
"Nyo-Nyonya kenapa manggil kita dengan panggilan Kakak?" tanya salah seorang pembantu tersebut.
"Biar lebih akrab aja, gitu Kak," ucap Nayra.
Para pembantu tersebut hanya mengangguk sembari tersenyum. Nyonya baru mereka ternyata tidak seburuk yang mereka bayangkan.
"Nyonya, saya mau tanya dong."
"Mau tanya apa Kak?"
"Nyonya cara dapet duren kayak Tuan itu, caranya kayak gimana sih?" tanya salah seorang pembantu tersebut.
Setelah mengatakan hal tersebut, para pembantu yang ada di sana juga menatap Nayra dengan tatapan ingin tahu.
Nayra lalu menghentikan aktifitas mencuci pirinya sebentar dan menatap balik para pembantu yang ada di sana.
"Kalian mau tau caranya?" tanya Nayra.
Para pembantu tersebut lalu mengangguk dengan antusias sembari tersenyum penuh arti.
"Dulu itu, yang ngejar-ngejar aku adalah Mas Rama, dia sangat tergila-gila kepada Nayra. Bahkan, Nayra dulu sering menolak dia," ucap Nayra untuk menyombongkan dirinya sendiri.
Pembantu-pembantu tersebut menatap Nayra dengan tatapan sulit di percaya. Rama yang terkenal dingin kesemua wanita setelah sang istri meninggal, justru malah mengejar Nayra yang masih berstatus pelajar.
"Wah, Nyonya memang hebat," ucap salah seorang pembantu.
"Iya, Nyonya bisa membuat Tuan Rama yang dingin itu jadi mengejar-ngejar Cinta Nyonya."
Tanpa mereka sadari, Rama tengah mengamati kejadian barusan, dan mengulum senyum, setelah melihat tingkah Nayra.
"Jadi yang ngejar saya nih?" tanya Rama sembari masuk ke dalam dapurnya.
Deg!
Nayra jadi salah tingkah, saat Rama mengetahui apa yang tadi dia bicarakan.
Para pembantu tersebut juga menunduk ketakutan saat Rama datang kearah mereka.
"Ee ... Mas sudah berapa lama ada di situ?" tanya Nayra dengan gugup.
'Aduh, ketahuan nggak ya?'
Nayra sudah berkeringat dingin saat Rama menghimpit dirinya sembari berbisik dengan suara berat.
"Saya mendengar semua yang kamu katakan tadi Nayra," ucap Rama di samping telinga Nayra.
'Mampus dah gue, Mas Rama pake tau lagi.'
"Me-memangnya apa yang sudah Mas dengar dari Nay?" tanya Nayra sambil ketakutan.
Para pembantu tersebut juga ketakutan saat melihat senyum Rama yang bisa di bilang, sangat menakutkan.
__ADS_1
"Kamu bilang, kalau saya lah yang mengejar kamu dan saya juga tergila-gila sama kamu," ujar Rama.
Glek!
'Tuh kan, ni mulut bisa-bisanya ngomong kayak gitu sih.'
"Na-Nay minta maaf ya Mas, Nay tadi salah ngomong."
"Baiklah, saya maafkan. Tapi, kamu harus siap-siap nanti malam ya," goda Rama.
"Na-nanti ma-malam ada apa ya Mas?" tanya Nayra dengan terbata-bata.
"Nanti malam kan, kita mau bulan madu Sayang," ucap Rama dengan suara beratnya.
Para pembantu tersebut langsung gembira. Karena sebentar lagi, akan muncul anggota keluarga baru di keluarga Dewangga.
"Bu-bulan madu Mas?" tanya Nayra yang takut kalau pendengarannya salah.
"Iya Sayang," jawab Rama.
'Pasrah ajalah.'
Nayra lalu tersenyum paksa karena dia tidak mungkin bisa melawan perintah Rama yang ingin meminta haknya.
..........
Bila yang tengah memasak di dapur, tiba-tiba terkejut saat melihat ponselnya berdering.
"Ee ... Bil, nanti malam, kamu ada rencana nggak?" tanya Varell sambil menggaruk tengkuknya.
"Em ... nggak ada sih Kak. Memangnya ada apa ya Kak?"
"Ini Bil, ee ... Kakak mau ...." Varell mengelap keringat di dahinya dengan tisu.
Varell saat ini benar-benar gugup, Varell merasa sangat sulit untuk mengucapkan sesuatu yang ada di ujung lidahnya.
"Mau apa Kak?" tanya Bila.
"Ee ... gimana ya, cara ngomongnya."
"Kalau nggak ada yang mau Kakak omongin, Bila tutup dulu ya. Ini Bila lagi masak soalnya," ucap Bila.
Varell langsung gelagapan saat Bila mengatakan kata 'tutup' tersebut.
"Ja-jangan dulu Bil!" teriak Varell.
"Huft ... yaudah buruan, Kakak mau bilang apa?"
"Ka-kamu mau nggak, Kakak ajak jalan nanti malem?" tanya Varell.
Bila terdiam. Keadaan di dalam telepon hening seketika, setelah Varell mengatakan niatnya tersebut.
__ADS_1
"Bil," panggil Varell.
"Eh, iya Kak, ada apa?" tanya Bila yang sudah tersadarkan dari lamunannya.
"Jadi gimana, kamu mau nggak, Kakak ajak jalan bareng nanti malem?" tanya Varell.
"Bi-Bila ... em ... gimana ya Kak."
"Plis Bil, mau ya?"
"Em ... okelah, Bila mau. Tapi jam berapa Kak?" tanya Bila yang sudah setuju.
"Kira-kira jam delapan malam. Kamu bisa kan?"
"Iya Kak, Bila bisa kok. Kalau begitu, teleponnya Bila tutup ya, ini Bila mau lanjut goreng dulu," ucap Bila.
"Iya Bil," jawab Varell.
Setelah telepon di tutup, hati Varell serasa penuh dengan bunga. Dia senang karena Bila tidak menolak ajakan darinya.
'Yes ... untung aja Bila nggak nolak ajakan aku.'
Varell tanpa sadar senyum-senyum sendiri, dan Bunda Molly melihat hal tersebut.
"Kenapa kamu Rell? Kok senyum-senyum sendiri, kamu masih waras kan?" tanya Bunda Molly sambil menyentuh dahi Varell.
"Ish, Bunda apa-apaan sih. Varell itu masih waras Bun," kesal Varell.
"Ya kirain. Soalnya, kamu senyum-senyum sendiri kayak gitu, bunda takut kalau kamu udah nggak waras," canda Bunda Molly.
Varell hanya memutar matanya dengan malas. Bagaimana bisa, seorang Varell Dewangga di kira tidak waras.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu kenapa senyum-senyum sendiri kayak tadi?" tanya Bunda Molly.
"Varell mau cariin menantu buat Bunda," jawab Varell dengan santai.
Sontak, mata Bunda Molly melotot saat mendengar jawaban dari Varell.
"Apa?" teriak Bunda Molly.
"Pelan-pelan Bunda," ujar Varell.
"Menantu?"
"Iya, menantu."
"Siapa wanita itu, Varell?" tanya Bunda Molly.
"Dia adalah ...."
Bersambung💖
__ADS_1