Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Keluarga Baru part 1


__ADS_3

Seperti sebelumnya, kami melewati lorong demi lorong untuk ke tempat paman tapoc, tapi kali ini ada yang berbeda. Kami juga menaiki tangga untuk kelantai dua. Lantai satu dan lantai dua ternyata sangat berbeda.


Kalau di lantai satu ada banyak sekali ruangan di setiap lorong,tapi tidak terlalu banyak hiasan di lorong itu. Sedangkan lantai dua sebaliknya, disini hanya ada sedikit ruangan, tapi di penuhi oleh hiasan yang terlihat mewah dan elegan.


Hiasan yang ada di lantai dua, seperti vas dengan motif yang rumit, patung manusia tapi kecil, pedang yang keren dan juga ada berbagai lukisan yang indah.


Sebenarnya aku sangat penasaran. Apakah tidak apa-apa membiarkan barang barang mewah ini di letakkan disini tanpa pengawasan, bukannya barang-barang ini rawan untuk di curi ketika tidak ada orang.


Di lantai dua ini tidak ada orang yang lewat lalu lalang seperti lantai satu. Di sini hanya ada aku dan Vivi yang sedang berjalan bersama ke tempat paman tapoc.


Dan itu membuat banyak pertanyaan di kepalaku. Awalnya aku hendak ingin bertanya kepada Vivi, tapi belum sempat ingin bicara. Kami sudah sampai di ruangan tempat paman tapoc menunggu.


"Kita sudah sampai tuan, silahkan ketuk pintu nya dahulu sebelum masuk."


Pintu itu tidak jauh berbeda dari pintu-pintu di ruangan lain. Besarnya sama, warnanya sama, motif nya sama. Tapi entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari pintu itu dan aku tidak tagu apa itu.


Tidak seperti sebelumnya kalau aku hendak masuk, pasti akan di bukakan oleh Vivi, tapi kali ini tidak. Dia menyuruhku mengetuk pintu sendiri, dan juga menyuruhku membuka pintu itu sendiri.


Aku awalnya ragu untuk mengetuk pintu itu karena takut akan terjadi sesuatu ketika menyentuh pintu itu, tapi kemudian aku memantapkan niatku dan mengetuk pintu itu tiga kali.


Dari dalam ruangan terdengar suara sayu dan itu adalah suara paman Tapoc.


"Siapa itu?"


"Ini aku Rakka, paman."


"Masuklah."


Setelah diperbolehkan masuk, aku pun memutar daun pintu dan membukanya. Seperti pintu-pintu sebelum nya tidak ada suara mengganggu ketika kubuka pintu itu.

__ADS_1


Ketika terbuka penuh, disana aku melihat ruangan yang cukup luas. Di ruangan itu ada banyak sekali buku yang tertata rapi di rak buku yang di tempatkan disisi kanan dan kiri dari ruangan itu.


Di langit langit ruangan itu ada sebuah hiasan yang terbuat dari berlian dan di tengah hiasan itu semacam bola bercahaya yang aku tidak tahu itu apa. Bola itu sudah seperti matahari, tapi tidak menyilaukan dan seperti juga tidak panas.


Di ruangan itu juga ada jendela yang berbentuk lingkaran yang langsung menghadap kearah ku. di tengah jendela itu ada semacam motif yang memberikan keindahan dari jendela itu dan juga tidak mengurangi fungsi dari jendela itu.


Di depan jendela itu ada sebuah meja dan juga sebuah kursi yang mungkin terbuat dari kayu oak. Sebenarnya meja dan kursi itu bisa terlihat mewah dan elegan kalau tidak ada tumpukkan kertas dan buku yang berantakan di meja itu.


Di meja itu ada seseorang yang sedang terlihat sedang serius menulis sesuatu di atas kertas dan tentu saja itu adalah paman tapoc.


"Umm.. paman. Ada apa paman memanggil ku?"


"Tunggu sebentar." Dia mengangkat jarinya untuk membuatku diam,. Tapi dia masih fokus ke kertas yang dia tulis.


"Oh..oke." aku pun diam, tapi karena melihat banyak sekali buku di rak. Aku pun menghampiri buku itu dan mencoba membacanya. Lagipula paman tapoc terlihat masih sibuk dan mungkin akan masih lama. Jadi daripada diam lebih baik aku baca buku kan.


Aku menutup kembali buku itu dan mengembalikan nya ke tempatnya. Aku mencoba mencari buku lain yang setidaknya tidak ada angka atau rumus, tapi semua buku yang kuambil pasti berisi angka dan rumus.


Namun ada satu buku yang tidak ada rumus atau angka dan buku itu adalah buku diary. Aku yakin sekali kalau buku ini milik paman tapoc karena tidak mungkin paman tapoc mencuri buku diary orang lain.


"Buku diary punya paman. Seharusnya ini tidak akan ada rumus lagi sih." Aku mencoba membuka sedikit, tapi kemudian aku tutup kembali dan menahan niatku untuk membacanya. Membaca buku diary orang lain itu tidak sopan, apalagi punya orang yang baru saja ketemu seperti paman tapoc.


"Aku kembalikan sajalah." Aku perlahan mengembalikan buku itu ketempat nya, namun baru saja menyentuh raknya.


"Atau...mungkin nanti saja." Aku mengambil buku itu lagi dan membacanya. Dilihat dari tulisan nya yang berantakan dan juga masih jelek, mungkin ini diary waktu kecilnya.


Di halaman pertama tertulis.


Hari dimana bulan berbentuk sabit.

__ADS_1


Seperti biasa aku bersenang-senang dengan keluarga ku. Kami makan bersama, bermain bersama, dan juga tidur bersama karena kami hanya memilik satu kasur.


Sebenarnya tidur begini agak kurang nyaman, dimana kami harus berbagi tempat tidur. Kasur itu hanya untuk alas bagian badan sampai kepala sedangkan kaki kami dilantai yang dingin.Namun walaupun begitu, aku masih senang karena aku masih bersama keluargaku.


"Hmm...tak kusangka kalau paman tapoc pernah mengalami begini."


Aku membalik halaman dan itu masih sama saja. Jadi aku terus membalikkan halaman sampai tulisan nya berbeda dan itu ada di halaman 15.


Di halaman itu tertulis.


Hari dimana bulan mulai berbentuk setengah lingkaran.


Besok aku akan menjadi seorang kakak. Ibuku berkata kalau aku akan mempunyai adik laki-laki. Dan itu membuatku senang karena aku akhirnya bisa mempunyai teman untuk bermain bola nanti.


Nanti aku akan mengajari nya trik-trik keren ketika dia sudah lahir, tapi ayahku berkata kalau itu tidak bisa. Dia bilang aku harus menunggu 7 tahun lagi untuk itu. Dan sejujurnya itu terlalu lama buatku.


Tapi walaupun begitu aku harus tetap sabar dan harus menyambut dengan baik adikku besok.


"Tunggu..Paman tapoc punya adik? Tapi dimana dia? Kok aku belum ketemu?"


Aku membalik halaman selanjutnya.


Hari dimana bulan sudah menjadi setengah lingkaran.


Hari ini aku akhirnya mendapatkan seorang adik, tapi anehnya ayahku malah menangis dan membantingi apapun yang ada di dekatnya. Itu membuatku sedikit takut kepada ayahku.


Padahal adikku sudah ada. Dia sedang digendong oleh salah satu suster, tapi ayahku tidak terlihat senang dan marah-marah sambil mengeluarkan air mata.


Ibuku juga terlihat aneh, dia terus tertidur dan tidak pernah membuka matanya. Aku sudah mencoba membangunkannya, tapi dia tidak kunjung bangun.

__ADS_1


__ADS_2