
"Trus saya harus manggil Bapak dengan panggilan apa?" tanya Nayra sambil mengernyitkan dahinya, lantaran bingung harus memanggil Rama dengan panggilan apa.
"Panggil mas aja," saran Rama.
"Lho, kok kayak keliatan muda sih?" tanya Nayra.
"Maksud kamu, saya itu udah tua apa?" tanya Rama sambil ngegas.
"Sut ... Bapak bisa diem nggak? Ini Alice lagi bobo nih," ujar Nayra sambil memberi peringatan keras kepada Rama, untuk berbicara dengan pelan-pelan.
"Iya-iya. Tapi kamu belum jawab pertanyaan saya barusan."
Nayra lalu memutar matanya dengan malas, karena saat ini kaki Nayra sudah lelah berdiri sedari tadi.
"Iya, Bapak itu sudah tua," ucap Nayra dengan ketus dan langsung masuk kedalam kamar Alice.
Rama lalu memegangi wajahnya. "Apa aku memang setua itu? Dulu katanya aku tampan," gumam Rama.
Nayra lalu meletakkan Alice di kasur dengan perlahan, seraya mengelus pelan kepala Alice.
"Tidur ya nyenyak ya, Alice. Mami itu, sayang banget sama Alice," ucap Nayra dengan suara pelan dan halus.
Tanpa di sadari Nayra, ternyata Rama tengah mengamati interaksi yang dilakukan oleh Nayra terhadap Alice.
"Apa benar, Nayra memang seorang istri yang baik?" gumam Rama di depan pintu kamar Alice.
Nayra lalu berbalik dan terkejut saat melihat Rama tengah mengamati dirinya.
"Bapak ngapain ngeliatin saya? Udah mulai suka ya, sama saya?" tebak Nayra.
"Hah? Pede banget kamu, saya tadi lagi ngawasin Alice. Saya takut kalau kamu itu, mau macem-macem sama putri saya."
Nayra lalu terkejut saat Rama menduga dia akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Alice.
Dengan segera, Nayra menarik Rama keluar dari kamar Alice dan menatap sengit Rama.
"Ka-kamu kenapa natap saya sampai kayak gitu?" tanya Rama dengan gugup, saat dia melihat Nayra menatapnya dengan tatapan yang persis seperti tatapan milik Bunda Molly.
"Bapak kok bisa ngira saya mau melakukan hal hina itu?" tanya Nayra yang seperti akan murka.
__ADS_1
Glek!
'Apakah semua wanita semenakutkan ini?'
"Em ... sa-saya hanya mengira saja kok," ucap Rama sambil berkeringat dingin.
"Kalau begitu, sekarang tunjukin dimana kamar k-i-t-a," ucap Nayra sambil menekan kata 'kita.'
"Ke-kesini." Rama benar-benar seperti tikus yang di intai kucing. Nayra saat ini juga sedang kesal bercampur marah karena omongan Rama tadi.
Sampai lah mereka pada sebuah kamar dengan interior yang mewah. Pintu di buka, dan terlihat kasur berukuran besar dengan kamar yang terlihat sangat luas dan mewah.
"Bagus," ucap Nayra dengan dingin.
'Duh, kok aku jadi nggak nyaman ya, sama sikap Nayra yang begini.'
"Ee ... ka-kamu marah ya sama saya?" tanya Rama dengan ragu-ragu.
"Bapak mau tau?"
Rama lalu mengangguk. "Iya, saya mau tau."
"Lho kok begitu sih? Inikan kamar saya," ucap Rama yang tidak terima dengan keputusan Rama.
"Inget ya Pak, duit suami duit istri, duit istri duit ...?" Nayra melempar jawabannya kepada Rama.
"Istri ...," ucap Rama dengan pelan.
"Nah itu tau, kalau Bapak tanya saya marah apa enggak. Bapak pikirin aja sendiri," ucap Nayra sambil membanting pintu dengan sangat keras, dan berhasil membuat Rama terkejut.
"Aku harus tidur di luar tanpa bekal apa-apa?" gumam Rama di depan pintu kamar tersebut.
"Nih," ucap Nayra sambil memberi selimut serta bantal kepada Rama.
"Tapi saya belum ganti pakaian Nayra," ujar Rama.
"Bodo," ucap Nayra sambil menutup pintunya lagi.
Untung saja kamar Alice kedap suara, jadinya dia tetap bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Nasib-nasib."
"Lho, Bapak kok masih di luar?" tanya Pak Ujang.
"Kena usir istri, Pak," jawab Rama dengan seadanya.
"Masa baru nikah udah di usir aja," ucap Pak Ujang sambil menahan tawanya.
"Yaudah, ayo sekarang kita ngopi sambil main catur. Gimana Pak?"
"Boleh juga tuh Pak, ayolah."
"Eh, saya denger-denger istri Bapak itu masih SMA ya Pak?" tanya Pak Ujang.
"Iya Pak," ucap Rama apa adanya.
"Menurut Pak Ujang, saya ini pantas nggak sih, buat jatuh Cinta sama istri saya itu?" tanya Rama.
"Pantas saja sih Pak."
"Tapi saya masih jatuh Cinta sama almarhuma istri saya Pak," ujar Rama.
"Yo ndak boleh begitu dong Pak. Gini lho Pak, Bapak boleh Cinta sama siapa aja, tapi kalau Bapak sudah menikah. Bapak harus bisa menCintai istri Bapak dengan sepenuh hati," tutur Pak Ujang.
"Tapikan yang saya Cintai juga istri saya sendiri Pak."
"Sudah meninggal?"
Rama terdiam sebentar lalu mengangguk dengan pelan.
"Bapak ini, coba deh Pak. Bapak buka hati Bapak sedikit saja buat istri Bapak yang sekarang. Nanti kalau di ambil orang jangan nyesal ya Pak?" goda Pak Ujang.
"Siapa Pak?" tanya Rama dengan sedikit emosi.
"Ya ... bisa aja mantannya istri Bapak balik lagi buat ngerebut istri Bapak itu. Ati-ati ya Pak, kalau di ambil orang nanti, Bapak bakalan menyesal seumur hidup."
"Nggak bakal Pak."
"Yakin Pak?"
__ADS_1
Bersambung💖