
"Arbani.." Ayuma menepuk pundak pacar nya.
"Hahaha sayang aku berbicara jujur," ucap Arbani.
"Iya jujur tapi tidak begitu juga, sudah sekarang kamu pulang, kata kamu ingin mengajak aku jalan jalan malam ini."
"Tidak ah, mau di rumah kamu saja. Nanti jam 10 malam baru aku pulang, sekarang kamu masak aku lapar," ucap Arbani.
Sambil menghela nafas panjang Ayuma berjalan ke dapur, ia mengikuti saja apa yang Arbani inginkan.
Pukul 10 malam, Arbani kembali ke rumah nya, ia lupa jika malam ini dirinya ada janji dengan Ryan, ia pulang setelah Ryan menghubungi nya karena sudah menunggu dirinya begitu lama.
"Lama sekali," ucap Ryan.
"Hahaha maaf maaf, aku lupa."
"Kau pasti pacaran dengan guru itu kan," tanya Ryan.
"Ya begitu lah," kata Arbani dengan santainya.
"Apa bedanya mempunyai pacar seperti ini itu," tanya Ryan.
"Banyak sekali Ryan, kau tidak merasakan bedanya kalau tidak terjun langsung. Ayu janda bersegel dan pengertian, kami pacaran ala ala orang dewasa. Aku saja sering di bawakan bekal, di masakan, di siapkan teh hangat, dan lain-lain," jawab Arbani.
"Kau sudah sampai mana pacaran dengan dia," tanya Ryan.
"Hahaha sampai mana ya, ada deh. Tinggal selangkah lagi sampai ranjang, sebentar lagi aku melepaskan keperjakaan ku," jawab Arbani.
"Arbani, kau benar-benar serius dengan nya?"
"Ya iya, kau tau kan aku akan lanjut ke New York, nah sebelum aku berangkat ke sana aku akan menikah dengan dia," ucap Arbani.
"Serius? Apa orang tua mu akan memberikan mu restu, secara dirimu kan bukan anak sembarangan, kau anak tunggal pewaris utama keluarga ini, tidak mungkin keluarga mu mencari menantu yang sembarangan," kata Ayuma.
"Hahaha santai, aku mempunyai banyak cara," kata Arbani.
"Lakukan sekarang, waktu mu tinggal sebentar lagi, mempersiapkan pernikahan tidak lah sebentar," ucap Ryan.
"Sekarang.. Gas.." Arbani langsung bangkit dari tempat duduk nya, ia langsung ingin bertemu dengan sang ayah.
Arbani jarang sekali menganggu ayahnya malam malam begini, ia tau sang ayah pasti sedang bersenang-senang dengan para istri nya.
"Ayah.." Arbani mengetuk pintu kamar ayahnya, entah sedang bersama istri yang mana Arbani tidak tau, ia tidak pernah ingin tau bagaimana ayahnya mengatur waktu tidur mereka.
"Anak mu.."
"Anakmu juga, tumben.." Wijaya langsung berjalan keluar dari dalam kamar nya.
__ADS_1
"Ada apa," tanya Wijaya.
"Mamah di dalam?"
"Hmmmm," gumam Wijaya.
"Aku ingin berbicara dengan kalian berdua," ucap Arbani.
"Masuk lah, ada apa sih."
Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam.
"Ada apa sayang?"
"Entah apa yang ingin anak mu katakan," ucap Wijaya.
"Aku ingin menikah setelah lulus SMA," kata Arbani.
"Ha!! Dengan siapa? Dia belum hamil kan," tanya Wijaya yang sangat terkejut sekali.
"Dengan pacar ku lah, kami baru berpacaran dua bulan, aku ingin menikah dengan nya."
"Tidak bisa," tolak mereka berdua.
"Kenapa," tanya Arbani.
"Kau anak tunggal di keluarga ini, jangan menikahi sembarang wanita," ucap Wijaya.
"Kenapa dengan kalian, ini hidup ku aku bebas menentukan dengan siapa aku menikah. Dan kenapaa aku tidak boleh menikah, ayah saja mempunyai dua istri," ucap Arbani.
"Arbani!!"
"Terserah, kalau tidak boleh, aku tidak akan mau menurutku permintaan ayah, aku tidak akan lanjut ke New York, aku bisa hidup tanpa ini semua, tapi apakah kalian bisa meneruskan perusahaan tanpa aku," ucap Arbani.
Wijaya membuang nafasnya dengan kasar.
"Ya sudah terserah diri mu, pastian wanita itu bebas dari masalah," ucap Wijaya..
"Sayang.."
"Tidak papa mah, sudah mau bagaimana lagi," ucap Wijaya.
"Oke makasih yah." Arbani berjalan mendekati Wijaya dan memeluk nya dengan erat, ini pertama kalinya sejak hubungan mereka berdua hancur.
Wijaya baru merasakan sebagai ayah yang baik, hanya hal seperti ini saja Arbani kembali memeluknya dengan erat.
"Ayah siapkan semuanya ya," ucap Arbani.
__ADS_1
"Iya.. Kau tenang saja, ayah menyayangi mu.. Ayah ingin kau bahagia," kata Wijaya, dengan mudah nya ia luluh dengan Arbani.
"Aku juga menyayangi ayah, ayah tau istri kedua ayah sering menggoda ku," ucap Arbani.
"Jangan kau tanggapi, awas saja kau berani macam macam padanya," kata Wijaya.
"Oke.. Aku pergi, terimakasih untuk semuanya, sekarang kalian bersenang-senang lah." Arbani berjalannya keluar dari ruangan itu.
"Dia sebelas dua belas dengan diri mu."
"Dia berasal dari junior ku, sudah pasti dia mirip dengan ku," ucap Wijaya.
"Semoga ini hanya keinginan sesaat saja, aku yakin kau akan bosan dengan nya dan meninggalkan nya, ayah tidak siap mempunyai menantu di luar dari lingkaran kehidupan kita," batin Wijaya.
Arbani kembali ke kamarnya, dengan mudah ia mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Arbani sudah memikirkan hal ini sejak beberapa waktu lalu, ia anak tunggal dan satu satunya pewaris di keluarga ini, ancaman seperti tadi memang ancaman terbaik yang Arbani rencanakan.
"Bagaimana," tanya Ryan.
"Lancar dong," jawab Arbani.
"Ancaman apa yang kau berikan," tanya Ryan.
"Minggat," jawab Arbani sambil tertawa.
"Hahaha kau harus banyak menonton video pornografi, kau tidak mau kan mati gaya saat malam pertama mu."
"Hahaha sudah pasti, eh bagus aku cukur atau aku biarkan berhutan," ucap Arbani.
"Cukur lah, kalau kau cukur akan terlihat lebih besar, istri mu akan tergila gila dengan itu," kata Ayuma.
"Hahaha kau benar. Tidak sabar, nanti aku video dan lihatkan pada mu," ucap Arbani.
"Aku tunggu," kata Ryan.
Arbani juga langsung mengirim pesan pada Ayuma, ia ingin memberitahu kalau ia sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
"Sayang cepat sekali."
"Hahaha iya dong, kamu segera ya.. Ayah ku akan mempersiapkan semuanya. Mungkin pernikahan kita akan tertutup, kamu siapkan data diri mu, aku akan mengambil nya besok."
"Iya, aku akan segera menghubungi orang tua ku." Ayuma sendiri sama sekali belum memberikan kabar keluarga nya di kampung.
"Sayang kamu suka berbulu atau bersih?"
"Sayang jangan aneh aneh deh, kamu belum menikah saja sudah berpikir seperti itu." Memang semua pria berpikiran mesum, Ayuma tidak heran kenapaa Arbani seperti itu.
"Hahaha aku suka yang bersih sayang, siapkan untuk suami mu tercinta ini…" Arbani menutup pesan mereka berdua.
__ADS_1
Ayuma membuang nafasnya dengan kasar, pria berusia 19 tahun ini memang pria yang mesum, ia takut Malam pertama nya nanti akan kacau, pertama Ayuma belum pernah melakukan nya dan Arbani masih pria remaja yang berpikir yang tidak tidak, pasti banyak hal yang sudah Arbani rencanakan di malam pertama mereka nanti.
"Kamu sudah memulai nya, dan sekarang persiapkan semuanya dengan baik, walaupun dia lebih muda dari mu dia tetap suami mu yang wajib kamu bahagia kan.