Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Rumah Baru part 1


__ADS_3

Setelah itu Kami menyewa kereta kuda karena rumah paman tapoc berada di pusat kota dan tempat itu adalah tempat para elit, tempat para orang kaya. Pokoknya tempat itu adalah tempatnya orang-orang pintar dan bermatabat.


Di kerajaan ini, orang-orang nya di bagi jadi 3. Yaitu orang elit, orang biasa dan juga orang kumuh. Tentu saja tempat mereka dibedakan juga. Biasanya orang elit berumah di pusat kerajaan dan disana banyak sekali rumah-rumah besar dan mewah. Tak hanya itu, disana fasilitas nya lebih banyak dan juga canggih. Dulu ayahku pernah berkata kalau di tempat para elit itu banyak sekali alat sihir yang canggih, seperti mereka tidak mandi dengan air, tapi dengan menggunakan uap. Sejujurnya aku masih tidak percaya dengan perkataan ayah saat itu, karena mana mungkin uap bisa membersihkan kotoran dibadan. Lalu kebanyakan orang disana itu adalah petinggi kerajaan dan juga orang dari serikat perdagangan.


Selanjutnya adalah orang biasa. Mereka berumah disekitar gerbang depan utama dan juga dipinggiran pusat kerajaan.orang biasa ya..biasa. tidak ada yang spesial di tempat ini. Semua orang ditempat ini biasanya berprofesi menjadi petani atau juga pedagang. Kalau monster hunter biasanya juga tinggal ditempat ini, tapi terkadang ada juga monster hunter yang tinggal di pusat kerajaan, dan biasanya monster hunter itu adalah monster hunter profesional yang sudah bisa memburu monster yang kuat. Omong-omong aku juga tinggal di tempat ini. Sebenarnya ayahku bisa saja tinggal di pusat kerajaan, tapi dia memilih di tempat biasa karena lebih nyaman dan juga damai.


Selanjutnya orang kumuh. Mereka berumah di pinggiran kerajaan dan juga di gerbang belakang. Dulu gerbang belakang, mempunyai fungsi yang sama seperti gerbang depan, yaitu sebagai tempat masuk dan keluar nya para pedagang, atau juga para bangsawan dari kerajaan lain. Tapi karena kejadian masa lalu yang menyebabkan pintu dari gerbang itu rusak parah sampai membuat pintu itu tidak bisa di perbaiki lagi yang membuat gerbang itu sudah tidak digunakan lagi dan hanya jadi gerbang untuk orang-orang kumuh keluar kerajaan. Kebanyakan orang-orang disana adalah pemulung, pengemis dan juga pengangguran. Selain itu sebenarnya juga ada pencuri yang bersembunyi di tempat kumuh.


Sebenarnya semua orang sudah tahu kalau banyak pencuri bersembunyi di tempat kumuh, tapi semua orang tidak mau ketempat itu karena terlalu kotor dan juga menjijikkan. Banyak orang ditempat itu tidak pernah mandi ataupun membersihkan tempat mereka dan itu membuat tempat kumuh jadi tempat paling kotor dan menjijikkan di kerajaan ini. Ditempat kumuh juga ada pasar dan harga barang-barangnya sangatlah murah, tapi jangan terlalu berharap tinggi dengan kualitas barangnya. Di pasar itu biasanya menjual barang barang bekas yang masih kelihatan bagus, atau sayuran yang hampir busuk.


Sejujurnya aku agak kasihan dengan orang-orang yang tinggal ditempat kumuh, mereka disana jarang makan dan kalau makan pun, mereka harus mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah. Yang tentu saja itu tidak higienis dan mungkin saja itu bisa membuat mereka jatuh sakit. Dan kalau sakit, mereka tidak bisa berobat ke dokter karena biaya pengobatan yang mahal.


Setelah 15 menit kami menunggangi kereta kuda, akhirnya kami sampai di pinggiran pusat kerajaan. Kami berhenti disini karena kereta kuda dilarang masuk ke pusat kerajaan dan hal itu untuk menjaga kebersihan dari kota itu. Dari situ kami pun berjalan ke tempat rumah paman Tapoc. Kukira perjalanan nya masih panjang, tapi hanya beberapa menit kami sudah sampai di rumah paman Tapoc.


Awalnya aku terkejut karena melihat rumah paman Tapoc yang besar, tapi aku sudah menduga itu. Jadi aku tidak terlalu terkejut.


"Wah rumah paman besar juga ya."


"Hehehe. Itu cuma biasa. Masih ada rumah yang lebih besar dari ini."


"Tapi tetap saja, ini masih lebih besar dari rumah ku."

__ADS_1


"Sudah sudah. Jangan memujiku terus, lebih baik kita segera masuk kerumah."


Aku mengangguk tanpa bicara dan kemudian aku langsung berjalan ke rumah itu sambil memandang kemegahannya. Walaupun kulihat beberapa kali, dan dari segala sisi. Rumah itu memang sangat bagus sekali. Dilihat dari tinggi nya mungkin rumah itu memiliki 2 lantai. Aku bisa menebak kalau Jendela dan pintu itu terbuat dari kayu yang berkualitas dan juga mahal. Bisa terlihat dari betapa halusnya dan ratanya kayu itu. Motif dari ukiran kayu di pintu itu terlihat rumit, tapi juga sangat menawan. Seperti ada karya seni di pintu itu.


Aku sudah berada di depan pintu itu dan ingin membukanya. Aku memegang daun pintu itu yang berbentuk bulat. Ketika menyentuhnya aku tahu itu bukan besi, melainkan sebuah emas murni. Di daun pintu itu juga ada ukiran yang rumit, tapi menawan. Yang sejujurnya ketika aku memegangnya, tubuhku langsung merinding. Entah itu karena daun pintu itu yang dingin atau karena daun pintu itu yang terbuat dari emas yang sangat mahal. Aku tidak tahu, tapi yang jelas tubuhku merinding ketika memegangnya.


Ketika aku membuka pintu itu. Tidak ada suara decitan seperti suara tikus kejepit yang keluar dari engsel pintu itu. Aku juga membuka pintu itu dengan sangat mudah seperti aku membalikan sebuah kertas. Disaat pintu sudah terbuka sepenuhnya, tiba-tiba ada yang memanggil ku dan itu adalah paman Tapoc.


"Rakka!"


Aku pun berbalik badan, tapi pintu itu masih terbuka lebar.


"Itu bukan rumahku."


"Hah?"


"Itu..bukan..rumahku!"


Setelah mendengar itu aku memasang wajah datar, sambil mengedipkan mataku berkali-kali. Aku menghadap depan lagi dan di dalam rumah ada sekelompok keluarga yang sedang bersantai.


Disitu terlihat ibunya sedang memegang sendok sayur, ayahnya baru turun kebawah. Dia terlihat sudah rapi dan ingin pergi berkerja, dan juga ada 2 anak yang tadinya main kejar-kejaran, sekarang terdiam melihat kearahku. Semua orang didalam rumah melihat ke arahku dengan tatapan bingung. Aku yang ditatap pun juga bingung dan juga merasa malu. Lalu untuk menutupi rasa malu aku pun melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Halo bapak ibu. Apakah kalian ingin berlangganan air bersih dari pegunungan. Airnya segar lho."


Ya..aku berdalih sebagai seller air. Agar aku tidak malu-maluin salah masuk rumah orang.


"Ah..maaf kami tidak butuh lagi, karena kami sudah berlangganan di perusahaan Merula."


"Oh gitu ya. Sayang sekali, padahal air kami lebih segar lho."


"Maaf ya, tapi kami memang sudah tidak butuh lagi."


"Hah.. yasudahlah. Aku akan cari orang lain saja. Kalau begitu aku permisi ya." Aku pun menutup pintu rumah itu dan segera berjalan cepat ke paman Tapoc.


"Kenapa paman tidak beritahu dari awal." Aku memarahi paman Tapoc


"Aku sudah teriak dari tadi, tapi kamu malah bengong dan malah nyelonong terus."


Ya itu tidak salah, aku dari tadi memang bengong melihat keindahan rumah itu dan itu membuatku tidak bisa membalas perkataan paman tapoc.


"Sudah sudah, tidak usah marah marah. Sudah biasa orang salah masuk rumah disini, jadi tidah usah malu-malu, apalagi harus berdalih sebagai seller air." Paman tapoc tertawa sedikit.


Aku meresa jengkel ketika ditertawai paman tapoc, tapi aku tidak bisa apa-apa karena tadi salahku sendiri. Dan sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku harus menjadi seller air tadi dan setelah kupiki-pikir lagi ternyata itu cukup memalukan.

__ADS_1


__ADS_2