
Malam hari nya, Arbani mulai belajar bersama dengan Ayuma, ia benar benar payah dalam belajar matematika. Sudah berbagai macam cara Ayuma lakukan agar Arbani mengerti dengan materi yang ia berikan, tetapi Arbani tetap tida mengerti.
"Kita berhenti dulu ya, jangan di paksa," ucap Ayuma.
"Aku sangat pusing buk," ujar Arbani dengan wajah lelahnya, beru satu jam setengah mereka belajar tetapi Arbani sudah seperti ini.
Ayuma jadi tidak heran jika Arbani tidak ingin sekolah, Arbani saja sangat sulit menangkap apa yang ia berikan.
"Kamu belajar dengan ikhlas, jangan dengan terpaksa," ucap Ayuma.
"Aku sudah belajar dengan ikhlas buk, memang sangat sulit."
"Ya sudah sekarang kita istirahat dulu, kamu bisa minta semangat dengan pacar kamu," ucap Ayuma.
"Tidak ada pacar."
"Tidak mungkin kamu tidak ada pacar," ucap Ayuma.
"Memang tidak ada pacar, kemarin sudah putus. Ada yang ganggu," kata Arbani.
"Saya?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mengatakan orang itu ibu," ucap Arbani.
"Arbani kamu jangan kelewatan kalau berpacaran, kamu mau masuk ke dalam pergaulan bebas," tanya Ayuma.
"Ya sudah masuk, mau bagaimana lagi."
"Ibu bagaimana pandangan ibu, kalau berpacaran dengan wanita yang lebih tua," tanya Arbani.
"Menurut saya, kamu memang lebih baik berpacaran dengan wanita yang lebih tua, mana tau kamu bisa menjadi lebih baik," jawab Ayuma.
"Setelah SMA aku ingin menikah," ucap Arbani.
"Hehehe setelah menikah kan juga masih bisa menggapai cita-cita ku, ayah ku saja memiliki dua istri, aku penasaran apa yang membuat ayah menikahi 2 wanita," ucap Arbani.
"Terus kalau penasaran kamu ingin mencoba nya, jangan dong Arbani.. Kamu itu memiliki peluang yang besar, jangan terjerumus hal hal seperti itu," kata Ayuma.
Arbani tersenyum mendengarkan apa yang Ayuma katakan, ia tidak pernah dikhawatirkan seperti ini pada orang tuanya, mereka hanya fokus dengan pendidikan nya tanpa memikirkan perasaan nya seperti yang Ayuma katakan sekarang.
"Aku membutuhkan wanita seperti kamu, aku tidak menemukan kekhawatiran mu pada orang tua ku, mereka hanya khawatir dengan pendidikan ku karena aku yang akan meneruskan bisnis mereka," ucap Arbani.
"Wah berat ini ya, memang rata rata masalah keluarga kaya raya pasti seperti ini," kata Ayuma.
__ADS_1
Arbani beranjak dari tempat duduknya, tangannya bergerak mengambil kunci motor di dalam laci. Arbani berencana membawa Ayuma makan malam di depan komplek perumahan nya.
"Ayo makan, aku lapar," ucap Arbani.
"Hmmm sekalian ibu pulang," kata Ayuma.
"Ibu, bisa tidak kalau sedang berdua jangan terlalu kaku, bisa kita panggil aku kamu saja, usia kita tidak jauh berbeda," ucap Arbani.
"Iya boleh.." Agar lebih dekat lagi dengan Arbani, Ayuma tidak masalah seperti ini, lagi pula mereka juga sedang berdua dan tidak dalam lingkungan sekolah.
Mereka berdua pun turun dari lantai atas, agar Ayuma bisa ikut dengan nya, Arbani sudah merencanakan sesuatu hal. Ia yakin mau tidak mau, Ayuma naik ke boncengan nya, Arbani sudah tidak sabar membonceng guru cantik ini.
Saat di depan rumah Arbani, mata Ayuma langsung salah fokus dengan kedua ban motor nya, keduanya sudah bocor tidak berbentuk lagi.
"Ya kok bisa bocor," ucap Ayuma.
"Mungkin terkena paku, aku juga sering terkena paku, biasa ulah orang tidak bertanggung jawab," ujar Arbani.
"Lalu bagaimana aku pulang nya," ucap Ayuma.
"Satu motor dengan ku, aku akan mengantarkan mu pulang," ujar Arbani sambil tersenyum manis.
__ADS_1