
"Makasih sayang, aku mencintaimu," ucap Arbani sambal memeluk Ayuma dengan erat.
"Aku juga sangat mencintaimu.. Terimakasih sudah datang." Ayuma juga membalas pelukan hangat itu.
"Aku hampir terlambat, ayah ku begitu lama memberikan ku waktu istirahat."
"Tidak masalah, yang terpenting kamu sudah datang. Sekarang kamu makan, aku sudah masak makanan enak," ucap Arbani.
"Mana hadiah ku," tanya Arbani.
"Oh iya, aku hampir lupa." Ayuma mengeluarkan sebuah kotak hadia yang sudah ia persiapkan sejak minggu lalu.
"Ini untuk kamu," ucap Ayuma.
"Sayang aku tidak benar-benar meminta hadiah barang, aku hanya ingin ciuman manis dari mu." Arbani terkejut Ayuma benar-benar memberikan nya sebuah hadiah.
"Aku tidak mungkin tidak memberikan pacar ku hadiah, sekarang kamu buka."
Dengan semangat Arbani membukanya, ia sangat penasaran apa yang ada di dalam kotak itu.
"Gelang," ucap Arbani, ia sangat tau merek gelang ini dan harga nya juga tidak murah.
"Sayang kamu serius, ada inisal nama aku dan kamu juga. Kami costum ya, harga yang biasa saja sudah mahal, bagaimana costum. Kamu menghabiskan uang untuk ini, sayang jangan begitu," ucap Arbani.
"Tidak papa, kamu sudah banyak memberikan ku barang mahal, sesekali aku harus memberi mu juga. Kamu lupa, aku di bayar waktu mengajari kamu matematika," kata Ayuma.
"Berapa, aku ganti sekarang," ucap Arbani.
__ADS_1
"Tiap ah… Kan hadiah, untuk apa kamu mengembalikan uang ku," kata Ayuma.
"Makasih.." Arbani mengecup bibir manis pacarnya.
"Sama sama," ucap Ayuma sambil tersenyum manis.
Perlahan Arbani muka mendekati bibir Ayuma kembali, ia ingin selalu mencium wanita ini, sudah sangat lama ia menahannya dan sekarang sudah waktunya nya. Sontak Ayuma juga langsung memejamkan matanya, ia tau apa yang ingin Arbani lakukan padanya, ia berpikir sudah waktunya untuk memberikan ciuman manis ini.
Tanpa waktu lama bibir mereka berdua pun saling bersentuhan, Arbani mulai menunjukkan keahlian nya sebagai seorang pria.
Setelah ciuman manis itu, suasana mendadak jadi sangat canggung. Ayuma memberikan sesuatu yang besar pada Arbani, ia tidak pernah menyangka anak didiknya sendiri lah yang akan mengambil ciuman pertama nya.
"Ini benar-benar gila, yang awalnya aku ilfil dengan nya, sekarang aku malah tergila gila padanya," batin Ayuma.
"Sayang kamu masak apa sih, aku ingin makan yang itu." Arbani berusaha mencairkan suasana diantara mereka berdua.
"Makan dengan lahap sayang, jangan membuang makanan," ucap Ayuma.
"Siap.."
Malam ini keduanya sangat senang sekali, terutama Arbani yang sangat bahagia karena mempunyai kekasih di usianya yang baru ini. Ia sudah sangat tidak sabar membawa Ayuma ke pelaminan.
"Semoga ayah berubah pikiran, aku tidak akan sanggup ke New York tanpa dirinya," batin Arbani.
Karena hari sudah malam, Arbani tidak bisa terlalu lama di rumah Ayuma, setelah selesai makan Arbani pun memutuskan untuk pulang ke rumah nya, sebelum pulang Arbani memakai gelang yang Ayuma berikan kepadanya.
"Aku akan selalu memakai nya, aku tidak akan melepaskan nya," ucap Arbani.
__ADS_1
"Iya sauan, sudah sana pulang. Hati hati," kata Ayuma.
"Iya sayang, kita hanya beda gang saja," ucap Arbani.
"Kamu mah bukan gang, kalau sudah sampai rumah berikan aku kabar."
"Siap." Arbani berjalan pergi meninggalkan rumah Ayuma.
Ia juga langsung kembali ke rumah, ia sudah sangat lelah setelah seharian beraktivitas.
"Aku sudah sampai, aku ini langsung mandi dan tidur, kamu juga langsung tidur. Selamat bertemu di sekolah besok." Arbani meletakkan handphone nya di atas meja.
"Ahh tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun pada ku," ucap Arbani, ia cukup kesal. Dari ayah sampai teman sekelas nya tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Arbani berjalan masuk ke dalam kamar mandi ia malas terlalu memikirkan ini semua, yang terpenting ia merayakan acara ulang tahun nya dengan Ayuma. Setelah selesai mandi Arbani langsung tidur, tubuh nya benar-benar butuh istirahat.
Pagi hari nya, pukul setengah 7 pagi. Arbani berjalan keluar dari dalam kamar, ia akan langsung menjemput pacar tercinta nya.
"Selamat ulang tahun.." Arbani di kejutkan dengan ucapan kecil dari keluarganya.
"Ayah mamah." Arbani tersenyum melihat mereka berdua memegang kue ulang tahun.
"Sayang selamat ulang tahun, ayah dengan mamah sangat menyayangi mu."
"Arbani meskipun ayah tidak dekat dengan mu, ayah tetap sangat menyayangi mu. Kamu pasti bisa tumbuh menjadi pria terbaik."
Arbani langsung memeluk mereka berdua, selain terkejut ia juga sangat senang sekali.
__ADS_1