MENCINTAI GURU KU

MENCINTAI GURU KU
Bab 14


__ADS_3

"Arbani.." Ayuma cukup terkejutnya mendengar apa yang Arbani katakan.


"Hahaha bercanda, kamu jangan serius serius, kalau dengan ku jangan di anggap terlalu serius," ucap Arbani.


"Ya bagaimana tidak serius, kamu saja seperti ini," kata Ayuma.


"Seperti apa?"


"Tidak ada." Ayuma melanjutkan kegiatan makannya.


Bibir Arbani tersenyum melihat Ayuma yang seperti salah tingkah, ia mengerti kenapa Ayuma seperti ini. Jarang sekali wanita tidak salah tingkah saat sedang bersama dengan nya, sudah pasti parah wanita akan seperti itu.


"Kenapa kamu tersenyum," tanya Ayuma.


"Tidak papa, hanya sedikit tersenyum apa salahnya," jawab Arbani.


"Salah, kamu seperti orang gila."


Arbani menaikan satu alisnya. "Ada orang gila tampan seperti diri ku?"


Ayuma memajukan kepalanya. "Ada, yaitu kamu." Bibir Ayuma tepat di depan wajah Arbani.


Arbani benar-benar gemas dengan bibir itu, ingin sekali ia langsung ingin melahap nya.


"Ayu ternyata kamu janda yang sangat cantik," ucap Arbani.


"Hahaha ya sudah pasti aku sangat cantik, kamu saja yang baru sadar." Ayuma menjulurkan lidahnya.


"Ya aku sudah sadar sejak pertama kali melihat mu, tapi tidak mungkin kana aku langsung mengatakan nya, bisa langsung marah kamu pada ku."


"Oh jadi sekarang sudah berani," tanya Ayuma.


"Ya sudah lah, kamu sudah tidak kaku lagi pada ku," jawab Arbani.


"Hahaha kalau aku kaku pada mu, kita tidak akan bisa bekerja sama dengan baik, aku harus mengajari mu agar kamu semakin pintar. Dan ternyata kamu asik juga ya."


Arbani menatap tajam mata Ayuma, ia ingin melihat apakah dirinya sudah masuk ke dalam mata itu atau belum. Seseorang yang sudah nyaman akan sesuatu dapat di lihat dari sorot matanya.

__ADS_1


"Arbani." Ayuma cukup takut dengan tatapan itu.


"Ada yang ingin aku katakan," ucap Arbani.


"Katakan saja, tapi jangan menatap ku seperti itu," kata Ayuma.


"Jangan marah ya. Aku jujur saja deh, aku ingat mendekati mu," ucap Arbani dengan serius.


"Ha!!"


"Aku serius, jangan marah.." Wajah Arbani mulai terlihat panik.


Mimik wajah Ayuma langsung berubah seketika, ia bingung dan juga terkejut. Tetapi setelah mengingat apa saja yang Arbani lakukan, Ayuma baru sadar jika sejak awal anak ini memang memiliki pandangan berbeda pada dirinya.


"Hey…"


"Aku bingung," ucap Ayuma.


"Kalau kamu tidak mau aku dekati aku tidak masalah, aku akan menjaga jarak," kata Arbani.


"Aku tidak bisa menjawab iya atau tidak, kita jalani saja ya. Ya kalau kamu ingin mendekati aku, aku tidak melarangmu atau memberikanmu izin. Kita seperti biasanya saja," ucap Ayuma.


"Biasanya kamu tidak marah saat aku memberikan perhatian lebih, artinya itu sama saja kamu memberikan izin. Makasih, aku sangat senang sekali," kata Arbani.


Ayuma tidak bisa berkata apa apa lagi, ia takut salah berkata yang membuat Arbani menjauhinya. Sekarang ia harus tetap dekat dengan Arbani agar ia dapat memberikan Arbani materi dengan mudah. Tetapi di lubuk hati Ayuma yang paling dalam, ia seperti ikhlas Arbani mendekati nya.


"Jangan kamu pikirkan, aku tidak akan berlebihan kok," ucap Arbani.


"Iya.."


Sore harinya, setelah jam pelajaran selesai, Arbani langsung ke ruangan Ayuma, ia ingin bertanya dimana mereka berdua akan belajar.


"Arbani kamu tau besok libur," ucap Ayuma.


"Ha?"


"Iya besok libur dua hari, nanti malam diberikan pengumuman," ucap Ayuma.

__ADS_1


"Ya libur sekolah," kata Arbani.


"Ha kamu tidak suka," tanya Ayuma.


"Hahaha bukan nya tidak suka, aku ingin tetap sekolah agar bisa bertemu dengan mu setiap hari," ucap Arbani.


"Kamu benar benar ya.."


"Hahaha aku bercanda, tapi kalau serius tidak masalah kan." Arbani mengedipkan satu matanya.


"Sudah, sekarang kamu kau belajar di mana?"


"Karena besok libur aku mempunyai ide," ucap Arbani.


"Apaan? Jangan yang macem macem."


"Malam ini kita ke puncak yuk, di sana aku ada Vila, tenang jangan takut di sana ada orang yang menjaga Vila, kita tidak berduaan," ucap Arbani.


"Hmmm boleh, aku tidak tau bagaimana puncak, sepertinya seru."


"Ya sudah, aku ingin langsung pulang. Bawa pakaian tebal dan hangat, di sana sangat dingin sekali," ucap Arbani.


"Iya.."


Setelah Mengorbrol mereka berdua langsung pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah Arbani ingin kangsar menyiapkan pakaian nya, ia sudah tidak sabar untuk berduan dengan Ayuma, walaupun ada penjaga Vila tidak mungkin penjaga itu menganggu momentnya dengan Ayuma.


"Arbani sebentar."


"Apa lagi yah." Arbani menghentikan langkah kalinya.


"Ayah ingin mengatakan sesuatu pada mu," ucap Wijaya.


"Katakan lah."


"Setelah lulus SMA, kamu akan lanjut di New York," ucap Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2