
Siang hari nya, Arbani bangun dengan wajah yang bete. Malam tadi ia gagal mendapatkan jatah karena sang istri sedang datang bulan. Siang ini ia masih ngambek pada Ayuma karena Ayuma tidak memberitahu nya, saat ia sudah melepaskan semua pakaiannya barulah Ayuma memberitahu semuanya.
"Sayang," ucap Ayuma sambil membawakan makanan untuk sang suami, ia sudah memasak makanan enak agar Arbani tidak ngambek lagi.
"Hmmmm." Arbani memalingkan wajahnya.
"Ih ngambekan, kasihan teman kamu tadi makan sendiri, kamu sebagai teman tidak boleh seperti itu."
"Dimana dia," tanya Arbani.
"Berenang di bawah," jawab Ayuma.
"Ya sudah aku mau berenang," ucap Arbani.
"Sayang makan dulu, kamu marah sama aku."
"Tidak," jawab Arbani.
"Sayang jangan marah dong, aku sudah masuk 3 hari datang bulan, 3-4 hari lagi selesai, kalau cepat 2 hari lagi selesai. Waktu terakhir kamu meminta jatah itu, pagi hari nya aku datang bulan, aku sengaja tidak memberitahu mu. Eh ternyata kamu marah," ucap Ayuma.
"Sudah aku tida ingin mendengar penjelasan apa apa, sekarang aku lagi tidak ingin makan berat. Buatkan aku jus, dan potongkan buah. Bawa ke kolam renang, buat juga untuk teman ku." Arbani berjalan pergi meninggalkan Ayuma.
Ayuma membuang nafasnya dengan kasar, ternyata kalau Arbani sudah ngambek jadi seperti ini. Ia tidak akan lagi membuat suaminya ngambek seperti ini.
Arbani langsung melomoat ke dalam kolam renang, otak dan hatinya yang terasa begitu panas langsung sejuk seketika.
"Kau kenapa," tanya Ryan.
"Ah entahlah, remaja jompo memang memiliki mood yang berubah rubah," jawab Arbani.
"Kau kapan masuk kuliah," tanya Ryan.
"Aku tidak tau, sebelum kuliah juga seharusnya aku sudah di New York untuk mempersiapkan banyak hal."
"Nah itu, minggu depan aku sudah berangkat ke Melbourne, kau sendiri kok tidak tau," ucap Ryan.
"Nanti aku tanya ayah ku."
"Arbani, kau akan mempunyai anak cepat?"
"Tidak lah, kau pikir sajalah. Aku disana dia di sini, kalau dia hamil siapa yang akan mengurusnya, kalau dia ingin apa apa siapa yang akan datang untuk nya. Aku tidak mau istri ku hamil tanpa aku," ucap Arbani.
"Iya sih, kau benar," kata Ryan.
__ADS_1
"Iya memang aku benar, mana mungkin aku salah," ucap Arbani.
Ryan menganggukkan kepala nya. Ia ingin seperti Arbani, tetapi tidak ada wanita yang mau ia ajak menikah. Arbani bisa dikatakan beruntung karena langsung mendapatkan wanita yang mau ia ajak serius, padahal sebelumnya Arbani benar-benar playboy. Jika pria playboy sudah menemukan orang yang tepat, beginilah jadinya.
"Ayo minum dulu, pria pria tampan," ucap Ayuma.
"Yang tampan hanya aku," kata Arbani.
"Iya iya.." Ryan sudah biasanya dengan sikap Arbani yang seperti ini.
"Sayang sini masuk."
"Sayang aku tidak boleh berenang, nanti airnya jadi tercampur."
"Oh iya ya." Arbani menganggukkan kepala nya.
Ayuma memilih meninggalkan tempat itu, ia paling tidak bisa melihat Arbani hanya memakai ****** ***** saja, apalagi ada teman Arbani yang sama dengan Arbani.
"Ada apa," tanya Ryan.
"Dia sedang datang bulan," jawab Arbani.
Ryan menganggukkan kapala nya, ia paham apa yang Arbani maksud.
Sore hari nya, Arbani dan Ayuma beranjak dari rumah mereka untuk ke rumah orang tua Arbani. Mereka berdua mendapatkan panggilan mendadak dari orang tua Arbani. Beruntung saat mereka pergi meninggalkan rumah, Ryan juga sudah pergi sejak siang tadi.
"Mungkin ayah ingin memberikan tiket gratis," kata Arbani.
"Ah itu mustahil," ujar Ayuma.
Sesampainya di rumah itu, mereka berdua langsung masuk ke dalam, ketiga orang tua Arbani sudah duduk di meja makan bersama sama. Mereka menunggu mereka berdua.
"Sore," ucap Arbani dan Ayuma.
"Sore, duduk lah," kata Wijaya.
"Ada yang penting yah," tanya Arbani.
"Sabar, kita makan dulu," jawab Wijaya.
"Kalian langsung atau menunda kehamilan?"
"Masih di tunda mah, setelah mas Bani selesai kuliah baru kami akan program," ucap Ayuma.
__ADS_1
"Baguslah, menikah secara negara jangan lupa, tahun depan sudah bisa," kata Wijaya.
"Iya yah, saya usia ku cukup aku akan langsung menikahi Ayuma secara hukum negara," ucap Arbani.
Sempet yang Wijaya katakan, setelah makan baru lah mereka membahas hal yang penting. Mereka duduk cerdas diruang keluarga untuk membahas masalah itu.
"Bagaimana yah," tanya Arbani.
"Minggu depan kamu berangkat," jawab jawab Wijaya.
"Apa!? Kemarin kata ayah masih tidak jelas, kenapa tiba tiba sekarang berangkat," tanya Arbani.
"Sesuai panggilan sayang, kamu tidak bisa mengulur waktu lagi."
"Setelah aku berangkat, aku tidak bisa kembali lagi sebelum masuk?"
"Bisa, dengarkan dulu apa yang ayah katakan," ucap Wijaya.
"Ha bagaimana," tanya Arbani.
"Kamu ke sana, satu dua minggu dulu. Ada beberapa hal yang harus kamu kerjakan, setelah itu kamu kembali ke sini lagi. Bulan depan kamu baru benar-benar mulai masuk kuliah. Nanti kalau kamu ingin ke sini lagi, bisa saat liburan musim, atau bisa ambil cuti beberapa hari. Ayah tidak mengikat mu, asalkan kau serius dan dapat lulus dalam waktu yang cepat," jawab Wijaya.
Wijaya sudah menerima Ayuma sebagai menantu nya, ia juga tidak tega memisahkan mereka berdua begitu lama. Keputusan nya untuk menyekolahkan Arbani ke New York sebelum Arbani memperkenalkan Ayuma ke rumah nya, hal itu membuat Wijaya tidak bisa membatalkan apa yang sudah ia niatkan.
Malam hari nya, Arbani dengan Ayuma memutuskan untuk menginap di rumah ini. Mereka berdua saling berpelukan di sofa balkon kamar mereka. Keduanya memandang bintang yang indah di langit malam, bintang bintang ini datang seakan mereka tau ada dua orang yang sedang dalam kesedihan.
"Kamu akan kembali kan," ucap Ayuma.
"Iya sayang aku akan kembali dengan cepat, seperti apa yang ayah ku katakan," kata Arbani.
"Awas saja kamu tidak setia, awas saja kamu macam macam," ucap Ayuma.
"Hahaha aku tidak akan berani macam macam," kata Arbani.
"Lihat bintang bintang di langit itu, mereka datang seakan tau kalau kita sedang bersedih," ucap Arbani.
"Apa saat kamu di sana nanti kita dapat melihat bintang yang sama," tanya Ayuma.
"Tidak bisa, perbedaan waktu terlalu jauh, kita berbeda benua," jawab Arbani.
"Kapan kapan ajak aku ke sana ya," kata Ayuma.
"Siap sayang, aku akan mengajak mu ke sana, kamu tenang saja walaupun aku menemukan banyak orang baru, aku tidak akan melupakan mu. Aku akan selalu memberikan mu kabar setiap hari nya," ucap Arbani.
__ADS_1
"Aku pegang kata kata kamu, aku sangat percaya kamu, jangan kecewakan aku ya." Ayuma memeluk suami nya dengan begitu erat.
"Tidak akan sayang.."