
"Kamu meremehkan benih ku ini," ucap Arbani.
"Hahaha tidak sayang, mana mungkin aku meremehkan benihmu," kata Ayuma.
Arbani langsung memeluk istrinya dengan erat, rasa rindu dan kangen nya pada Ayuma tidak pernah hilang. Kemungkinan karena mereka berpisah terlalu lama, dan terlalu banyak masalah yang terjadi pada mereka berdua.
"Sayang," ucap Arbani
"Iya ada apa?"
"Kalau misalnya aku hamil, aku mau tinggal dengan kamu di New York."
"Ya sudah tidak apa-apa, kalau kamu mau aku tidak masalah, tapi kamu harus ingat di sini kamu mempunyai bisnis yang besar, apakah kamu rela meninggalkan bisnis ini," ucap Arbani.
"Iya sih, aku tidak akan rela meninggalkan bisnis ini, rasanya sangat disayangkan sekali bisnis besar ini aku tinggalkan. Ya walaupun aku menemukan pria yang tepat untuk mengolah nya. Tetap saja aku tidak bisa," kata Ayuma.
"Aku janji, aku akan lebih sering pulang ke rumah, tidak mungkin juga kan kamu hamil aku pergi meninggalkan kamu begitu saja," ucap Arbani.
"Hehehe iya sayang.." Ayuma memberikan banyak kecupan di wajah suaminya.
"Sayang jatah," ucap Arbani.
"Tidak boleh sayang, aku kan sedang hamil," kata Ayuma.
__ADS_1
"Hamil bagaimana, kan hanya perkiraan ku saja. Aku janji akan keluar diluar," ucap Arbani.
"Jangan sayang, ini sangat beresiko." Ayuma memberikan senyuman jahilnya.
Saat sedang bercanda dengan istri nya, Arbani mendapatkan panggilan dari Ryan, ia begitu kesal dengan panggilan itu.
"Halo ada apa," tanya Arbani.
"Aku sedang di depan rumah mu, bukalah aku mau masuk."
"Lah sejak kapan kau ada di sini," tanya Arbani.
"Sejak tadi, aku ada masanya dengan keluarga ku, cepat buka pintu rumah mu," jawab Ryan.
"Ya sudah, tunggu sejenak aku keluar." Arbani mematikan sambungan telepon itu.
"Ada Ryan di depan, katanya dia sedang ada masalah, aku keluar dulu." Arbani beranjak dari tempat tidurnya.
Ia pun langsung turun ke bawah untuk membukakan pintu rumah nya.
"Masuk," ucap Arbani.
Mereka berdua duduk bersama di ruang makan, Arbani belum bertanya masalah apa yang terjadi pada Ryan, ia masih memberikan Ryan waktu untuk Ryan berpikir dengan baik.
__ADS_1
"Kau tau Bani, tiba-tiba ayah ku menarik ku kembali ke Indonesia," ucap Ryan dengan suara yang emosi.
"Kok bisa? Kenapa begitu," tanya Arbani.
"Bisnisnya di Melbourne bangkrut, dia memindahkan perusahaannya ke Jakarta, padahal aku tetap bisa Kuliah di sana walaupun dia pindah ke Jakarta."
"Kalau masalah begitu aku tidak tau harus memberikan pendapat apa. Aku berharap tidak ada masalah ya lebih besar lagi," ucap Arbani.
"Aku tau kau tidak akan bisa memberikan ku pendapat, aku hanya stress saja, aku butuh tempat untuk bercerita," kata Ryan.
"Kau punya pacar disana?"
"Apa mungkin pria setampan aku jomblo," ucap Ryan.
"Hahaha itu pasti yang membuat mu tidak ikhlas kembali ke sini."
"Malam tahun baru dia akan memberikan virgin nya pada ku, apa mungkin aku menolaknya, sudah pasti aku ingin. Aku diberikan, mana mungkin aku buang sia sia," kata Ryan.
"Lah memang nya masih ada yang virgin," tanya Arbani.
"Ada tapi tidak banyak, kau tau lah bagaimana gaya pacaran orang sana, kalau tidak di ranjang bukan pacaran namanya," jawab Ryan.
"Sama saja seperti di tempat ku, malahan banyak yang ngajak aku tidur."
__ADS_1
"Terus kau mau," tanya Ryan.
"Kalau tidak karena memikirkan istri ku sudah pasti aku mau," jawab Arbani.