MENCINTAI GURU KU

MENCINTAI GURU KU
Bab 5 S2


__ADS_3

Masa liburan di Bali mereka habiskan dengan bersenang-senang, dari main di pantai, belanja di mall sampai dengan melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Arbani dan ayuma menciptakan momen terbaik yang akan mereka kenang saat berpisah nanti.


Setelah kurang lebih tiga hari berada di Bali dengan berat hati mereka berdua kembali ke Jakarta. Malam nanti arbani akan berangkat ke New york, untuk mengurus beberapa hal sebelum ia mulai kuliah di sana. Dalam perjalanan pulang keduanya tampak tidak banyak berbicara, mereka berdua sepertinya memikirkan hal yang sama. Keduanya belum ingin berpisah karena memang mereka baru dua minggu bersama. Tetapi mau bagaimana lagi, sudah waktunya untuk mereka berpisah.


Sesampainya di rumah Arbani melihat-lihat lagi perlengkapan yang akan ia bawa nanti malam, sore ini ia ingin istirahat sejenak di rumah bersama dengan sang istri. Jujur sekarang tubuhnya masih merasa lelah, di Bali kemarin ia terlalu banyak menghabiskan hari untuk jalan-jalan, sekarang ia baru merasakan lelah yang cukup berkepanjangan.


"Kata kamu Ryan juga inginkan New York? Bukannya dia akan ke Melbourne?"


"Seharusnya memang dia ke Melbourne, tapi karena ada beberapa hal yang ingin dia urus di New York. Jadinya dia akan New York dulu setelah beberapa hari baru dia akan terbang langsung ke Melbourne." Jelas Arbani.


Ayuma mengusap wajah Arbani, ia menatapnya sambil berpikir mungkin ini akan yang terakhir kalinya selama beberapa minggu ke depan. Entah kenapa rasanya berat sekali melepaskan Arbani pergi, padahal sebelumnya ia sudah benar-benar ikhlas Arbani menempuh pendidikannya di New York.


"Jangan memasang wajah seperti itu, kamu membuatku sulit untuk pergi. Ingat aku hanya 1 sampai 2 minggu, setelah itu aku akan kembali atau kamu yang menyusul ke sana," ucap Arbani.


"Aku yang akan masuk ke sana deh, tapi aku tidak berani naik pesawat lama-lama. Kamu saja deh yang pulang ke sini. Kan kata ayah kemarin waktunya masih ada satu bulan. Ngapain juga aku di sana satu bulan namanya," kata Ayuma.


"Oh iya sayang, aku ingin membuka toko kue. Sebelum kamu melarangnya dan marah aku jelaskan dulu ya, selama kamu pergi pasti aku tidak akan mengerjakan banyak hal. Aku tidak menunggumu pulang bekerja, aku tidak memasak untuk mu, aku tidak menyiapkan pakaianmu, hari-hariku akan terasa sangat bosan. Aku mempunyai tabungan yang cukup banyak, kalau disimpan saja tidak akan bertambah malah akan berkurang, aku ingin membuka toko kue sebagai pengisi hari-hariku yang membosankan. Bagaimana kamu setuju atau tidak?"


Arbani mengganggukkan kepalanya, sepertinya apa yang ayuma katakan itu cukup masuk akal. Dia juga tidak ingin Ayuma merasa bosan di rumah, ia sudah melarang Ayuma untuk bekerja, tidak mungkin juga ia melarang Ayuma buka usaha seperti ini. Ia sangat tahu sang istri sangat pandai membuat berbagai macam makanan termasuk kue-kuean. Dan sepertinya ini peluang yang bagus untuk Ayuma.

__ADS_1


"Oke aku setuju, jika uang kamu kurang katakan padaku. Sepertinya itu memang cara yang bagus untuk mengisi waktu kartu kamu yang membosankan. Kamu juga sangat pintar membuat berbagai macam makanan yang enak, termasuk berbagai macam kue. Aku yakin toko kue itu akan sangat laris."


Ayuma langsung memeluk arbani dengan erat. Ia sangat suka jika arbani berpikir seperti itu, terkadang memang sebelum berpisah sering terjadi momen-momen bahagia seperti ini.


"Tapi sayang satu hal yang harus kamu tahu, kamu tidak boleh kelelahan, kamu harus tetap menjaga diri kamu dengan baik. Peraturan dariku pertama berangkat tidak kurang dari jam 08.00 pagi dan pulang dari jam 05.00 sore, kedua tidak boleh keluar malam dengan alasan apapun kecuali kalau kamu sakit, ketiga tidak ada karyawan pria di sana kecuali satpam dan supir. Dan yang terakhir kalinya selalu menghubungi setiap harinya."


"Untuk itu kamu tenang saja, kamu sudah memberikanku kepercayaan dan tidak mungkin aku tidak menjaga kepercayaan yang kamu berikan," ucap Ayuma.


"Untuk tempat kamu sudah tahu di mana? Atau kamu belum mempunyai tempat?"


"Sayang ini masih planning, aku belum memikirkan tempat yang terpenting aku sudah mendapatkan izin darimu. Nanti saat kamu pergi aku mulai memikirkan tempat, kue apa yang akan jual, dan berbagai macam lainnya. Nanti setelah kamu kembali ke sini, aku sudah tau apa yang aku perlukan. Dan kamu sebagai suami membantuku untuk menyiapkan semuanya," ucap Ayuma.


Ayuma begitu salut dengan arbani, belum apa-apa arbani Sudah memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Diri saja yang akan membuka toko itu tidak berpikir sampai sejauh itu, memang beruntungnya mempunyai suami dengan pemikiran luas seperti arbani.


"Makasi sayang." Ayuma memberikan berbagai macam ucapan manis di wajah suaminya.


Pukul 07.00 malam Ryan sudah sampai di rumah Arbani, mereka berdua siap untuk pergi meninggalkan rumah. Di dalam kamar ayuma dengan arbani masih berpelukan, memang berat bagi pengantin baru berpisah walaupun tidak begitu lama.


"Jangan lupa untuk selalu mengabari, aku mendengar kabar buruk darimu."

__ADS_1


"Ih kamu mah, aku tidak mungkin memberikan kabar buruk untukmu. Harusnya aku yang bilang, aku ingin kamu mengabari ku setiap waktu," ucap Ayuma.


"Iya aku akan mengabari mu setiap waktu. Ya sudah sudah waktunya untuk aku menyusul Ryan, dia sudah terlalu lama menungguku."


Mereka berdua pun keluar dari dalam kamar dengan membawa koper besar milik arbani, untuk kali ini Ayuma tidak mengantar arbani ke bandara. Arbani tidak memberikan izin karena ini sudah malam dan tidak baik untuk seorang wanita keluar pada malam hari, Selain itu ia tidak ingin menciptakan momen yang lebih menyedihkan lagi. Memang lebih baik ia berpisah dengan ayuma di rumah saja.


"Adik masih ke sini deh, biar kamu ada temannya."


"Iya nanti dia akan sering ke sini kok, kamu tenang saja jangan memikirkan aku ya.. Semoga penerbangan kamu lancar tanpa ada kendala." Ayuma membuang nafas dengan perlahan.


Ryan yang melihat momen perpisahan itu merasa sedikit sedih. Ya tahu mereka berdua sangat saling mencintai dan tidak ingin berpisah, waktu lah yang membuat mereka berdua harus berpisah dan waktu nanti juga yang akan mempertemukan mereka kembali."


Sebelum mereka benar-benar berpisah keduanya berpelukan dengan erat, keduanya masih bisa mungkin tidak ingin menangis. Memang terlihat sangat lebay, tetapi ini lah yang terjadi jika dua orang yang saling mencintai berpisah, apalagi mereka berdua baru bersama.


Arbani dengan Ryan pun pergi meninggalkan rumah, mereka berdua langsung ke bandara terdekat. Arbani cukup bersyukur karena ia tidak pergi sendiri, ada sang sahabat yang kebetulan ada keperluan di New York, ia jadi tidak terlalu merasa sedih.


"Permainan mu waktu itu kok terlihat keren ya." Ryan sengaja membalasnya agar Arbani tidak terpaku dengan suasana sedih.


"Hahaha ya sudah pasti lah, aku kalau bermain tidak mungkin tidak keren." Arbani mulai tertawa, ia merasa sangat bangga mendapatkan pujian itu dari Ryan.

__ADS_1


__ADS_2