
"Ayah.."
"Kenapa sayang, ini yang terbak untuk mu, kamu harus mewarisi semua hal yang ayah punya dan untuk mendapatkan semua itu tidak lah mudah," ucap Wijaya.
"Ayah aku tidak mau, aku mau di sini saja. Aku pasti bisa mewarisi semuanya ayah."
"Tidak sayang, tidak semudah yang kamu pikirkan, kamu harus mengikuti apa yang sudah ayah siapkan. Sekarang kamu masih ayah beri kebebasan, tetapi setelah sma nanti jangan harap," ucap Wijaya.
Dengan perasaan yang kesal Arbani berjalan pergi meninggalkan sang ayah, ia benar-benar tidak tau apa yang ayahnya pikirkan. Wijaya tidak pernah membuatnya senang.
Pukul 7 malam, Arbani langsung pergi meninggalkan rumah untuk menjemput Ayuma, ia sudah siap untuk pergi bersama dengan Ayuma ke vila di puncak.
Sebelum Arbani sampai Ayuma sudah menunggu Arbani di depan gang rumah nya, ia tidak ingin membuat Arbani repot rezeki menjemput nya ke rumah nya.
"Sayang," ucap Arbani.
"Arbani.." Ayuma memberikan tatapan tajam pada pria itu.
"Hahaha aku bercanda," ucap Arbani.
"Kamu sudah menunggu ku Ayuma, kamu pasti sudah tidak sabar pergi bersama dengan ku," kata Arbani.
Tanpa mengatakan apapun Ayuma masuk ke dalam mobil itu.
"Susah ayo berangkat," ucap Ayuma.
"Kenapa kamu menunggu ku di sini," tanya Arbani.
__ADS_1
"Aku malas merepotkan mu," jawab Ayuma.
"Jangan berpikir seperti itu, aku tidak pernah berasa kamu repotkan."
"Iya iya, sudah ayo jalan," ucap Ayuma.
Perjalanan dari tempat mereka berada menuju Vila yang Arbani katakan memakan waktu cukup lama. Sekitar 2 jam lamanya, untuk mereka Ayuma sudah cukup jauh, sedangkan Arbani masih biasa saja, ia sudah sering ke vila nya bersama dengan Ryan.
"Aku belum makan, kita makan dulu bagaimana," tanya Arbani.
"Makan bakso ya, sudah malam begini enak makan yang hangat hangat," ucap Ayuma.
"Ya sudah, nanti kalau sudah menemukan tukang bakso, kita juga akan mencari jajanan untuk mengisi kulkas di Vila."
Tak lama mereka menemukan akang tukang bakso yang sedang mangkal di depan minimarket, segera Arbani membelokan mobil nya.
"Tidak dong, apa masalah nya," jawab Arbani.
"Nanti perut kamu sakit loh," kata Ayuma.
"Hahaha tidak lah, aku sudah biasa kok."
"Ya sudah ayo turun."
Mereka berdua pun turun dari dalam mobil, Arbani meminta Ayuma untuk Memasankan dirinya juga.
"Kamu mau apa," tanya Ayuma.
__ADS_1
"Bakso, tapi tidak pakai mie, dua porsi jadi satu," jawab Arbani.
"Dasar kamu ya."
Ayuma pun memesan apa yang Arbani katakan, setelah itu mereka berdua duduk tak jauh dari mobil.
"Mobil ku terlihat mahal ya," ucap Arbani.
"Memang mahal, bukan terlihat lagi," kata Ayuma.
"Hahaha iya.."
"Hmmm aku ingin meminta saran dari mu," ucap Arbani yang berubah menjadi serius seketika.
"Saran apa," tanya Ayuma.
"Setelah SMA aku akan lanjut di new York, ayah ku sudah menyiapkan semuanya. Akun tidak kau ke sana, aku tidak suka tinggal di luar negeri."
"Arbani apa yang membuat mu tidak mau ke saja? Kamu kan bisa mendapatkan banyak pengalaman," kata Ayuma.
"Aku takut gagal, aku tidak pintar," ucap Arbani.
"Hahaha tidak akan gagal, aku yakin kamu pasti bisa kok," kata Ayuma.
"Kamu benar benar percaya aku bisa?"
"Ya aku sangat percaya, kamu pasti akan sukses, aku yakin itu. Kalau sudah sukses kamu jangan melupakan aku ya," ucap Ayuma.
__ADS_1