MENCINTAI GURU KU

MENCINTAI GURU KU
Bab 9 S2


__ADS_3

"Ahh sayang."


"Bagaimana suka," tanya Arbani.


"Suka.. Pelan pelan, kamu ganas sekali," jawab Ayuma.


Kalau sudah seperti ini Ayuma tidak bisa apa apa, Arbani benar-benar berubah jadi pria yang kuat dan hebat, mau gaya apapun Arbani gunakan yang kalah duluan pasti Ayuma. Ia sampai tidak bisa bergerak sangking lemas nya, terkadang ini juga yang Ayuma rindukan dari Arbani, wanita juga memiliki hasrat walaupun tidak sebesar pria.


"Ke balkon yuk sayang," ucap Arbani.


"Jangan macam macam sayang, aku bisa mau ada orang yang lihat," kata Ayuma.


"Hahaha tidak akan ada orang yang lihatt sayang," ucap Arbani sambil menggendong istri nya ke Balkon kamar.


Di sana Ayuma memimpin pertandingan, mereka berdua berada di atas sofa yang ada di balkon, beruntung balkon itu sangat luas dan cukup tertutup, jadi tidak akan ada orang yang melihat mereka sedang melakukan apa.


Arbani tersenyum melihat bagaimana istri nya bergerak naik turun cantik. Ia sangat senang dapat melakukan nya di outdoor, kebetulan bintang di langit sedang terlihat dengan begitu jelasnya. Sambil melihat Ayuma ia juga melihat bintang bintang indah di langit sana.


"Sayang," ucap Ayuma.


Ia jatuh di atas tubuh sang suami, dirinya sudah tidak bisa memimpin pertandingan ini.


"Sampai lagi, kenapa begitu cepat," tanya Arbani.


"Masuk terlalu dalam," jawab Ayuma dengan nafas yang tidak beraturan.


"Sayang jangan sayang berhenti dulu." Ayuma kembali berteriak karena Arbani langsung bergerak begitu cepat, ia tidak bisa merasakan kenikmatan bertubi-tubi secara langsung.


Pukul setengah dua belas malam mereka berdua selesai bertempur. Arbani sukses membuat sang istri lemas tidak berdaya, semua itu karena ia yang begitu kuat nya.


"Enak," tanya Arbani.


Ayuma hanya bisa menganggukkan kepalanya, rasanya benar-benar nikmat tetapi begitu melelahkan.


"Setiap hari kita akan seperti ini," ucap Arbani.


Arbani masih berusia 19 tahun, tetapi memiliki ukuran dan tenaga yang telah luar biasa, Ayuma tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau Arbani sudah berusia 25 tahun ke atas, ia pasti tidak akan bisa di buat berjalan oleh Arbani.


Keesokan harinya, mereka berdua bangun siang, Ayuma sekarang di larang memikirkan pekerjaan nya di luar. Arbani sudah melimpahkan semuanya ke orang yang ia percaya, hal ini sudah mereka bahas setelah pertempuran tadi malam. Hal ini hanya berlaku saat Arbani sedang di rumah saja, Arbani memang tidak mau membuang buang waktu berharga mereka.


"Bangun kita tempat ayah," ucap Arbani.


"Lelah," kata Ayuma.


"Mau lagi sayang," tanya Arbani.


"Sayang sudah ah aku sangat lelah," jawab Ayuma.


Arbani memeluk Ayuma dari belakang, ia selalu mempunyai ide gila yang tidak pernah Ayuma duga sebelumnya.


"Ahh sakit, sayang kamu.." Ayuma menutup mulut nya agar tidak kembali berteriak, ini siang hari takutnya ada orang yang yang mendengar walaupun mereka sedang di kamar.


"Susah," ucap Arbani.


"Iya susah, sakit sayang. Jangan." Ayuma berusaha mendorong tubuh Arbani tetapi tidak bisa, Arbani malah semakin mendorong nya masuk ke dalam.


Siang ini Ayuma kembali melayani suami gila nya, walaupun awalnya masih menolak pada akhinya Ayuma pasrah juga.


Pukul 3 sore, mereka berdua baru bergerak ke rumah Wijaya, walaupun Ayuma masih merasa sangat lemas ia tetap harus pergi dengan wajah yang ceria. Takutnya kalau wajahnya murung dan kusut mertua nya berpikir yang tidak tidak.


Sesampainya mereka berdua langsung menuju dapur karena keduanya sangat lapar sekali, dari terakhir makan malam kemarin sampai siang ini keduanya belum ada mengisi perut lagi. Beruntung di rumah ini selalu ada makanan yang tersedia di meja makan, tanpa ragu keduanya langsung menyantapnya dengan sangat.

__ADS_1


"Beruntung disini ada makanan, Aku pikir kamu suruh aku masak lagi. Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi," kata Ayuma.


"Hahaha aku tahu di sini selalu ada makanan jadi aku mengajakmu ke sini, lagi pula aku tidak mungkin mau memintamu untuk memasak lagi, paling kalau tidak ada makanan kita pesan online saja."


"Selain itu kamu ada hal lain mengajakku ke sini?" Ayuma mengerutkan dahinya.


"Tadi Ayah katanya ingin berbicara dengan ku, daripada aku meninggalkan kamu di rumah sendiri lebih baik aku mengajakmu ke sini kan," ucap Arbani.


Wijaya berjalan menghampiri mereka berdua, Ia sama-sama melihat kedua anaknya sudah bersama kembali, apalagi arbani itu lihat begitu bahagia setelah bertemu dengan istrinya.


"Wah kalian sudah datang.. Mana langsung makan pula itu tidak izin dulu."


"Untuk apa beliin makan di rumah orang tuaku sendiri, ayah ini bagaimana sih." Arbani menaikkan satu alisnya.


"Hahaha iya iya, Makanlah dengan sangat lahap Setelah itu kamu masuk ke ruangan ayah ya."


"Ada yang ayah ingin katakan," tanya Arbani.


"Ya adalah tidak mungkin tidak, kalau tidak ada kenapa aku meminta mau ke sini. Sampai jam berapa kamu kemarin?"


"Sekitar jam 05.00 sore, langsung pulang ke rumah?"


"Iya yah, rencana nya mau gas poll, tapi tidak ada orang," ucap Arbani.


"Lah kenapa tidak ada orang? Di mana istrimu?"


"Dia sedang sibuk mengurus bisnisnya yah, ayah sendiri kan yang membantunya tanpa izin padaku, awas aja ya Ayah melakukan hal yang tidak-tidak ya." Arbani memberikan tatapan tajam pada ayahnya, ia takut ayahnya mengincar wanita lain yang tak lain adalah istrinya.


"Berhenti berburuk sangka pada ayahmu.. Aku hanya ingin membantu istrimu saja, tidak ada maksud lebih dan tidak ada niat yang kau pikirkan itu."


"Sayang kamu mengatakan apa sih, Jangan berpikiran sudah tidak ya aku tidak suka." Sekarang giliran Ayuma yang memberikan tatapan tidak suka pada Arbani.


"Lah aku yang salah," ucap Arbani.


"Ada apa sih yah?"


"Bagaimana ada ruangan ini sama seperti dulu?"


"Ya masih sama tidak ada perbedaannya, hanya itu saja yang ingin Ayah katakan?" Arbani menjawab nya dengan nada yang lemas dan wajah yang sedikit jutek.


"Hahaha ya tidaklah, oke ayo kita bahas semuanya bersama-sama di sini."


Kali ini pembahasan mereka berdua sangat penting dan berbobot, dari masalah perusahaan sampai dengan masalah arbani nanti di New York, semuanya mereka bahas secara terperinci dan sangat mendetail. Ada beberapa masalah perusahaan yang harus arbani ketahui, dan itu cukup membuat Arbani yang terkejut. Dia tidak pernah tahu jika perusahaan itu memiliki masalah yang sangat besar, pantes aja sang ayah memintanya agar segera menyelesaikan kuliahnya agar bisa melanjutkan perusahaan itu.


Selain masalah dua itu mereka juga membahas tentang Ayuma. Masalah Ayuma juga penting untuk mereka bahas, karena arbani akan meninggalkan istrinya itu dengan waktu cukup lama. Mereka berdua manusia normal yang memiliki perasaan satu sama lain, kalau tidak dua-duanya kuat iman pasti ada masalah di antara keduanya. Yang seharusnya kita tidak boleh terjadi.


Arbani memijat kepalanya yang terasa mulai pusing, ternyata membahas masalah seperti ini sangat berat untuknya. Semuanya langsung terasa berat di pundaknya karena memang ia harapan satu-satunya di keluarga ini, kalau sampai dia gagal entah bagaimana masuk keluarga ini.


"Dan satu lagi Arbani, Ayah dan akan akan pindah ke Eropa. Yang ayah bahas tadi ayah sudah tidak bisa melanjutkan yang di sini lagi, yang di sini dikuasai oleh pamanmu sampai kau kembali ke sini dengan gelarmu itu. Itu sebabnya Ayah juga membahas istri mu karena dia akan tinggal sendiri di sini, ayah membantunya mengerjakan semua itu, agar supaya saat ayah pergi dia sudah bisa berdiri sendiri dan mempunyai brand yang kuat." Wajah Wijaya terlihat cukup sedih mengatakan hal itu.


Arbani membuang nafasnya dengan kasar, ternyata memiliki keluarga yang memiliki kedudukan yang tinggi cukup merepotkan. Beban yang ada di pundaknya semakin berat saja, mungkin inilah yang membuatnya nanti akan menjadi pria yang kuat dan bertanggung jawab.


"Sebenarnya aku ingin istri ku ikut dengan ayah, tetapi seperti nya tidak mungkin, Ya sudah kalau begitu semuanya harus kita jalani dengan semangat dan yakin 4 tahun ke depan semuanya akan kembali pada tempatnya." Arbani mengatakan sangat penuh semangat.


"Ingat jangan lupa ciptakan keturunan dengan kewarganegaraan yang sah, tau maksud ayah kan?"


"Iya tau yah, aku sangat tau." Arbani mengerti apa yang Wijaya katakan.


"Bagaimana tadi malam, main berapa ronde," tanya Wijaya, ia ingin mengalihkan pikirkan Arbani agar tidak terlalu terbebani. Kalau sudah bahas seperti itu, ia tauu Arbani akan begitu semangat.


"Hahaha aku satu ronde saja, dia 4 sampai lima kali, aku memang sangat kuat," ucap Arbani.

__ADS_1


"Itu lah kau kan, nanti kau akan merindukan masa masa itu," kata Wijaya.


Setelah membahas masalah penting itu Arbani masuk ke dalam kamarnya tepat pukul 7 malam, ia masuk dengan ekspresi wajah yang begitu lemas.


"Sayang kamu kenapa," tanya Ayuma.


"Ada masalah sayang, ahh aku sangat lelah," jawab Arbani.


"Masalah apa sayang," ucap Ayuma.


"Kamu tidak boleh tau." Arbani mengecup dahi Ayuma.


"Ah kamu tidak betul," kata Ayuma.


"Sayang kamu tidak masalah tinggal di Jakarta sendiri," tanya Arbani.


"Ya tidak papa," jawab Ayuma.


"Ayah dan kedua mamah ku akan pindah ke Eropa bulan ini, disini mereka sudah tidak ada hak lagi. Karena ayah ku melanggar apa yang sudah ditentukan oleh kedua kakek nenek ku, dia kehilangan hak nya. Hak itu akan kembali saat aku selesai mengambil gelar ku," kata Arbani.


"Berat sekali masalah keluarga kamu," ucap Ayuma.


"Ya begitu lah sayang," kata Arbani.


"Di negara mana mereka akan tinggal?"


Arbani menggelengkan kepalanya, dirinya sendiri saja tidak tahu di negara mana ayahnya dan kedua ibunya akan tinggal. Hal ini sangat rahasia karena memang mereka bertiga sedang bersembunyi oleh seseorang. Arbani baru tau jika di keluarga nya ada hal menakutkan seperti itu.


Pantas saya saat ia menikah dengan Ayuma ada beberapa orang yang terlihat sangat tidak suka dengan pernikahan mereka berdua. Arbani yakin orang-orang itu adalah orang yang sama yang sedang mengacaukan perusahaan keluarga ini.


Arbani tidak khawatir dengan ayah dan kedua ibunya, ia yakin mereka dapat menjaga diri mereka masing-masing karena memang sang ayah pasti akan melakukan hal terbaik untuk mereka. Yang paling enak khawatirkan adalah Ayuma sendiri, Ayuma berada di sini di mana orang-orangnya itu akan berada. Ia selalu berharap semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia dan ayahnya rencanakan.


Ayuma melati dan masalah keluarga ini, walaupun tidak seberat masalah keluarganya dulu ia sangat tau bagaimana perasaan Arbani sekarang ini.


"Sayang, kamu harus tetap semangat. Kamu harapan satu satunya mereka," ucap Ayuma.


"Iya sayang aku tau itu, kita juga harus segera membuat anak," kata Arbani.


"Ya kamu di sana, bagaimana aku bisa hamil," ucap Ayuma.


"Hehehe nanti saja kalau kita sudah resmi menikah secara hukum," kata Arbani.


Selama 4 hari di Indonesia arbani hanya menghabiskan waktu bersama dengan istrinya saja, ia tidak ada kemana-mana hanya di rumah hanya atau di rumah sang ayah bersama dengan ayuma. Hal itu membuat hubungan diantara mereka semakin dekat, Ayuma jadi tidak ikhlas Arbani kembali ke New York.


Waktu cepat hilang 4 hari kemudian, hari ini arbani akan kembali ke New York untuk melanjutkan pendidikannya, ia sudah bersiap-siap dengan membawa 2 koper besar yang berisi semua barangnya. Koper ini yang akan menemani selama 3 tahun lamanya di new York. Walaupun begitu ia tidak membawa semua barangnya, bajunya masih banyak dalam lemari karena ia juga akan pulang ke sini.


Kali ini Ayuma mengantar Arbani ke bandara karena arbani berangkat pada siang hari, dan kembali menggunakan jet pribadi. Ia masih bisa menggunakan fasilitas itu karena Ayahnya masih mempunyai waktu 1 bulan untuk menggunakan koneksinya, kemungkinan besar saat ia ingin kembali ke Indonesia nanti dia sudah tidak bisa menggunakan fasilitas itu.


"Aku harus pergi sayang, kamu hati-hati di sini jangan membuat masalah ya. Dan selalu berpikir positif agar hubungan kita tetap aman, yang semangat membuka bisnisnya kamu pasti bisa sukses."


Ayuma tidak mengatakan apa apa, ia hanya menangis sambil memeluk Arbani. Kali ini mereka berdua berpisah sangat lama, bisa tiga bulan atau pun 6 bulan lamanya. Bagaimana mereka menjalani kehidupan kedepannya, Ayuma sudah terlanjur mencintai suaminya.


"Sayang aku juga mau menangis, berhenti menangis sayang." Arbani mengusap air matanya sendiri, padahal ia sudah tidak ingin menangis, tetapi ikut menangis karena Ayuma banyak menangis, rasanya sangat berat sekali.


"Oke oke." Ayuma menghapus air mata nya.


"Aku akan kembali bulan 9, kamu tunggu aku ya," ucap Arbani.


"Aku akan menunggu kamu," kata Ayuma.


Karena sudah waktunya mereka pun berpisah, Arbani melambaikan tangannya sebelum benar-benar tidak terlihat oleh Ayuma. Di dalam sana Arbani masuk ke dalam kamar mandi, ia menutup wajahnya dan mulai menangis, ia jadi sangat cengeng setelah menikah dengan Ayuma.

__ADS_1


"Ahh aku jadi seperti ini, berhenti menangis." Arbani mengusap air matanya sendiri.


__ADS_2