MENCINTAI GURU KU

MENCINTAI GURU KU
Bab 4 S2


__ADS_3

"Hujan tidak bisa kemana mana," ucap Arbani yang sedang berada di balkon kamar.


"Sayang sini, kita nonton," ujar Ayuma.


"Tidak mood, aku ingin ke bawa sana, malah hujan deras," ucap Arbani.


Ayuma berjalan mendekati Arbani, menikah dengan anak di bawah umur memang harus memiliki kesabaran setebal domba keluarga Arbani.


"Sayang," ucap Ayuma.


"Iya baby." Arbani menarik Ayuma dan memeluk nya dengan erat.


"Kalua hujan hujan begini enaknya ngapain," tanya Arbani.


"Makan terus nonton, sambil rebahan di tempat tidur," jawab Ayuma, sebenarnya ia tau apa yang Arbani maksud.


"Kamu okey? Tidak sedang dalam masalah," tanya Arbani.


"Aku sangat okey, tidak ada masalah sama sekali, yang ada masalah mah kamu," ucap Ayuma.


Arbani tertawa mendengar ucapan Ayuma, ia selalu siap tempur. Pria tidak pernah ada masalah, berbeda dengan wanita yang mempunyai tanggal merah.


Arbani menggendong Ayuma masuk ke dalam kamar, ia meletakkan secara perlahan istri nya ke atas tempat tidur.


Serial tv yang Ayuma hidupkan masih berjalan, Arbani berpikir agar suasana lebih baik setidaknya mereka menonton serial itu dulu.


"Film apa itu," tanya Arbani.


"Kepo kamu, tinggal tonton aja kok," jawab Ayuma.


"Idih begitu amat jawabnya. Ini suami kamu loh, ya walaupun aku anak murid kamu sebelum nya," kata Arbani.


"Sayang bagaimana pendapat kamu setelah menikah dengan aku. Kita sudah hidup satu minggu lebih bersama sama."


"Menikah dengan Ayuma, ya sedikit banyak nya sesuai dengan harapan ku. Aku bahagia sekali, kamu tidak ada bedanya saat kita masih pacaran. Entah kamu masih menyembunyikan sikap asli kamu, atau memang kamu ya seperti ini apa adanya. Aku sangat bahagia menikah dengan sosok yang aku cintai, aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya, saat aku lelah pulang bekerja, aku menjadi lebih bersemangat setelah melihat kamu," ucap Arbani.


"Ahh sayang, semakin sayang kamu.."


"Kalau kamu bagaimana? Apa kamu merasa berbeda setelah menikah dengan aku?" Arbani menaikan dahi nya.


"Hahaha dahi kamu kenapa? Kamu berharap aku mengatakan kamu sempurna," ucap Ayuma..


"Heheheh tapi memang aku begitu sempurna."


"Hmmm setelah menikah dengan kamu, aku merasa ada yang berbeda sih dengan kamu. Kamu jauh lebih manja dan moodyan. Tapi satu hal yang membuat aku kagum dengan kamu, walaupun kamu lebih muda dari aku, kamu bisa menjadi sosok suami yang dewasa dan tegas pada istri nya. Intinya mau bagaimana pun kamu sekarang, itu tidak membuat ku menyesal menikah dengan kamu. Karena kamu pilihan terbaik ku," ucap Ayuma.

__ADS_1


"Ahh sayang, jadi semakin mencintai kamu," ucap Arbani.


"Hahhaa kamu mah begitu," kata Ayuma.


"Iya memang aku begitu sayang, mau bagaimana lagi," ucap Arbani.


"Mau jatah," tanya Ayuma.


"Mau tapi kamu di atas ya," jawab Arbani.


"Bagaimana cara nya, aku tidak pernah sayang," kata Ayuma.


"Hahaha ya aku juga tidak pernah, kalau tidak di coba kamu mana tau," ucap Arbani.


"Butuh referensi," kata Ayuma.


"Yakin," tanya Arbani.


"Tidak, belajar bersama sama lebih baik," jawab Ayuma sambil tertawa, ia tidak akan mau di ajak menonton film seperti itu oleh Arbani, ia benar benar sangat malu sekali melihat hal seperti itu. Membayangkan dirinya sendiri saja sudah membuat nya malu sendiri.


Arbani membuka pakaian sendiri tanpa tersisa, ia tidak melakukan apa apa yang membuat Ayuma bingung. Biasanya ia langsung menyerang Ayuma seperti kucing yang sedang kehausan.


"Sayang kamu kenapa," tanya Ayuma.


"Kenapa bagaimana?"


"Ada yang salah? aku sudah tidak memakai apa apa?"


"Ih lucu kali," ucap Ayuma.


"Apa yang lucu," tanya Arbani.


"Itu si kecil," jawab Ayuma.


"Itu si kecil bisa jadi besar. 3 sampai 4 kali dari ukuran normal," ucap Arbani.


Saat sedang asik asiknya menggoda Ayuma, handphone Arbani berbunyi hal itu membuat Arbani begitu kesal.


"Kamu buat dia bangun. Aku mau angkat telepon," ucap Arbani.


Arbani mengarahkan tangan Ayuma ke arah si kecil, sedangkan satu tangan lainnya mengambil handphone dan langsung mengangkat nya.


"Ada apa sih," tanya Arbani.


"Minggu ini kau mau ke New York," tanya Ryan.

__ADS_1


"Ahhh iya.. Ada apa??"


"Eh kau kenapa," tanya Ryan.


"Semut, aku memang mau ke New York, paling satu dua minggu."


Mata Ayuma melotot dengan besar melihat si kecil berubah menjadi si besar, ukurannya sudah mendekati sempurna, padahal ia hanya menoel noel nya. Ayuma sadar kenapa saat baru pertama kali melakukan nya begitu sakit sekali, ternyata memang ukurannya yang tidak biasa.


"Sayang," ucap Arbani.


"Sayang apaan, kau sedang apa? Aku sedang menjelaskan hal yang penting pada mu," kata Ryan.


Arbani meletakkan Handphone nya ke atas meja, ia tidak bisa menahannya lagi karena Ayuma tidaknya melakukan apa apa, hanya menoel noel miliknya


Satu persatu pakaian yang Ayuma pakai lepas dari tempat nya, Arbani bergerak dengan begitu cepat sekali sampai Ayuma tidak bisa menandingi nya.


Dari atas sampai ke bawah, semuanya tidak luput dari serangan dahsyat Arbani. Suara suara khas percintaan mulai terdengar dengan begitu jelasnya.


"Aku mulia ya," ucap Ayuma dengan posisi di atas tubuh sang istri.


"Akun sedang masa sunur, jangan lupa gunakan pengaman," kata Ayuma.


"Aku tidak bawa," ucap Arbani. Ia lupa membawa benda penting itu.


"Sayang kamu bagaimana sih." Ayuma tampak kesal.


"Aku tidak akan keluar di dalam, kamu jangan khawatir. Ini sudah tanggung untuk tidak melanjutkan nya."


Walaupun Ayuma cukup ragu, ia tidak bisa apa apa. Ia memejamkan mata nya saat benda untuk mulai menerobos masuk ke dalam, rasanya cukup berbeda dari biasanya karena kali ini tidak ada yang membatasi kulit mereka berdua.


"Jangan jangan jangan dalam, sakit sakit," ucap Ayuma.


Ia masih saja merasakan sakit saat Arbani menusuk nya begitu dalam, padahal ini bukan yang pertama kalinya untuk nya.


Sambungan telepon Arbani dengan Ryan belum terputus, Ryan menelan ludah nya dengan kasar. Ia mendengar semuanya dengan jelas, rasanya begitu aneh sekali, tetapi Ryan masih tetap mendengar kan nya. Ia menggunakan headset agar terdengar lebih jelas lagi.


"Dasar ceroboh, bisa bisanya di tidak mematikan sambungan telepon itu," ucap Ryan dalam hati.


Arbani sadar Handphone nya masih hidup, ia merasa sangat bodoh tidak mematikan sambungan telepon itu. Tanpa melepaskan penyatuan nya dengan sang istri Arbani mengambil Handphone itu.


"Oh kau minta aku bunuh ya," ucap Arbani.


Ayuma sendiri heran kenapa Arbani masih menghubungi seseorang saat sedang begini, ia sampai Menutup mulut nya agar suaranya tidak terdengar.


Arbani membalik tubuh sang istri, Ayuma yang di balik secara tiba-tiba berteriak dengan cukup kencang, ia terkejut karena ini untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


"Arbani kau apakan istri mu."


"Kepo kau.. Sudah kan, tidak ada lagi yang penting, kau langsung ke rumah ku saja, nanti kita berangkat bersama," ucap Arbani.


__ADS_2