Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Petualangan dimulai part 7


__ADS_3

Ekspresi kedua orang itu terlihat panik dan terlihat ingin berbicara. Namun mereka tidak bisa, karena mulut mereka masih terbungkam oleh kain.


Kami pun membuka kain yang menutupi mulutnya dan kedua orang itu berbicara dengan panik dam secara cepat.


"Kau membuat keputusan yang salah nak! Tak seharusnya kau menuruti perkataan nya!" Kata wanita muda itu.


"Sebaiknya kalian segera lari dari sini nak! Larilah sejauh mungkin dari orang itu!"


Kami tidak bisa berkata apa-apa. Awalnya aku ingin protes kepada Jangkrik, tapi karena kedua orang itu selalu menyuruh ku untuk jangan berhadapan olehnya terus. Aku pun agak susah untuk protes dan marah pada Jangkrik.


Tak lama setelah kedua orang menyuruh kami pergi. Tiba-tiba kepala meledak, seperti sebuah balon yang meletus. Darah dan otak mereka muncrat kemana-mana, termasuk ke mulutku. Setelah meledak, dari lubang leher mereka, keluar banyak sekali serangga yang berlumuran darah.


Serangga itu juga bukan serangga biasa, itu semua adalah serangga phorcia. Yaitu serangga yang bisa menghembuskan angin yang cukup kuat dari mulutnya. Satu serangga saja sudah bisa memindahkan kerikil kecil sejauh 1 meter hanya menggunakan hembusan anginnya saja. Sedangkan di dalam tubuh kedua orang itu terdapat ratusan bahkan ribuan serangga phorcia yang mendiami tubuh mereka. Kalau mereka serangga itu menghembuskan angin dari mulut mereka secara bersamaan, maka mereka bisa saja menghempaskan gajah dewasa dalam satu hembusan. Karena hal itulah kepala kedua orang itu, tiba-tiba meledak seperti balon meletus.


Setelah kepala kedua orang itu meledak, Jangkrik dan seluruh anak buahnya bertepuk tangan seakan melihat pertunjukan yang hebat.


"Wohoo...hebat, hebat."


"Seperti biasa pertunjukan yang hebat bos."


"Hahaha.... pertunjukan seperti ini memang tidak pernah membosankan."


Saat itu Aku sangat Syok, sedangkan Rika sangat marah dan jengkel kepada Jangkrik. Dia pun memegang pedang jarumnya erat-erat dan kemudian dia berlari ke arah Jangkrik sambil mengarahkan ujung mata pisaunya ke arahnya.


"Bajingan kau..!" Teriak Rika.


Melihat ancaman dari Rika. Seluruh anak buahnya yang berada di dekatnya Jangkrik, mengeluarkan senjata mereka dan kemudian mereka berdiri di depan Jangkrik untuk melindungi nya.


Walaupun ada banyak sekali orang yang menghalangi nya, Rika tak menurunkan kecepatan nya. Dia malah menambahnya sampai membuat urat otot kaki dan tangannya kelihatan.


Awalnya aku kira Rika tidak akan bisa mengalahkan mereka semua. Tapi ternyata aku salah, Rika berhasil membunuh seluruh orang yang menghalangi jalannya tadi, dalam hitungan detik.


Semuanya penghalang sudah terbunuh dan sekarang tujuan nya adalah membunuh Jangkrik. Rika melesat cepat dan mengarahkan ujung pedangnya ke arah kepala Jangkrik.


Karena tidak ada yang menghalangi, Rika berhasil mencapai Jangkrik. Bahkan dia berhasil mengayunkan pedangnya dengan cepat, sampai membuat angin yang kuat di sekitar Jangkrik.


Tapi serangan Rika berhasil di tahan Jangkrik dan dia hanya menggunakan kedua jarinya saja, yaitu jari telunjuk dan jempol.


"Wah...sejuknya angin yang kau buat. Seperti kamu cocok deh jadi tukang kipas di organisasi kami." Jangkrik melepaskan pedangnya. Padahal pedang itu masih berada di depannya, tapi dia malah melepaskan mya begitu saja.


Karena merasa di remehkan, Rika semakin jengkel dan mencoba menyerangnya lagi. Kali ini dia menyerangnya lebih cepat dari sebelumnya. Dan seperti sebelumnya, ada angin yang berhembus kuat di sekitar Jangkrik. Tapi sepertinya serangan Rika tidak ada yang mengenai Jangkrik sama sekali.


Ketika di serang Rika, Jangkrik tidak merasa takut atau terancam sama sekali, dia malah menikmati angin yang di buat Rika.


Serangan Rika sudah berlangsung 20 detik, tapi masih tidak ada yang mengenainya. Lalu karena sudah bkosan, Jangkrik pun menahan pedangnya lagi dengan kedua jari dan kemudian berkata.


"Anginmu itu kurang kuat tahu. Biar ku tunjukkan angin yang kuat padamu dan mungkin saja ini bisa buat pelajaran buatmu nanti, ketika kau jadi tukang kipas di organisasi kami."


Jangkrik mengepalkan tangan kirinya dan kemudian serangga Phorcia mengerumuni tangannya sampai membuat tangannya membesar 2 kali lipat dari sebelumnya.


Rika tahu dia dalam bahaya. Jadi dia berniat menarik pedangnya yang di pegang Jangkrik. Tapi sayangnya genggaman Jangkrik terlalu kuat dan itu membuatnya tidak bisa menariknya kembali. Karena tidak bisa di tarik, dia pun berniat melepaskan pedang itu dan berlari menjauh dari Jangkrik. Namun lagi-lagi dia tidak bisa melarikan diri karena tiba-tiba tangan di genggam Jangkrik sangat kuat sampai membuat Rika menjerit kesakitan.


"Kamu jangan lari ya. Lihat lah dulu."


"Rika...!"


Aku yang merasa Rika dalam bahaya, berniat ingin membantunya. Aku berlari ke arahnya, tapi di tengah jalan, aku ditangkap oleh salah satu anak buahnya dan itu membuatku tidak bisa menolongnya.

__ADS_1


"Oke...ini dia."


Rika ketakutan, untuk terakhir kali dia melihat ke arahku dengan wajah ketakutan dan air mata mengalir dari matanya.


"JANGAN....!" Teriakku.


Jangkrik mengarahkan tinjunya ke perut Rika dan dalam sekejap, perut Rika langsung bolong dan seluruh organ perutnya terbang kemana mana.


Rika sudah terlihat lemas, dia masih berdiri, tapi itu karena Jangkrik masih memegang tangannya. Karena merasa Jijik, dia pun langsung menjatuhkan nya ketanah. Darah banyak mengalir dari perutnya ketika Rika terbaring di tanah.


Aku yang melihatnya terbunuh, semakin syok. Karena hal itu aku pun berteriak keras sambil mengeluarkan air mataku.


"AAAAAA.......!"


"Ah....aku suka suara ini. Suara orang putus asa dan ketakutan." Jangkrik tersenyum lebar.


Lalu dia pun berjalan ke arahku secara perlahan. Dan kemudian dia jongkok untuk menyetarakan wajah kami.


Saat itu aku tertunduk sambil menangis, tapi kemudian Jangkrik menjambak rambutku untuk membuatku melihat ke arahnya.


"Ah...ini dia. Ekspresi wajah inilah yang kuincar dari tadi. Padahal baru beberapa hari aku tidak melihat ekspresi wajah seperti ini, tapi aku sudah merasa kangen saja. Kalau tidak salah terakhir kali itu adalah anak kecil. Dia anak yang tangguh, tapi ketika ku bunuh orang tuanya dia langsung berekspresi seperti ini. memang sungguh menyenangkan membuat orang jadi putus asa seperti ini."


"Kenapa kau lakukan ini? Kenapa? Aku sudah memberimu yang kau inginkan, bukan? Tapi kenapa kau masih membunuh mereka semua?" Tanyaku sambil marah-marah padanya.


"Kau tanya kenapa? Hmm....kenapa ya?" Jangkrik berdiri dan mengkodekan anak buahnya untuk melepaskanku.


Setelah melepaskan ku. Jangkrik mengeluarkan pedangnya dan kemudian menusukku di bagian perut.


Aku tidak berteriak sama sekali. Aku hanya terdiam dengan mulutku yang menganga, melihat pedang yang menembus perutku.


Setelah menusuk perutku, dia mendekatkan bibirnya ke kupingku dan kemudian berbisik pelan di kupingku.


Setelah mengatakan itu dia mencabut pedangnya dari perutku dan kemudian dia berjalan menjauh. Sebelum pergi di menyuruh anak buahnya untuk membunuhku.


"Oke kalian semua, bunuh anak itu, tapi ingat...secara perlahan."


"Baik boss!"


Aku tidak bisa bergerak sama sekali, mungkin di pedangnya tadi terdapat sebuah racun yang membuat otot-otot ku lumpuh.


Karena aku sudah tidak bisa bergerak. Semua anak buahnya Jangkrik langsung mengerumuni ku dan bergantian untuk menusuk ku di bagian yang tidak vital, seperti kaki dan tangan.


Ketika di tusuki mereka, aku sama sekali tidak berteriak. Malahan aku hanya terdiam sambil memikirkan, apakah Vivi dan Kakek Bari masih hidup.


Saat ini aku tidak tahu, aku ini sedang bersedih, marah, putus asa atau senang. Aku merasa semua perasaan itu bercampur aduk, sampai membuatku tidak bisa membedakan nya.


Lalu disaat anak buahnya merasa sudah bosan karena aku tidak memiliki ekspresi sama sekali. Mereka pun berniat ingin membunuhku langsung.


Entah ini tradisi mereka atau apa, tapi yang berniat memenggal kepalaku tidak hanya 1, melainkan semua orang yang ada disitu. Mereka berniat memenggal kepalaku secara bersamaan.


Disaat semua sudah bersiap dan mereka sudah mengayunkan pedangnya tepat di leherku, tiba-tiba gerakan mereka terhenti. Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba berhenti.


Lalu aku melihat sekeliling ku dan ternyata tak hanya gerakan mereka yang terhenti, tapi semuanya.


Waktu telah berhenti dan aku tidak tahu kenapa. Disaat aku masih berpikir, Tiba-tiba ada suara yang terdengar di kepalaku.


"Apakah kau ingin membunuh mereka semua?" suara itu terlihat sangat berat dan menakutkan.

__ADS_1


Ketika suara aneh itu bertanya begitu, aku tanpa pikir panjang langsung menjawab.


"Ya."


"Apakah kau ingin membalaskan dendam teman-teman mu dan keluarga mu."


"Ya."


"Apakah kau ingin menyelamatkan lebih banyak orang?"


"Ya."


"Apakah kau ingin kekuatan?"


Ketika di pertanyaan itu aku terdiam sejenak dan pada akhirnya aku menjawab.


"Ya."


"Bagus. Kalau begitu, ketika waktu berjalan lagi, kau katakan lah ini..." Suara itu memelankan suaranya, tapi aku masih bisa mendengar nya.


Lalu aku pun hanya mengangguk.


"Bagus. Kalau begitu, bantai semua orang jahat itu, dan tunjukkanlah kekuatan mu sebenarnya."


Waktu pun berjalan kembali, anak buahnya yang ingin memenggal ku pun juga ikut bergerak dan siap memenggal kepalaku kapan saja. Namun sebelum pedang mereka mencapai leherku, aku berkata.


"Release Ashvinta."


Lalu kemudian ada gelombang yang cukup besar sampai membuat rumah Raj hancur tak tersisa. Semua orang yang ingin memenggalku tadi langsung terpental jauh. Jangkrik juga ikut terpental, tapi dia masih bisa mendarat dengan cantik di bantu dengan serangganya.


Semua yang berada di dalam dan sekitar rumah Raj berhamburan, dari senjata, perabot, mayat Raj, sampah besi dan juga sebuah tulang belulang.


Saat itu Jangkrik dan anak buahnya masih tidak tahu apa yang terjadi. Mereka masih linglung dan kebingungan satu sama lain.


"Apa yang terjadi?"


"Dari mana serangan itu?"


"Aku tidak bisa melihat apa-apa, disini terlalu banyak debu."


Disaat semua anak buahnya berisik, Jangkrik berteriak keras yang membuat semua anak buahnya terdiam.


"Diamlah..!"


Jangkrik melihat ke bekas rumahnya Raj. Dari kepulan debu yang menutupi pandangan, dia bisa melihat ada siluet seseorang yang sedang memegang sesuatu yang panjang.


Debu pun semakin lama semakin menghilang, dan setelah menghilang sepenuhnya, mereka akhirnya bisa melihat sosok yang tertutupi debu tadi. Orang itu tak lain adalah aku sendiri yang sedang memegang sebuah pedang panjang berwarna hitam, dengan cahaya berwarna merah di bagian tengan mata pisau pedang itu.


Bajuku saat itu masih banyak yang bolong, tapi lukaku semuanya sudah pulih. Aku melihat dari kejauhan dan disana aku bisa melihat semua orang jahat yang membunuh teman-temanku.


Aku menatap tajam ke mereka dan mengarahkan ujung pedang ku ke arah Jangkrik. Merasa di tantang, Jangkrik pun meresa jengkel dan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang anak itu secara bersamaan.


"Dasar, Cecunguk kecil! Ternyata kau masih menyimpan pedang yang keren ya. Hei...anak buahku yang payah, bunuh anak itu, bunuh dengan cara apapun!"


Anak buahnya pun tak punya pilihan lain, mereka pun menuruti nya dan langsung maju ke hadapanku. Disaat mereka menuju dengan lambat ke arahku, aku melihat ke bawah dan melihat sebuah ikat rambut.


Aku mengambilnya dan kemudian aku memakainya untuk mengikat rambutku yang panjang. Setelah itu aku bersiap-siap karena seluruh anak buahnya sudah berada sangat dekat denganku.

__ADS_1


"Matilah kalian disini." Aku memasang wajah marah dan kesal.


__ADS_2