MENCINTAI GURU KU

MENCINTAI GURU KU
Bab 6 S2


__ADS_3

Perjalanan dari Jakarta ke New York menempuh waktu yang sangat lama, arbani dengan Ryan banyak menghabiskan waktu perjalanan yang lama ini untuk istirahat dan sesekali mengerjakan beberapa hal yang cukup penting. Mereka juga tidak bisa langsung sampai di New York, harus transit dulu di salah satu negara yang memakan waktu cukup lama juga. Memang jika tidak memiliki energi yang kuat pasti akan kelelahan dan bisa jadi jatuh sakit. Seperti Arbani sekarang ia terlihat begitu kelelahan.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan panjang akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Sesampainya di sana Arbani langsung ke apartemen yang sudah disediakan oleh sang ayah. Wijaya juga langsung membawa Arbani ke apartemen nya, ia sudah ada di sini sekitar beberapa hari lalu.


Wijaya melihat ada yang berbeda dari anaknya, padahal setelah arbani menikah ia melihat Arbani selalu tersenyum dan bahagia, tapi sekarang Arbani terlihat menghilangkan senyuman itu dan memasang wajah yang tidak enak lihat.


Wijaya memberikan kode pada Ryan sambil melirik ke arah Arbani. Ryan melihat kode itu dan hanya bisa menaikkan bahunya, ia ingin Wijaya bertanya langsung pada anaknya sendiri.


"Kamu sakit sayang?"


Arbani menggeserkan kepalanya ke pundak ayah, selain ia sedang tidak enak hati Ia juga sedang tidak enak badan. Tubuhnya tidak kuat menerima aktivitas yang begitu padatnya, tanpa istirahat yang cukup dari Bali kemarin ya langsung terbangkan dulu New York. Itu lah yang membuat tubuh Arbani sedikit drop. Yang sekarang Arbani merasa ia merasakan Jetlag, jetlag adalah gangguan tidur sementara seseorang karena berpergian terlalu cepat beberapa zona waktu.


"Sedikit tidak enak badan," ucap Arbani.


"Kamu kelelahan pasti." Wijaya memegang tangan Arbani dan mengusap nya. Arbani anak satu satunya, rasa sayang nya pada Arbani tidak bisa di jabarkan oleh sebuah kata kata. Itu sebabnya apa yang Arbani minta belakangan ini selalu ia kabulkan, termasuk mengatur waktu agar Arbani dengan Ayuma tidak berpisah terlalu lama.


Sesampainya di apartemen itu Arbani langsung masuk ke dalam kamar, ia memutuskan untuk langsung istirahat. Tubuh nya sedang tidak bisa ia ajak kompromi, ia memerlukan waktu istirahat beberapa hari kedepan.


"Aku lupa memberikan kabar dia," ucap Arbani.


Arbani mengambil Handphone nya saat ingin mengubungi Ayuma ia tidak mendapatkan jaringan.


"Ayah pinjam Handphone," teriak Arbani.


Wijaya yang mendengar teriakan putra nya langsung berjalan masuk ke dalam kamar.


"Handphone?"


"Iya aku tidak mendapatkan jaringan di sini."


"Ya tidak, kamu saja masih menggunakan jaringan Indonesia.. Nah gunakan handphone ayah." Wijaya memberikan handphone nya sambil duduk di samping Arbani.


Segera Arbani menghubungi sang istri.

__ADS_1


"Dasar budak cinta," ucap Wijaya.


"Namanya cinta, mau bagaimana lagi," kata Arbani.


"Halo." Ayuma mengangkat nya dengan ragu, ia tidak tau nomor siapa yang menghubungi nya.


"Sayang aku sudah sampai," ucap Arbani.


"Kamu sayang syukurlah. Kamu pakai handphone siapa?"


"Ayah mertua mu, kamu jangan menghubungi dia, nanti dijadikan istri ke tiga lagi," ucap Arbani.


"Bani." Wijaya menepuk punggung anaknya.


"Sayang kamu ada ada saja. Ya sudah kamu istirahat lah, kamu pasti sangat lelah kan."


"Iya sayang, nanti malam kita video call. Bye bye." Arbani mematikan sambungan telepon itu.


"Hahaha ya bisa lah yah. Ayah aku peluk.. Aku sangat dingin." Arbani membalik tubuh nya dan langsung memeluk Wijaya dengan erat.


"Kalau nanti malam kau belum enakan, kita berobat. Kau sekali jauh dari istri mu saja langsung seperti ini."


"Namanya pengantin baru, ayah juga pasti seperti itu," ucap Arbani.


"Bagaimana malam pertama mu lancar?"


"Lancar sampai malam ke 10, aku sehari 3 kali sebelum ke sini," ucap Arbani.


Wijaya sampai tidak bisa berkata apa apa, memang buah tidak jauh jatuh dari pohon nya. Arbani mengingatkan nya saat masih muda dulu.


"Bagaimana kau tidak sakit, kau saja sampai seperti ini," ucap Wijaya.


"Hahaha namanya enak yah, kalau enak pasti gas terus lah," kata Arbani.

__ADS_1


"Kau benar benar ya. Ya sudah lah terserah mu. Yang penting jangan sampai hamil dulu, dan ingat kesehatan mu. Kau sakit juga karena terlalu bersemangat," ucap Wijaya.


"Iya yah.."


Malam hari nya, Arbani masih juga belum baikan, ia semakin menggigil dan merasa tidak nyaman. Arbani dan Ryan yang tau itu, memutuskan untuk memanggil dokter, Arbani tidak mau di bawah ke rumah sakit, jadi dokter lah yang datang untuk nya.


Sambil rebahan Arbani mulai di periksa, ia benar benar sedang menyelamatkan kelelahan. Karena itu doker memutuskan untuk menginfus nya, Arbani tidak pernah yang namanya di infus seperti ini, ia langsung panik ketika dokter ini menusuk nya.


"Diam Bani, jangan seperti anak kecil," ucap Wijaya.


Karena sudah lemas Arbani tidak bisa apa apa, ia hanya bisa memejamkan matanya saat jarum itu mulai menusuk nya. Arbani jadi ingat saat ia ingin menusuk Ayuma, Ayuma sama panik nya dengan dirinya.


Setelah itu selagi menunggu infus habis, Arbani di minta untuk istirahat. Akan tetapi Arbani memutuskan untuk mengubungi istri nya melalui sambungan video call.


"Sayang kamu tidak papa," tanya Ayuma. Ia memiliki firasat yang tidak baik pada suaminya, melihat wajah Arbani yang pucat semakin membuat nya tidak tenang.


"Aku sedikit sakit, sekarang lagi di infus." Arbani menunjukkan tangan nya yang sedang di infus.


"Kamu pasti kelelahan ya, kamu jangan lelah lelah, di sana kan ada ayah. Jangan kemana mana dulu," ucap Ayuma.


"Hehehe iya sayang, kamu jangan khawatir ya. Aku tidak papa kok, setelah di infus ini aku jauh lebih baik," kata Arbani.


Mereka berdua mulai mengobrol, tetapi tidak lama karena Arbani harus istirahat.


Di rumah Ayuma jadi kepikiran suaminya, ia sangat merindukan Arbani dan takut Arbani kenapa napa. Walaupun ada ayah mertuanya, Ayuma takut keperluan Arbani tidak terpenuhi. Anak itu sangat manja sekali kalau sedang sakit, ia sudah pernah merasakan bagaimana manjanya Arbani.


"Semoga dia bisa melewati ini semua," ucap Ayuma.


Sekarang Ayuma sedang mempersiapkan diri untuk membuka bisnis baru, ia sudah mulai berpikir dan mencari tau apa saja yang ia perlukan untung membuka bisnis ini. Beberapa hal harus ia urus agar semuanya aman, termasuk yang terpenting izin usaha, ia tidak mau usaha nya terkena masalah dan berhenti di tengah jalan. Sebelum buka ia mau semuanya sudah benar benar siap.


Ayuma yakin dengan dukungan dari Arbani ia bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, Arbani mempunyai ayah yang sangat berpengaruh.


"Nanti setelah dia kembali, aku yakin semuanya selesai," ucap Ayuma.

__ADS_1


__ADS_2