi dia terpaksa merawatku. Namun sebagai balasan nya aku selalu menuruti perintah nya."


"Hm...gitu ya. Sebenarnya aku juga tidak punya orang tua asli sih. Namun aku punya orang tua angkat yang sangat sayang padaku. Yah.....walaupun saat ini mereka sedang di luar sana, menghadapi petualangan yang berbahaya."


"Berarti kita punya nasib yang sama ya."


Aku hanya tersenyum, karena sejujurnya menceritakan kalau kita tidak punya orang tua itu agak menyedihkan, tapi karena Rika berbicara begitu, aku merasa senang seakan aku ini punya teman senasib.


"Ya....kau benar."


Setelah membicarakan masa lalu masing-masing, aku pun mencoba memakan daging panggang yang sudah agak dingin. Rasanya sih biasa saja, tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan nya, karena yang penting aku bisa kenyang hari ini.


Aku sudah menghabiskan makananku, Rika juga begitu. Aku pun bertanya pada Rika.


"Setelah ini apa,Rika?"


"Hmm...ini sudah malam. Jadi kita pikirkan besok saja."


"Okelah."

__ADS_1


"Tapi kau yang jaga ya. Kan tadi kamu sudah tidur lama sekali. Sekarang giliran ku untuk tidur."


"Heh...? Nanti kalau ada monster gimana? Aku kan gak punya senjata."


"Aku tadi juga gak punya. Gunakan saja kayu yang terbakar itu, biasanya Monster itu tidak suka api."


"Tapi kalau gak takut gimana?"


"Ya kalau itu urus sendiri. Kalau begitu selamat malam ya." Rika sudah tertidur di daun pisang, tempat aku tertidur tadi.


"Hei.."


Rika tidak menjawab,aku tidak tahu dia ini benar benar tertidur atau malah sedang pura pura tertidur. Namun dari hembusan nafasnya sih, dia benar-benar tertidur.


"Hah...cepat sekali dia tertidur." Aku pun hanya duduk sambil melihati api unggun.


Terkadang ada suara aneh dari semak-semak, tapi aku tidak mempedulikan nya, karena pasti itu adalah kelinci atau hewan kecil lainnya.


Lama kelamaan suara itu semakin berisik dan mengganggu. Karena tidak tahan aku pun mengambil batu kecil di dekatku dan melemparkan ke arah suara itu.


Setelah kulempar batu ternyata suara itu berhenti bersuara dan itu membuatku lega. Aku pun melanjutkan menatap api unggun karena tidak ada yang bisa kulakukan sekarang.


Tak lama setelah itu ternyata suara itu kembali lagi dan sekarang tak hanya di satu sisi tapi di segala arah. Aku sudah mulai berpikir ini bukan lagi kelinci. Tapi aku berpikir ini adalah sekelompok monster.


Aku pun mengambil salah satu kayu di api unggun dan menggerakkan nya dengan cepat ke segala arah.


"Siapa itu, keluarlah kalian."


Suara itu semakin lama semakin berisik. Aku melihat semak-semak di depanku karena semak disana bergoyang cukup keras dan juga mengeluarkan suara yang lebih keras dari lainnya.


Aku melihati dengan serius sambil memegangi kayu yang terbakar. Pokoknya kalau ada monster yang menerjang, Aku sudah siap sedia.


Setelah beberapa detik tiba-tiba ada segerombolan kelinci yang keluar dari semak-semak itu. Jumlah mereka ada banyak sekali, mungkin ada 30 puluhan.


Dia berlari ke arahku dan kemudian lewat saja tanpa mempedulikan ada aku disana. Aku kebingungan kenapa bisa ada kelinci sebanyak itu disini. Apakah di sekitar sini ada sarangnya.


Lalu tak lama setelah kelinci-kelinci itu pergi. Dari depan muncul benda raksasa yang menuju kemari.


Aku tidak tahu itu monster atau hanya sekedar hewan raksasa, tapi yang jelas, benda itu memancarkan cahaya merah dari matanya.


"Astaga..."

__ADS_1


__ADS_2