
Ketika aku duduk istri paman tapoc berbicara lagi.
"Ayolah jangan panggil aku nona. Kitakan sudah jadi keluarga. Jadi panggil aku Mama Viona, seperti Syo." Dia berbicara itu sambil mengedipkan matanya.
Wajahku langsung memerah ketika dia berkata begitu, tapi aku harus menahan nya dan harus tetap bersikap elegan. Tapi walaupun aku sudah menahan nya, pipiku dan kupingku masih terlihat memerah.
"Tapi nona..."
"ssttt....sudahlah....panggil saja." Dia meletakkan telunjuk jarinya di bibirnya sendiri dan kemudian tersenyum manis ke arahku.
Sebenarnya aku agak malu memanggil nya mama, karena aku baru 2 kali ini bertemu dengannya dan aku juga tidak terlalu mengenalnya. Jadi kalau tiba-tiba memanggil nya mama rasanya aneh gimana gitu. Tapi karena aku sudah disuruh, aku terpaksa memanggil nya.
"Ma....ma..." Aku mengatakan itu dengan nada dan suara yang aneh. Yah itu tidak bisa dipungkiri lagi, karena sangat malu memanggilnya begitu
"Wah..lucu sekali sih kamu. Nah mulai sekarang panggil aku begitu ya."
"Iya ma..." Aku tidak bisa menahannya lagi. Wajahku sudah memerah layaknya stroberi.
Tak lama setelah itu dari pintu muncul seseorang lagi dan itu adalah Syo, dan dia terlihat sangat sibuk berbicara dengan pelayan pribadinya. Entah kenapa dia sudah seperti orang dewasa yang membicarakan bisnis dengan bawahannya.
Dia terus berbicara serius dengan pelayan nya sampai dia duduk di sampingku. Aku tak sengaja menguping, tapi dari yang kudengar dia berbicara tentang jadwal acara yang ingin dia hadiri.
Tak kusangka Syo yang masih anak kecil punya jadwal yang cukup padat. Aku berpikir, apakah ketika aku jadi keluarga ini, aku akan mempunyai jadwal yang padat juga.
Lalu ketika aku memikirkan nya, Syo berhenti bicara dengan pelayan nya dan pelayan nya pergi dari hadapan Syo.
__ADS_1
"Hah.." syo menghela nafas capek.
"Kenapa Syo? Kau terlihat capek sekali?"
"Lho...sejak kapan kakak disini?"
Sialan nih anak, bisa-bisanya aku yang dari tadi duduk disampingnya, dia tidak menyadari ku sama sekali.
"Maaf kak. Aku olangnya memang begitu, kalau aku tellalu fokus 1 hal, aku biasanya tidak menyadali ada orang di dekatku."
"Oh gitu ya. Nggak apa-apa, nggak usah minta maaf.oh..iya, Omong-omong kamu tadi bahas apa dengan pelayan itu."
"Oh tadi, cuma mengatul jadwalku untuk besok doang kok kak."
"Nggak sibuk banget kok kak? Jadwalku itu cuma sekolah, makan, belajar dan habis itu tidur deh."
"Lah itu cuma kegiatan biasa, kok kamu malah mengeluh tadi."
"Kalau hali hali biasa aku tidak pelnah mengeluh kak, tapi kalena besok aku harus menghadili pesta ulang tahun temanku. Aku jadi malas dan sempat tidak ingin pelgi, tapi kalena disuluh mama untuk pelgi. Jadi besok aku halus tetap datang ke pesta ulang tahun temanku." Syo melihat ke arah mamanya.
"Tetep harus pergi lho ya. Karena yang kau temui itu adalah anak bangsawan dan kita tidak boleh tidak hadir di acara penting seperti itu karena untuk menjaga nama keluarga kita." Kata mamanya.
Pesta ulang tahun ya...Dulu aku tidak pernah menghadiri pesta ulang tahun siapa pun, karena aku tidak pernah punya teman sama sekali. Tapi kalau aku ulang tahun pasti selalu dirayakan. Ya.. walaupun cuma ada ayah dan ibuku yang ikut merayakan sih. Namun itu sudah membuatku bahagia.
"Lho emangnya kenapa? Kan seharusnya seru tuh, bisa kumpul bareng teman-teman, makan kue, dan kegiatan lainnya bersama temanmu." Aku hanya asal bicara. Aku sebenarnya juga tidak tahu senang nya pergi ke pesta ulang tahun teman.
__ADS_1
"Memang selu sih, tapi yang membuat tidak selu itu adalah kalena dia pasti akan datang."
"Dia?"
"Si Galeis. Dia adalah teman dekatku, tapi akhil-akhil ini kami sedang bertengkal kalena dia melusak mainan kesayangan ku."
Hah...biasa pertengkaran anak-anak. Itu sudah biasa kalau anak-anak gampang marah akan sesuatu, bahkan hal kecil sekalipun, seperti tidak dibelikan sesuatu, atau tidak diperbolehkan melakukan sesuatu. Dulu pas kecil aku juga begitu. Hari itu aku sering sekali bermain-main dengan pisau dapur, tapi karena suatu saat tanganku terluka karena tidak hati-hati. Pisau itu pun di sembunyikan agar aku tidak bisa bermain dengan pisau itu lagi.
Karena hal itu aku pun mengambek dan tidak makan berhari-hari. Yah...itu tidak sepenuhnya benar sih. Sebenarnya kalau lapar aku diam-diam mengambil cemilan di rak dan kemudian kembali lagi ke kamar untuk melanjutkan ngambekku. Dan sejujurnya orang tuaku sudah tahu itu, tapi mereka tetap mengalah padaku dan mengembalikan pisauku, tapi mereka sudah menumpulkanya terlebih dahulu agar tidak berbahaya.
"Hmm...dengarkan aku Syo. Aku itu tidak pernah punya teman selama hidupku. Bahkan sejujurnya aku tidak tahu apa enaknya punya teman, tapi kemudian aku bertemu denganmu dan ternyata bermain denganmu itu sangat menyenangkan. Mungkin saat itu lah aku bisa merasakan perasaan senang ketika bermain dengan teman. Aku sebenarnya juga tidak tahu rasanya bertengkar dengan teman, tapi dulu aku sering sekali bertengkar dengan ayahku, dan sejujurnya itu sangat tidak mengenakkan di dalam hati. Setiap kali aku bertatap muka dengannya. Selalu ada perasaan jengkel, tapi ada juga perasaan kangen bermain dan berlatih lagi dengan ayahku. Aku ingin berbaikan dengannya tapi aku merasa malu dan merasa kalau harus ayahku dulu yang meminta maaf. Namun beberapa hari ayahku tak kunjung minta maaf. Itu membuat perasaan ku semakin gusar. Aku berpikir, apakah dia sudah membenciku? apakah dia tidak akan menganggap ku anaknya lagi? Pikiran itu terus membebani pikiran ku. Lalu karena aku sudah tidak tahan menahan beban pikiran ini lagi. Aku pun menghampiri ayahku dan berkata 'maaf yah'. Saat itu ayahku langsung tersenyum dan juga berkata 'aku juga minta maaf nak'. kami pun berpelukan setelahnya dan semua beban yang ada dipikiran ku menghilang dalam sekejap. Aku sangat senang saat itu karena akhirnya aku bisa berbaikan lagi dengan ayahku. Setelah kejadian itu kami pun tidak pernah tidak bertengkar lagi dan yang ingin kusampaikan disini adalah....minta maaflah dulu kepada Galeis itu, walaupun bukan kau yang salah."
"Namanya Galeis kak."
"Lah iya bener, memangnya apa yang salah.....oh.....aku lupa kalau kau bisa ngomong 'R'. Yah.... pokoknya kau harus minta maaf dulu padanya. Oke."
"Walaupun bukan aku yang salah."
"Iya... walaupun bukan kau salah."
Syo terlihat termenung sejenak dan kemudian dia memandang wajahku penuh tekad.
"Baik kak, besok aku akan meminta maaf padanya dulu."
"Bagus...Syo anak pintar." Aku mengelus kepalanya dan dia terlihat senang
__ADS_1