
Karena teriakan itu aku akhirnya terbangun dari mimpi yang aneh itu, tapi entah kenapa suara jeritan itu masih ada di kupingku. Suara itu tidak bisa berhenti walau aku sudah menggoyang kepalaku.
Lalu tak lama setelah itu, aku menyadari kalau aku tidak sedang di kamarku, aku berada di kamar yang tidak asing. Ini adalah kamarnya Paman Tapoc dan Mama Viona, tapi kenapa aku disini.
Karena aku seperti memegang sesuatu aku pun melihat tanganku dan ada pisau dapur dengan bercak merah di sisi tajam pisau itu. Aku merasa aneh, kenapa aku memegang pisau dapur dan bercak merah apa ini, Aku pun berbalik badan dan ada seorang pelayan dan itu adalah pelayannya Paman Tapoc, dia sedang menjerit dengan keras. Jadi suara jeritan itu dari dia, tapi kenapa dia menjerit.
Pelayan itu menjerit sambil menghadap ke atasku. Aku pun penasaran kenapa dia menjerit. Jadi aku menghadap ke depan lagi dan melihat ke atas.
Lalu...semua jawaban yang ada dipikiran ku tadi, seketika langsung terjawab. Tepat di atasku ada Paman Tapoc, Mama Viona dan Syo yang tertancap di dinding dengan ditusuk bagian dada mereka dengan sebuah tongkat besi.
Aku menjatuhkan pisau yang kupegang kelantai dan kemudian berkata dengan wajah terkejut.
"Apa...yang telah kulakukan?"
Aku berbalik badan dengan ekspresi yang masih terkejut dan aku mencoba berjalan menghampiri pelayan itu untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi pelayan itu sepertinya ketakutan dan berlari keluar sambil mengunci kamar itu.
Aku terkunci didalam, bersama 3 mayat yang tergantung di dinding. Aku menggedor-gedor pintu untuk di bukakan, tapi pelayan itu terlalu takut dan hanya duduk ketakutan di depan pintu.
Tak lama setelah itu muncul salah satu pelayan dan dia melihat pelayan yang sedang ketakutan di depan pintu. Dia pun segera menghapiri pelayan itu dan menanyakan apa yang terjadi padanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau ketakutan begini?"
"Tu tu tu tu tu." Pelayan itu terlalu takut sampai tidak bisa berbicara dengan benar.
"Ada apa denganmu? Bicaralah yang benar?" Pelayan itu menggoyangkan badan pelayan yang ketakutan dengan cukup kuat untuk membuatnya sadar.
"Tuan Tapoc....dia...."
"Ada apa dengan dia?"
"Dia...telah mati."
"Hah...jangan bergurau kau ini." Pelayan itu mencoba masuk ke kamar Paman Tapoc untuk melihat apakah yang dikatakan nya benar.
"Jangan...! Ada monster didalam! Panggil saja seluruh monster hunter dan petualang yang ada ke rumah ini." Pelayan yang ketakutan itu menghentikan dia untuk membuka pintu itu.
"Kau ini ternyata masih mengigau ya. Mana mungkin monster bisa masuk kerumah yang di perlengkapi keamanan super ketat ini." Pelayan itu masih kekeh ingin masuk.
"Ada! Bahkan dia sudah masuk dari kemarin. Pokoknya jangan buka pintu ini dan segeralah pergi cari Monster Hunter atau Petualang." Pelayan yang ketakutan memegang tangan pelayan yang ingin masuk dengan cukup kuat sampai membuat pelayan itu kesakitan.
"Aduh... apa-apaan sih kamu." Pelayan itu melihat ke wajah pelayan yang ketakutan dan sekarang dialah yang ketakutan karena melihat wajahnya yang mengerikan.
Mata pelayan itu melotot sampai bola matanya ingin keluar, kulitnya memucat karena ketakutan tadi, bibirnya membiru seperti orang kedinginan dan rambut nya berantakan yang membuat pelayan itu terlihat menakutkan.
"Pergi! Panggil semua Monster hunter yang kau bisa." Dia menyuruh pelayan itu dengan nada suara yang mengerikan juga.
Pelayan itu pun segera pergi untuk mencari Monster Hunter. Padahal saat itu dia masih ada tugas yang harus di selesaikan, tapi karena melihat wajah yang menakutkan itu, dia tidak bisa menolaknya.
Setelah pelayan itu pergi dengan tergesa-gesa. Munculah Vivi yang terlihat kebingungan mencari sesuatu atau seseorang. Dia melihat pelayan di depan pintu kamar paman tapoc dan dia pun menghampiri nya ingin bertanya. Tapi baru saja dia ada didepannya dan ingin bertanya. Pelayan itu menarik baju Vivi dengan kasar dan membisikinya sesuatu.
"Pergi! Jangan mendekat."
"Tapi aku hanya ingin....."
Pelayan itu mendorong Vivi dengan keras dan juga berteriak dengan keras padanya.
"Pergi..!"
"Hei... apa-apaan kau ini? Aku disini cuma ingin tanya, apakah kau melihat tuan Rakka disekitar sini?"
Pelayan itu memandang terkejut ke Vivi dan kemudian berkata.
"Dia ada didalam."
"Hah...didalam kamar Tuan Tapoc, tapi ngapain tuan ada disana?"
"Dia bukan tuan mu lagi, Vivi. Dia adalah monster sekarang. Dia telah membunuh seluruh keluarga Tapoc termasuk si kecil Syo."
"Hah...itu tidak mungkin. Tuan Rakka itu sayang sekali dengan keluarga ini, apalagi tuan Syo. Mana mungkin dia tega membunuh mereka."
__ADS_1
"Tapi itulah kenyataannya."
Vivi terdiam sejenak dengan muka serius dan kemudian dia berjalan ingin masuk ke dalam kamar.
"Biarkan aku masuk."
"Jangan! Ini demi kebaikanmu. Aku tidak mau kau mati juga, Vivi." Pelayan itu berdiri dan menghalangi pintu."
"Minggirlah Rebbeta, aku ingin masuk dan melihatnya sendiri."
Rebbeta tetap tidak menyingkirkan dan malah merentangkan tangannya.
"Kau tahu aku bisa bela diri kan Rebbeta. Jadi sebaiknya kau menyingkir sebelum, tanganmu itu patah satu."
"Aku lebih baik kehilangan tanganku daripada kehilangan mu,Vivi."
Vivi menjentikkan lidahnya dan kemudian maju tanpa ragu ingin mematahkan tangannya Rebbeta. Tapi baru saja mau melangkah, tiba-tiba muncul beberapa orang asing dan mereka berpakaian lengkap untuk perang. Mereka itu adalah Monster Hunter.
"Dimana monsternya nona?"
"Dia ada didalam, tolong tangkap dia tuan dan nyonya sekalian." Vivi menyingkir dari pintu dan mempersilahkan untuk mereka masuk.
"Serahkan pada kami."
Monster Hunter itu masuk berbondong-bondong.
Ternyata kedatangan Monster Hunter itu membuat para pelayan dan pekerja penasaran. Tempat ini mulai ramai oleh orang karena mereka penasaran, apa yang sedang terjadi di rumah ini. Di tengah keramaian itu,Vivi mencuri kesempatan untuk bisa masuk kedalam kamar dan itu berhasil. Rebbeta sempat ingin mengeluarkan Vivi dari kamar itu, tapi kalau dia membuka pintu itu. Semua orang pasti akan masuk dan mungkin itu bisa menghambat Monster Hunter untuk menangkap monsternya.
Vivi sudah berada di dalam bersama para Monster Hunter dan seperti Monster Hunter tidak terlihat ingin mengusir Vivi atau mungkin lebih tepatnya kalau mereka tidak tahu ada Vivi bersama mereka karena mereka terlalu Fokus melihat yang sedang mereka saat ini.
Mulut mereka semua menganga sedikit, mata mereka melebar. Bahkan ada yang ingin muntah melihat nya. Vivi ada di belakang meraka dan semua monster hunter itu lebih tinggi dari Vivi. Karena itulah dia tidak bisa melihat apa yang mereka lihat. Jadi dia pun menyelip diantara mereka untuk bisa maju ke depan dan melihat apa yang mereka lihat.
Setelah berada di depan, Vivi terkejut dan menutup mulutnya untuk tidak berteriak. Dia melihat seluruh keluarga Tapoc tertancap didinding dengan tongkat besi berada di dada mereka dan tepat dibawah mereka ada Aku yang sedang terkelungkup seperti trenggiling. Pandangan ku kosong, aku seperti tenggelam dalam pikiran ku sendiri. Mulutku juga terus bergerak dan sedang mengucapkan.
"Bukan aku, bukan aku, bukan aku."
Vivi yang tak tega melihat ku begitu langsung maju kedepan dan ingin menenangkan ku, tapi langkah nya terhenti oleh seseorang yang memegangi tangannya.
"Tuan Rakka tidak akan membunuhku dan aku yakin dia juga tidak membunuh semua orang itu. Jadi lepaskan aku!" Vivi mencoba membanting orang itu, tapi dia malah kena jurus sendiri. Dia terbanting ke tanah dan sekarang dia tidak bisa bergerak sama sekali karena dicengkeram kuat oleh salah satu Monster Hunter pria.
"Aku tidak tahu dia itu siapamu, tapi dia itu adalah tersangka nona dan dia itu masih bahaya."
Vivi terlihat kesal dan ingin melepaskan cengkraman nya, tapi walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dia masih tidak bisa melakukan nya.
"Jangan buang tenagamu nona, lebih baik kau diam saja. Ayo...semuanya, tangkap dia."
Semua Monster Hunter kecuali yang menahan Vivi, langsung maju untuk menangkap ku dan ketika ingin menangkap ku, tiba-tiba ada semacam serangan yang membuat para Monster hunter itu terpental. Saat itu aku tidak melakukan apa-apa, bahkan aku tidak menggerakkan jariku sama sekali, tapi semua Monster Hunter itu malah terpental seakan ada yang menyerang meraka.
"Sudah kuduga dia itu bahaya. Semuanya...keluar kan senjata kalian, kita akan melumpuhkan dia walaupun dia terbunuh sekali pun"
Para Monster Hunter yang terpental tadi bangun kembali dan mengeluarkan senjata mereka. Kebanyakan dari mereka membawa pedang, tapi ada 1 atau 2 orang yang membawa busur dan juga tongkat sihir.
"Tunggu...jangan bunuh dia..."
"Serang..!"
Tak mempedulikan apa kata Vivi, Para monster hunter langsung maju ke depan ingin menyerang, tapi kemudian langkah mereka terhenti karena pintu tiba-tiba terbuka. Para Monster hunter kira, gerombolan orang tadi berhasil masuk kedalam dan itu bisa bahaya karena bisa menghambat pekerjaan mereka, tapi ternyata yang masuk hanyalah 1 orang pria yang memakai topi baret dan juga mantel berwarna hitam.
Ketika para Monster Hunter melihat orang itu masuk, mereka langsung membungkuk dan mengucapkan salam secara bersamaan.
"Selamat datang, Tuan John."
Kalau gak salah John itu adalah guru pelatihan nya Syo, tapi sepertinya bukan hanya itu. Setahuku John itu adalah Monster Hunter paling kuat di kerajaan ini.Dia dikatakan paling kuat, karena dia dulu pernah mengalahkan Crocland seorang diri.
Crocland itu adalah Monster seperti buaya tapi memiliki sirip. Walaupun memiliki sirip dia tidak berenang di air, tapi malah di bawah tanah.
Peneliti Monster masih menyelidiki bagaimana Crocland bisa berenang di bawah tanah dan untuk hipotesis sekarang adalah karena sisiknya. Sisiknya mungkin mengandung sihir dan itu membuat tanah yang menyentuh sisiknya pasti berubah menjadi cair seperti air.
Kalau dari tingkat kesulitannya, monster ini memiliki kesulitan tingkat tinggi dan biasanya monster dengan kesulitan ini harus dilawan lebih dari 10 orang sedangkan John malah berhasil mengalahkan Crocland seorang diri.
__ADS_1
Selain menjadi Monster Hunter terkuat dia juga seorang detektif yang hebat. Setiap kasus pembunuhan yang ada di kerajaan ini, pasti selalu diselesaikan oleh dia.
Seperti kasus kemarin, tentang seorang pria yang diduga bunuh diri dengan menggantung diri. Awalnya semua orang menduga pria itu bunuh diri, tapi John tak berpikir seperti mereka, dia berpikir kalau itu bukan diri, tapi di bunuh.
Dia tak butuh waktu lama memecahkan kasus itu, dia hanya butuh beberapa jam saja untuk menemukan pelaku sebenarnya. Tentu saja dia tak hanya asal menuduh orangnya, dia juga memberikan alasan dan cara dia membunuhnya.
kasus itu pun selesai dengan pelakunya adalah istrinya sendiri. Alasan dia melakukan nya karena suaminya berselingkuh di belakang nya dan itu membuatnya marah dan akhirnya dia merenggut nyawa suaminya sendiri. Karena kekuatan nya dan kepintaran nya, dia disegani banyak orang, bahkan seorang bangsawan terhormat juga menyeganinya.
"Ada apa ini...wow...." John terkejut melihat kondisi keluarga tapoc yang sangat mengenaskan.
"Astaga, siapa yang melakukan ini?"
"Kami tidak tahu pasti, tuan. Tapi menurut saksi, bocah itu yang telah melakukan nya."
"Hmm...bocah itu." John berjalan santai mendekatiku, tapi tak seperti Monster Hunter lain yang ingin mendekati nya langsung terpental. Dia tidak terpental atau terkena serangan sedikit pun.
Ketika dia berada di depanku John menyentuh kepalaku dan itu berlangsung cukup lama. setelah beberapa menit dia melepaskan genggaman nya dari kepalaku dan kemudian dia berdiri sambil mengangkat ku agar aku juga berdiri.
"Bagaimana tuan? Apakah anak itu yang membunuh keluarga Tapoc?"
John tersenyum
"Oh...anak ini ya..." John menepuk-nepuk pundak ku.
"Dia.....adalah monster yang paling kubenci." John memegang belakang kepala dan langsung membenturkan kepalaku ke lantai sampai lantai di bawahku retak cukup besar.
"Tuan...! Dasar kau ini! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba melakukan itu?" Vivi terlihat geram.
"Hmm...ya karena dialah penjahatnya."
"Hah.... bagaimana kau bisa tahu itu? kau itu baru sampai dan dari tadi kau itu hanya memegang kepala Tuan Rakka . Lalu bagaimana bisa kau berkesimpulan kalau dia penjahatnya."
"Hei...diamlah wanita, kalau tuan John berkata begitu maka itulah yang benar." Kata pria yang mencengkram Vivi.
"Hah...kau ingin bukti, baiklah akan kutunjukan. Pertama, sebelum aku datang kesini aku tadi sudah berkeliling tempat ini untuk memeriksa apakah ada bekas kaca pecah atau pintu dibobol, dan hasilnya nihil. Kedua, aku pernah di beritahu Tapoc kalau rumah ini di penuhi keamanan yang dibuat dari alat sihir dan fungsi dari keamanan itu adalah untuk memeriksa siapa saja yang telah masuk keruang ini. Aku tadi sudah memeriksanya di ruang control kalau yang masuk keruangan ini hanyalah anak ini dan Berreta tadi pagi."
"Tunggu...ruang control? Ruangan apa itu? Memangnya ada ya ruangan itu di rumah ini?"
"Itulah kekurangan dari menjadi pelayan yaitu kau tidak diberitahu hal yang rahasia. Tapoc sengaja tidak memberitahu pelayan dan pekerja nya tentang ruangan ini agar kalau ada seseorang yang melakukan kejahatan bisa ketahuan jelas."
"Oke lanjut yang ketiga." John menunjukkan Cincin aneh di jari telunjuknya.
"Kau tahu apa ini?"
"Apa itu?"
"Ini adalah alat sihir buatan tapoc yang di buat khusus untuk ku. Kegunaan dari cincin ini adalah bisa membaca ingatan orang lain."
"Tunggu bukannya cincin itu kurang sempurna, aku pernah dengar kalau cincin itu memang bisa melihat ingatan orang lain, tapi tidak terlalu akurat."
"Kan aku sudah bilang ini di buat khusus untukku. Jadi ini adalah hasil sempurna dari cincin penglihat ingatan sebelum nya."
"Nah aku tadi memegang kepala anak itu untuk melihat ingatan nya dan aku melihat kalau dialah yang membunuh keluarga Tapoc dengan cara yang sangat kejam."
"Itu tidak mungkin...semua itu bohong. Mana mungkin Tuan Rakka melakukan hal kejam seperti itu."
"Kau masih tidak percaya ya. Baiklah kalau begitu aku akan memperlihatkan pada kalian kekejaman dari monster kecil ini."
Tiba-tiba di kepala setiap orang yang ada di ruangan itu, ada adegan dimana aku membunuh keluarga Tapoc dengan kejam, karena hal itu banyak sekali orang terkejut dan ada yang sampai muntah.
Vivi yang melihat adegan itu juga tak percaya, tapi adegan itu sangat nyata, bahkan tidak mungkin kalau ini ilusi. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya diam dengan tatapan kosongnya.
"Bagaimana sekarang kau percaya?"
Vivi hanya terdiam dan tak mengatakan apapun. Orang yang mencengkram Vivi tadi juga melepaskan Vivi karena sepertinya dia tidak akan mengamuk seperti tadi.
"Oke...akan kuanggap itu ya. Baiklah...ayo kita bawa anak ini ke alun-alun kota. Pasti banyak orang akan senang Ketika aku membawa penjahat untuk disiksa."
Karena tidak ada prajurit dikerajaan ini, maka juga tidak ada penjara di kerajaan ini. Jadi para Monster Hunter membuat penjara sendiri di alun-alun kota. Walaupun ini di sebut penjara, tapi sesungguhnya ini seperti pertunjukan penyiksaan terhadap penjahat.
__ADS_1
Jadi nanti aku akan di ikat di kedua tangan dan kakiku. Lalu aku nanti akan tergantung dan dibiarkan di tengah alun-alun untuk di pertontonkan. Tapi tentu saja itu belum masuk penyiksaan. Setelah aku digantung, nanti aku bakal dicambuk terus-menerus sampai orang yang menyambukku capek atau ingin makan. Biasanya ini bisa berlangsung seharian karena orang yang menyambukku itu adalah seluruh warga yang lewat di alun-alun itu.
"Baik nak...mari kita bersenang-senang bersama." John membawaku dengan menyeret ku layaknya karung berisi kentang.