
"Tidak papa, kamu memang harus langsung menikah, tetapi jangan asal memilih pasangan. Apalagi di kota seperti ini, banyak pria brengsek mereka hanya mau enaknya saja tanpa bertanggung jawab."
"Hahaha iya Arbani, salah satu pria brengsek itu kamu bukan, aku dengar kamu mempunyai banyak pacar," ucap Ayuma.
"Tidak ah, aku hanya punya satu pacar, sekarang juga sudah mau putus. Memang nya kamu tau dari mana kalau aku punya banyak pacar."
"Tidak sengaja dengar sih, kamu salah satu anak yang sering di bicarakan oleh siapapun," ucap Ayuma.
"Oh begitu, aku memang terkenal, ketampanan ku memang sangat di kagumi banyak orang, mereka semua hanya menyebarkan rumor rumor buruk tentang ku," kata Arbani.
"Iyalah, aku percaya.."
"Itu harus," ucap Arbani.
Setelah selesai makan mereka berdua mulai fokus belajar, walaupun sebenarnya Arbani sangat malas yang namanya belajar ia tetap berusaha untuk fokus, apalagi yang sedang mengajari nya sekarang guru cantik sang idaman.
"Nah itu pintar," ucap Ayuma.
"Ini materi kapan, kok mudah," tanya Arbani langsung.
"Ini materi yang kemarin, materi yang kamu pelajari sekarang akan sama dengan yang di sekolah, jadi saat kamu masuk sekolah kamu sudah tidak bingung," jawab Ayuma.
"Oh begitu, lagi lagi.. Aku penasaran," ucap Arbani.
"Bani kamus sebenarnya pintar, tapi kamu malas dan mudah tidak fokus, kalau kamu fokus saja dengan mudah kamu menyerap semuanya. Sekarang aku mempunyai peraturan baru, kita tidak tidak perlu belajar lama lama cukup 30 menit sampai 1 jam asalkan kamu fokus," kata Ayuma.
"Kamu memuji ku pintar," ucap Arbani sambil tersenyum. Ia benar-benar sangat malu dan senang mendapatkan pujian dari seperti itu.
"Kenapa kamu senyum senyum seperti itu," tanya Ayuma.
"Ini pertama kalinya ada yang memuji ku pintar, biasanya orang hanya mengatakan kenakalan ku, atau ketampanan ku. Sekarang aku mendapatkan pujian baru," jawab Arbani.
__ADS_1
"Begitu saja sangat senang, kalau senang di puji terus berbena, agar kamu terus mendapatkan pujian baik dari seseorang," ucap Ayuma.
Pukul 10 malam, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah, sebenarnya Arbani masih ingin di sini sampai tengah malam, apalagi ini malam minggu yang bisa sedikit lebih bebas, tetapi ia bukan membawa wanita biasa, sebelum wanita ini ilfil dengan nya lebih baik ia mengajak wanita ini pulang.
"Kamu tidak bertemu dengan pacar kamu, ini kan malam minggu," ucap Ayuma.
"Aku sedang tidak dalam hubungan yang baik dengan nya, jadi sekarang break dulu," kata Arbani berbohong, ia malah memblokir nomor putri agar tidak menganggu nya.
"Ayu.. Setelah selesai menjadi guru les ku, kita masih bisa berteman kan," tanya Arbani.
"Hahaha iya bisa lah, senang berteman dengan mu. Usia kita tidak berbeda jauh, jadi tidak akan canggung jika berteman," jawab Ayuma.
"Aku yakin bisa lebih, kamu sudah mulai menerima keberadaan ku," batin Arbani.
Mereka telah sampai di depan gang kontrakan Ayuma, keduanya pun turun dari dalam mobil. Arbani berniat mengantarkan Ayuma sampai ke depan pintu rumah, tidak enak jika ia biarkan Ayuma berjalan sendiri menuju kontrakannya.
"Aku bisa sendiri, kamu tidak perlu mengantarkan ku," ucap Arbani.
"Aku harus memastikan kamu aman sampai depan rumah, aku tidak mau terjadi hal yang tidak tidak pada mu," kata Arbani.
"Besok kita tidak belajar dulu, sampai jumpa di hari senin," ujar Arbani.
Ayuma membalik tubuh nya dan menganggukkan kepala nya, ia mengikuti saja apa yang Arbani katakan.
Sesampainya di rumah Ayuma langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur, baru beberapa hari bersama dengan Arbani sudah membuat Ayuma mulai merasa nyaman. Ayuma sadar akan hal itu, apalagi Arbani terlihat sangat effort untuk membuat nya nyaman.
"Jangan sampai aku suka dengan nya, tidak ada hal yang membuat ku tidak suka dengan nya, dia terlalu sempurna.. Dia juga tidak nakal saat bersama dengan ku, Ayuma kau pasti bisa menjaga perasaan mu," ucap Ayuma sambil memejamkan kedua matanya.
Arbani juga kembali pulang ke rumah nya, ia tidak berniat kemana-mana. Pacar nya hanya tinggal satu dan sekarang sedang bertengkar karena ia blokir. Biasanya malam minggu seperti ini ia menemui beberapa pacar nya hanya untuk sekedar meminta jatah. Jatah dalam arti kenakalan remaja yang biasa terjadi di perkotaan.
"Hey.."
__ADS_1
"Kau ya.." Arbani terkejut dengan adanya Ryan di dalam kamarnya.
"Kenapa dengan mu? Kau terlihat tidak semangat, bukannya kau baru bertemu dengan guru itu."
"Iya aku senang setelah bertemu dengan nya, aku sangat puas beberapa hari ini terus bersama dengan nya, tapi dia masih bukan siapa siapa ku. Aku ingin nya saat bersama dengan nya, aku ingin memeluk nya, menciumnya dan bermesraan dengan nya, bukan hanya belajar terus," kata Arbani.
"Kau kan masih ada pacar, lakukan saja dengan pacar mu sekarang," ucap Ryan.
"Sudah bosan, tidak ada yang menantang," kata Arbani.
"Awas langsung menjadi ayah.."
"Hey aku tidak sejauh itu, kau gila. Mana mungkin aku berani seperti itu," ucap Arbani.
Arbani merebahkan dirinya di atas kasur, ia selalu berharap hubungan nya dengan Ayuma bisa selangka lebih maju.
"Calon pacar ku itu mempunyai ruangan khusus?"
"Tidak.. Gabung dengan guru yang lainnya," ucap Ryan.
"Ahh aku tidak bisa mendekatinya saat di sekolah," kata Arbani.
"Hahaha kau bar bar sekali."
"Dia benar-benar berbeda, aku akan mendapatkan nya. Setelah lulus SMA aku akan menikahinya," ucap Arbani.
"Seriuss? Kau gila, mau kau kasih makan apa dia," ujar Ryan.
"Hahaha aku kaya raya Ryan, aku bisa kuliah sambil bekerja di perusahaan ayah ku," ucap Arbani.
"Tapi dia janda Arbani, kau serius ingin menikah dengan janda," tanya Ryan.
__ADS_1
"Janda hanya statusnya saja Ryan, dia tetap wanita. Aku tidak masalah, aku cinta mati padanya," jawab Arbani.
Ryan hanya menggelengkan kepalanya, teman nya ini memang sudah gila sekali. Ia sendiri tidak akan mau menikah dengan janda, walaupun cantik seperti Ayuma. Ryan lebih memilih menikah dengan wanita seumuran nya, Ayuma terlalu tua untuk dirinya. Berbeda dengan Arbani, yang memang suka wanita yang lebih tua, ia merasa akan belajar banyak dengan wanita yang lebih tua.