
"Ah sudahlah. Jadi gimana, kamu siapkan buat ngelamar Nayra besok?" tanya bunda Molly.
"Insyaallah, Rama siap Bunda," ucap Rama.
"Nah, bagus itu."
"Daddy, Daddy mau kemana becok?" tanya Alice sambil bermain boneka.
"Daddy mu besok mau jadiin kak Nayra menjadi ibu Alice," ujar bunda Molly dengan ceria.
"Hah, benelan?" tanya Alice dengan terkejut.
"Iya, beneran. Mangkanya, Alice berdoa terus ya, biar besok kak Nayra bisa menjadi ibu Alice," tutur bunda Molly.
Alice lalu mengangguk, dan mengangkat kedua tangannya keatas seraya berdoa kepada Tuhan.
"Ya Allah, Alice mau kak Nayla jadi ibu Alice ya Allah. Alice pengen ngelacain lacanya dicayang cama ceolang ibu, ya Allah." Alice berdoa dengan lembut dan berhasil membuat bunda Molly meneteskan air matanya.
'Apakah aku sudah egois karena membiarkan Alice hidup tanpa seorang ibu ya Allah?'
Rama termenung setelah mendengar doa Alice yang terdengar begitu tulus dan lembut.
"Lihat Ram, karena keegoisan kamu. Kamu membuat Alice hidup tanpa sosok seorang ibu," lirih bunda Molly disamping telinga Rama.
"Maafin Rama ya Bunda," ucap Rama dengan nada sendu.
Bunda Molly lalu memeluk Rama seraya berbisik pelan, namun penuh dengan peringatan.
"Kamu jangan pernah menyakiti Nayra ataupun Alice ya, Rama. Kalau kamu sampai menyakiti salah satu dari mereka, Bunda pastikan kamu akan menyesalinya," bisik bunda Molly disamping telinga Rama dengan penuh peringatan.
Glek!
Hal itu membuat Rama menelan salivanya dengan susah payah karena mendengar ancaman dari sang bunda.
__ADS_1
'Pantesan aja, dulu papah takut banget sama Bunda."
"I-i-iya kok Bunda, R-Rama b-berj-janji," ucap Rama sambil tersenyum.
"Daddy kok kaya keliatan takut begitu cih?" tanya Alice yang melihat wajah sang daddy penuh dengan keringat dingin serta menujukkan muka takutnya.
"Kamu nggak papa, Ram?" tanya bunda Molly.
Sungguh perubahan bunda Molly cepat sekali, dari nada bicara serta ekspresi yang ditunjukkan wanita paruh baya tersebut benar-benar berbeda dari saat dia mengancam Rama.
"E-enggak papa kok Bunda," ucap Rama yang masih berkeringat dingin.
"Yaudah kalo begitu. Ayo Alice, kita main," ajak bunda Molly.
"Ayo Glandma," jawab Alice dengan ceria.
Rama langsung terduduk lemas sembari menghembuskan napas lega karena sang bunda telah pergi dari hadapannya.
"Pantesan aja, dulu papa paling takut sama bunda." Tanpa disadari Rama, ternyata sang bunda tepat berada dibelakangnya.
Glek!
..........
"Nayra, bangun Sayang," panggil ibu Sri.
"Nanti aja Bu," ucap Nayra yang masih setengah sadar.
"Kok nanti, pagi ini kan kamu mau dilamar Sayang," ucap ibu Sri dengan lembut.
Mata Nayra langsung terbuka sempurna.
"Apa?" teriak Nayra dengan sangat keras.
__ADS_1
"Udah, kamu diem dan cepet mandi sana. Sebentar lagi, yang mau melamar kamu tiba," ujar ibu Sri.
"Tapi Nayra nggak mau Bu. Nayra aja belum kenal sama yang melamar Nayra," ucap Nayra yang dibuat sesedih mungkin agar sang ibu bisa berubah pikiran.
"Kamu kenal kok, sama orangnya."
"Memangnya siapa orangnya Bu?" tanya Nayra.
"Udah, kamu mandi dulu trus dandan yang rapi ya," ujar ibu Sri tanpa mau dibantah.
"Yaudah deh," ucap Nayra dengan pasrah.
Nayra sudah rapi dan wangi, dengan riasan make up tipis jadi terkesan tidak terlalu ... ah sudahlah, Author bingung.
"Assalamualaikum," salam beberapa orang yang masuk.
"Waalaikumsalam. Mari masuk," tawar ibu Sri dengan lembut.
Mereka bertiga pun duduk didepan Nayra dan juga ayah serta ibunya.
Sementara Nayra, dia terkejut dengan mulut menganga saat melihat orang yang mau melamarnya tersebut.
"Pak Rama?" tanya Nayra dengan terkejut.
"Iya Nay, dia Nak Rama. Orang yang mau kami jodohkan dengan kamu," ujar ayah.
"Tapi kami tidak mau menerimanya begitu saja, itu semua tergantung pilihan kamu Sayang. Apa kamu menerima Nak Rama untuk menjadi suami kamu atau tidak, itu keputusan kamu Nayra," tutur ibu Sri dengan lembut.
"Iya Nayra, Tante mau kamu jadi ibu sambung dari Alice, serta menantu Tante. Iyakan Alice?"
"Iya Glandma, Alice mau Kak Nayla jadi ibu balu Alice," ucap Alice dengan gembira.
"Jadi Nayra, bagaimana keputusan kamu?"
__ADS_1
Bersambung💖