Mengejar Cinta Guru Tampan

Mengejar Cinta Guru Tampan
Jangan Panggil Bapak


__ADS_3

"Jangan-jangan kamu h*mo lagi," celetuk Bunda Molly.


Setelah mendengar hal tersebut, Varell dan Bila melotot sembari membuka mulutnya lebar-lebar.


"Kenapa? Kok kalian ngeliatin bunda sampai segitunya?" tanya Bunda Molly saat melihat Varell dan Bila melotot kearah Bunda Molly.


"Bunda kok malah ngira aku h*mo sih, masa orang ganteng kayak aku malah di kira h*mo," ucap Varell yang kesal akan ucapan luar biasa dari sang bunda.


"Ya kali aja kan. Soalnyal bunda belum pernah liat kamu deket sama cewek lain, bunda takut kalau kamu ini ada kelainan." Varell hanya bisa menggelengkan kepala karena tingkah dari sang bunda.


Bila pun hanya bisa terkekeh pelan saja saat Bunda Molly mengira bahwa Varell itu ada kelainan.


Sementara, Varell hanya bisa mendengus kesal sembari memutar matanya.


"Udah, buruan jalan. Nanti kemaleman, kasihan Bila di tunggu ibunya," tutur Bunda Molly.


"Iya Bun."


Setelah tadi mereka berhenti cukup lama. Barulah mereka jalan lagi, mengingat hari sudah mulai malam.


..........


Kita kembali ke Nayra dan Rama, serta Alice yang tengah pulang bersama.


"Akhilnya Alice punya Mami, yey," ucap Alice dengan kegirangan.


"Iya, Alice seneng nggak kakak Nayra jadi mami barunya Alice?" tanya Nayra.


"Ceneng banget Mami." Rama hanya menyimak pembicaraan antara Nayra dan Alice. Karena dia sedang fokus dengan jalan yang ada di depannya.


"Daddy kok dali tadi diem aja cih?" tanya Alice.


"Trus daddy harus ngomong apa, Alice?"


Setelah mendengar jawaban dari Rama, Alice langsung berpikir dengan keras karena bingung mau menjawab apa.


"Em ... apa ya? Mami, Daddy haluc ngomong apa ya?" Alice melempar jawabannya kepada Nayra.


"Ah ... mending kita bahas nanti aja ya?" Nayra mengalihkan pembicaraan yang membuat bingung ini.


Rama tersenyum saat melihat Nayra bingung mau menjawab apa, dan mengalihkan pembicaraan tersebut.

__ADS_1


Tidak lama berselang, Alice pun tertidur, dan hanya menyisakan Nayra serta Rama yang masih bangun. Inilah kesempatan Rama untuk menggoda Nayra.


"Siap-siap besok ya," ucap Rama di samping telinga Nayra.


Glek!


"Siap-siap apa ya, Pak?" tanya Nayra dengan gugup.


"Siap-siap karena besok, kamu akan saya makan," goda Rama.


"A-ampun Pak, saya janji nggak akan menggoda Bapak lagi," mohon Nayra sambil menyatukan kedua tangannya.


"Terlambat," ucap Rama dengan singkat, padat, jelas, dan membuat Nayra merinding.


'Ini Guru tampan emang jagonya bikin gue kesel ya. Untung aja lo itu udah jadi suami gue.'


Nayra menatap Rama dengan tatapan kesal, dan Rama menyadari hal tersebut.


"Kamu kenapa natap saya dengan ekspresi begitu?" tanya Rama sambil fokus kearah depan.


"Bapak mau tau aja," ketus Nayra.


Tidak berselang lama, Nayra, Rama, serta Alice pun sampai di rumah baru mereka yang terlihat sangat mewah.


"Bapak yakin ini rumah kita?" tanya Nayra dengan nada tidak percaya.


"Yakin lah, ayo masuk."


Nayra lalu menggendong Alice yang tengah tertidur, dan segera mengikuti Rama menuju rumah mewah tersebut.


Rumah itu mempunyai model modern dengan lantai bertingkat dua, serta halaman yang luas. Jangan lupakan para pembantu disana.


"Selamat datang Tuan, Nyonya," salam para pembantu yang berjumlah kurang lebih dua puluh orang.


Nayra lalu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum canggung.


"Perkenalkan, saya adalah kepala para pembantu yang ada disini, nama saya Darmi," ucap seorang wanita paruh baya tersebut.


"Ini adalah tukang kebun disini, namanya Ujang."


"Perkenalkan Tuan, Nyonya. Saya Ujang."

__ADS_1


Rama dan Nayra lalu mengangguk. "Kalau begitu, saya dan Istri saya ini mau masuk dulu ya."


Pipi Nayra sedikit memerah saat Rama memanggil dirinya dengan sebutan 'istri.'


"Iya Tuan, silahkan."


Saat berada di dalam rumah, Nayra kembali terkagum dengan pemandangan yang ada di dalam rumah mewah tersebut.


"Mewah banget Pak," ucap Nayra sambil melongo.


"Iya, saya memilih rumah ini karena nyaman buat ditinggali."


Nayra menanggipinya dengan anggukan saja sembari berjalan mengikuti Rama.


"Ayo kita tidur," ajak Rama.


"Kamarnya mana Pak?" tanya Nayra.


"Sini." Nayra lalu menaiki tangga dan berdiri di depan sebuah kamar.


"Ini kamar kita, dan di samping ini adalah kamar Alice," ucap Rama.


"Lho, Alice tidur nya terpisah ya Pak?" tanya Nayra.


"Iya. Biasanya dia juga tidur sendiri."


Glek!


Wajah Nayra memerah saat memikirkan bahwa dirinya akan tidur bersama dengan Rama.


"Kamu kenapa Nay?" tanya Rama.


"Sa-saya tidak papa kok Pak," bohong Nayra.


"Kamu jangan panggil saya bapak dong, saya kan jadi keliatan tua," ucap Rama.


"Trus saya harus manggil Bapak dengan panggilan apa?"


Bersambung💖


Maaf ya Kakak-Kakak, kemari nggak up, soalnya Kuota Author habis🙏😂

__ADS_1


__ADS_2