
Sebenarnya orang tuaku sudah menggunakan berbagai cara agar aku tambah kuat, tapi hasilnya tetap saja nihil. Aku tidak bisa menguasai yang diajarkan mereka, yang benar-benar ku kuasai hanyalah membuat jebakan. Dan itu sebenarnya tidak terlalu berguna ketika melawan lawan yang tiba-tiba muncul.
"Hah..tidak apa-apa Rakka. Kita berangkat nya masih Minggu depan kok. Kau masih ada kesempatan 1 Minggu lagi."
Ibuku itu sangat baik. Dia bakal terus menyemangati ku walaupun aku terus gagal.
"Benar kata ibumu. Jadi besok kita akan lakukan latihan terakhir sekaligus latihan terberat dalam hidupmu. Jadi bersiaplah."
Aku menelan roti yang ada di mulutku dan berkata.
"Aku punya perasaan buruk ini."
Keesokan harinya.
Biasanya aku itu bangun setelah matahari terbit, tapi kali ini aku disuruh bangun pagi karena aku dan ayahku akan Melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Aku tidak diberi tahu latihan apa yang akan aku lakukan, tapi yang jelas aku merasa nyawaku akan terancam kali ini.
Ayahku mengajakku keluar kerajaan, anehnya diatidak membawa senjatanya seperti biasanya dan hanya aku saja yang membawa senjataku.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kami sampai di sebuah hutan belantara yang sangat lebat, sampai membuat cahaya matahari tidak bisa tembus kedalamnya.
Aura di hutan itu sangat mengerikan, bahkan disana aku tidak bisa melihat hewan satupun. Tidak ada kicauan burung, tapi ada suara aneh yang terus bersuara yang membuat suasana di hutan itu menjadi mengerikan.
"Umm...kita tidak akan masuk kehutan itu kan."
"Tentu tidak..."
"Syukurlah kukira..."
Ayahku mendorong ku ke hutan itu dengan keras sampai membuat ku terjatuh.
"Tapi hanya kau yang masuk kesana."
__ADS_1
"Aduh...kenapa harus di dorong sih, kan bisa gunakan cara baik-baik." Aku lekas bangun sambil menepuk bokongku yang kotor.
Aku ingin keluar dari hutan itu, tapi entah kenapa ada semacam penghalang tidak terlihat yang memisahkan hutan yang mengerikan itu dengan hutan biasa.
"Eh...? Jangan bilang kalau..."
"Benar..inilah latihan terakhir mu. Yang harus kau lakukan itu gampang. Kau cuma harus bertahan hidup di hutan ini selama tiga hari saja. Dan kalau berhasil, kau boleh ikut kami berpetualang."
"Bertahan hidup? Gak mungkin aku bisa bertahan hidup di hutan ini, apalagi disini tidak ada hewan sama sekali, nanti bagaimana aku makannya."
"Kata siapa gak ada hewan. Tuh dibelakang mu ada 1 kelinci."
Aku melihat kebelakang dan memang ada 1 kelinci disitu, tapi kemudian kelinci itu dimakan oleh ular raksasa. Kami terdiam sejenak melihat kelinci itu dimakan bulat bulat oleh ular itu. Kemudian aku menatap ayah kembali sambil memasang muka cemas.
"Err... sebenarnya ular juga bisa dimakan kalau kau bisa memasaknya dengan benar."
Aku menatap datar ke ayahku, seakan memberitahu kalau itu tidak mungkin.
Ayahku mengeluarkan daging rusa, tapi hanya sepotong saja.
"Ini... kuberikan satu daging rusa, dan sisanya kau lakukan sendiri oke."
Ayahku melemparkan nya dan ternyata daging itu bisa tembus dinding tidak terlihat itu. Aku menangkapnya dan aku sangat senang bisa mendapatkan daging rusa.
"Oke baiklah. Terima kasih ayah."
"Iya ya. Kalau begitu ayah pulang duluan ya." Ayahku berjalan pulang.
"Baik. Hati-hati dijalan ya."
Ayahku tidak menjawab dan tidak berbalik, dia hanya melambaikan tangannya ke arahku.
"Baiklah kalau aku berhasil bertahan hidup disini, aku bisa ikut berpetualang."
__ADS_1
Aku pun berjalan lebih dalam kehutan itu dengan rasa percaya diri. Aku pikir, aku bisa melewati latihan ini dengan mudah, karena aku hanya perlu bersembunyi saja sampai lusa, tapi ternyata tidak. Di hutan ini kalau kau bersembunyi, maka kau mati dan kalau kau tidak bersembunyi maka kau juga akan mati.
Di hutan ini ternyata banyak sekali monster yang memiliki penciuman yang tajam dan juga pendengaran yang tajam, jadi kalau kau sembunyi pasti bakal ketemu. Dan satu satunya yang bisa kau lakukan disini hanyalah terus bertarung sampai tidak ada monster disekitar mu.
Selama di dalam hutan aku tidak sempat memasak, karena setiap aku menyalakan api, pasti selalu muncul monster satu-persatu. Dan itu membuatku kesulitan memasak.
Sejujurnya aku sangat kesulitan melawan monster-monster disini. Mereka sangatlah kuat, bahkan ada salah satu monster yang kuat sekali sampai membuatku penuh luka dan aku harus kabur darinya.
Aku pikir, aku tidak bakal bisa melewati latihan ini. Aku sudah penuh luka, belum makan sama sekali, bahkan tenggorokan sudah sangat kering, karena aku tidak bisa menemukan air yang bersih yang bisa kuminum. Saat aku menemukan air bersih, pasti air itu sudah dijaga oleh gerombolan monster dan itu membuatku tidak bisa meminum nya.
Disaat hari sudah malam aku mencoba beristirahat disembarang tempat, aku sudah sangat capek dan ingin menutup mataku, tapi kemudian di kegelapan malam muncul monster yang menyerangku dan itu membuatku kehilangan satu tangan ku. Tidak sepenuhnya hilang sih aku berhasil membunuh monster itu, dan berhasil mengambil kembali tanganku.
Aku menghentikan pendarahanku dengan memakan semacam tumbuhan herbal, dan juga mengikatnya dibagian yang terpotong agar aku tidak kehabisan banyak darah dan mati.
Untungnya dulu ibuku pernah mengajariku tentang tumbuh-tumbuhan herbal dan juga cara mengatasi pendarahan. Jadi untuk sekarang aku bisa selamat. Semoga saja...
Keesokan harinya.
Ayahku kembali ke hutan mengerikan itu untuk memeriksa keadaan anaknya. Dia berjalan santai, karena dia pikir anaknya pasti bisa mengatasi latihan ini, tapi setelah dia berada di depan hutan mengerikan itu. Dia sangat terkejut melihat kondisiku yang kritis.
Dia melihat aku yang sedang terbaring dengan memeluk tanganku yang sudah buntung. Kantung mataku menghitam karena aku tidak tidur sama sekali, bahkan sekarang ini mataku masih melotot terus. Bibirku membiru karena kedinginan, sebenarnya aku kedinginan bukan hanya karena angin malam, tapi juga karena tanaman herbal yang kumakan semalam, efek dari tanaman herbal itu bisa membuat tubuhmu kedinginan. Dan itu juga membuat darah ku membeku yang membuatku selamat kemarin malam.
"Astaga! Kau tidak apa apa nak." Ayahku segera memelukku yang sedang dalam kondisi kritis
Aku melihat ke arah ayahku dengan perlahan. Ketika melihatnya, ada air yang keluar dari mataku. Entah itu karena aku bersyukur masih bisa bertemu ayahku atau karena aku menyesal tidak bisa menyelesaikan latihannya. Aku tidak tahu itu, tapi yang jelas saat itu aku tidak bisa membendung air mataku. Aku hanya menangis dan terus menangis di pelukan ayahku tanpa berkata apa-apa.
Ayahku yang melihatku begitu pun merasa bersalah karena telah memberikan latihan yang cukup berat. Dia pun memelukku dengan kuat dan berkata.
"Tidak apa-apa nak. Tidak apa-apa. Ayo kita pulang."
Ayahku membopong ku dan kemudian berjalan kembali ke rumah. Dan saat itu lah aku akhirnya bisa tertidur nyenyak.
Setelah beberapa jam berjalan kami akhirnya berhasil kembali ke rumah. Ibuku tentu saja terkejut melihat kondisiku yang begitu parah.
__ADS_1