
"Tapi ngomong-ngomong, kamu kenapa senyum-senyum sendiri kayak tadi?" tanya Bunda Molly.
"Varell mau cariin menantu buat Bunda," jawab Varell dengan santai.
Sontak, mata Bunda Molly melotot saat mendengar jawaban dari Varell.
"Apa?" teriak Bunda Molly.
"Pelan-pelan Bunda," ujar Varell.
"Menantu?"
"Iya, menantu."
"Siapa wanita itu, Varell?" tanya Bunda Molly.
"Dia adalah ...." Varell menjeda ucapannya sebentar, karena ingin membuat Bunda Molly penasaran terlebih dahulu.
"Ish, buruan Varell. Kamu jangan buat bunda penasaran dong," kesal Bunda Molly karena Varell dengan sengaja menjeda ucapannya.
"Varell nggak mau kasih tau Bunda ah," goda Varell.
Bunda Molly yang kesal dengan tingkah anak angkatnya ini, langsung melayangkan tamparan di punggung Varell.
"Aduh ...!" teriak Varell saat punggungnya di tampar oleh Bunda Molly.
"Sakit Bunda," ucap Varell sambil menggosok-gosok punggungnya yang sakit.
"Gitu doang kok sakit. Cowok kok lemah si Rell," hadik Bunda Molly.
"Ish, Bunda Molly kok tega sih sama Varell."
"Udah lah, nggak usah lebay. Sekarang jawab pertanyaan bunda tadi. Siapa wanita itu?"
"Iya-iya, namanya itu Bila," ucap Varell dengan kesal.
"Serius?" tanya Bunda Molly dengan suara yang keras.
"Iya, serius Bunda."
"Yes ... akhirnya impian bunda terwujud," ujar Bunda Molly.
"Lho, kok gitu?" tanya Varell yang tidak mengerti maksud dari Bunda Molly.
"Iya. Karena, bunda sudah membayangkan kamu sama Bila itu menikah Rell."
"Terserah Bunda deh. Rama mau pergi keluar dulu. Eh, btw, Rama sama Nayra jadi bulan madu kan, Bunda?" tanya Varell.
"Harusnya sih jadi. Coba bunda telpon Rama dulu," ucap Bunda.
__ADS_1
Varell lalu mengangguk, dan Bunda Molly mulai mengambil handphonenya untuk menelepon Rama.
"Halo, assalamualaikum Ram," salam Bunda Molly.
"Waalaikumsalam Bunda. Ada apa Bunda? Tumben telpon Rama?" tanya Rama.
"Bunda mau tanya."
"Tanya apa Bunda?"
"Kamu jadi kan, bulan madu sama Nayra?" tanya Bunda Molly dengan semangat.
"Em ... kayaknya sih ... jadi ya Bun," ucap Rama dengan ragu.
"Kok kayaknya sih?"
"Ya mau gimana lagi, Rama takut kalau ada meeting dadakan Bunda," ucap Rama.
"Oalah, kalau soal itu kamu tenang aja Ram," ujar Bunda Molly.
"Lho, kok gitu Bunda?"
"Masalah kantor kamu, biar Varell yang tanganin," ucap Bunda.
Varell seketika melotot saat mendengar ucapan dari Bunda tersebut.
"Yaudah, kamu ajak Bila ke kantornya Rama aja. Biar tambah romantis," saran Bunda Molly.
"Kantor kok romantis sih Bun?"
"Abang mau nembak Bila ya?" tanya Rama dari telepon tersebut.
"Eh, e-enggak kok Ram. A-abang cuma mau ngajak Bila jalan aja kok," ucap Varell dengan terbata-bata.
"Iya deh, Rama percaya."
"Jadi gimana Rell, kamu mau kan. Buat gantiin Rama sebentar?" tanya Bunda Molly.
Varell terdiam. Dia bingung dengan situasi yang sedang di hadapinya ini.
"Mau ya Bang, nanti Rama bakalan kasih keponakan yang banyak buat Abang deh," ucap Rama.
"Tuh, keponakan lho Rell. Kamu suka anak kecil kan?" tanya Bunda.
Varell lalu menghela napas sebentar. "Oke-oke, Varell bakalan gantiin tempatnya Rama sebentar. Tapi awas aja ya Ram, kalau pas kamu pulang, perut Nayra belum kembung. Abang sikat kamu," ucap Varell.
"Iya Bang, santai aja. Pokoknya terima beres deh," ucap Rama.
Rama dan Bunda Molly tentunya sangat senang dengan keputusan Varell, namun tidak dengan Varell sendiri.
__ADS_1
"Varell tinggal dulu bentar ya, Bunda."
"Lho, mau kemana Rell?" tanya Bunda Molly.
"Mau ngabarin Bila, kalau Varell mau ngajak Bila jalan ke kantor Rama," ucap Varell dengan malas.
"Oh." singkat, pada, dan jelas.
'Cuma oh? Dah lah, mendingan aku ngabarin Bila dulu.'
Setelah Varell pergi dari hadapan Bunda Molly, barulah Bunda Molly melanjutkan percakapannya dengan Rama.
Percakapan yang memakan waktu cukup lama, untung saja mereka berdua tidak menggunakan pulsa, melainkan wifi. Jadinya hemat.
Varell yang sudah mojok di dalam kamarnya, menyiapkan hati terlebih dahulu, dan langsung menelepon Bila.
"Assalamualaikum, Bil," salam Varell.
"Waalaikumsalam, ada apa lagi Kak?" tanya Bila.
"Ee ... ini Bil, Kakak cuma mau bilang ...." Varell bingung harus mengatakan apa.
"Halo Kak?"
Varell tepelonjat kaget saat Bila memanggil dirinya. "Eh, iya Bil. Maaf ya, tadi Kakak ngelamun sebentar. Ini, Kakak cuma mau bilang, gimana kalau kita jalan berdua di kantor Rama aja?" usul Varell.
"Gimana, kamu mau nggak?"
"Aku ...."
Bersambungđź’–
Kira-kira, Bila mau nggak ya?🤔sembari menunggu, Author mau rekomendasiin karya Kakak Author nih, di jamin bagus pol👌
Judul Novel: Duda Vs Anak Perawan
Napen: Santi Suki
eorang duda beranak satu yang baru saja ditinggal oleh Aisha–istrinya yang meninggal karena kecelakaan. Dia harus membesarkan Asiah–putrinya– seorang diri karena ibunya harus merawat ayahnya yang sakit stroke. Yusuf dan Asiah tinggal di apartemen milik perusahaan yang khusus diberikan oleh Sarah, CEO sekaligus putri pemilik perusahaan tempat dia bekerja sebagai Direktur Keuangan. Yusuf juga bertetangga dengan Zulaikha, seorang siswi SMA yang kurang kasih sayang orang tua dan suka menggoda dirinya, tetapi begitu sayang kepada Asiah. Zulaikha juga selalu terang-terangan bilang cinta dan sayang sama Yusuf. Namun, Yusuf selalu menganggapnya angin lalu.
Asiah selalu dititipkan di sebuah penitipan anak yang merangkap dengan lembaga pendidikan anak dini. Di sana mereka bertemu dengan Bilqis, mahasiswi magang yang mengingatkan pada sosok Aisha. Membuat Yusuf mulai terpaut hatinya karena kealiman dan kelembutan sifatnya. Namun, cintanya mendapat pertentangan dari keluarga Bilqis karena statusnya duda beranak satu.
Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah yang aktif dan sering membuatnya mati kutu?
Siapa yang mendapatkan cinta Yusuf?
Sarah anak perawan yang anggun dan cerdas? Zulaikha anak perawan penggoda dan jahil? Atau Bilqis anak perawan yang sholehah dan penyabar?
__ADS_1