
"Ada apa ini?" tanya ayah.
Ayah dan ibu Sri yang baru tiba setelah memasak makanan untuk mereka makan, sedikit terkejut karena melihat bunda Molly mau menampar Rama.
"Ada apa ini Bu? Kenapa Rama mau ditampar, dan kayaknya Rama udah ditampar deh," ucap ibu Sri yang melihat bibir kiri Rama sedikit sobek.
"Ini, Rama dengan berani bilang kalau dia itu tadi mencium Nayra!" bentak bunda Molly.
Kedua orang tua Nayra saling pandang sebentar. "Oh," jawab orang tua Nayra dengan singkat, padat, dan jelas.
"Kok cuma oh?" tanya bunda Molly yang tidak percaya.
"Ini Nayra udah dilecehkan sama Anak saya lho," ucap bunda Molly dengan kesal.
"Mereka minggu depan kan mau menikah, Bu," tutur ibu Sri.
Ibu Sri lalu berjalan mendekati bunda Molly dan mengelus-elus pundaknya.
"Sabar ya Bu, tenang," ujar ibu Sri dengan lembut.
Emosi bunda Molly yang tadi sudah memuncak kini sedikit reda. Bunda Molly lalu menghela napas panjang.
"Oke, saya tenang," ucap bunda Molly dengan sedikit ketus.
"Nah, gitu dong. Kasihan Nak Rama," ujar ibu Sri.
"Nay, sini Nak," panggil ayah.
Nayra dan Alice yang sedang bermain di halaman depan langsung masuk setelah mendengar panggilan dari ayah.
"Ada apa ya, Yah?" tanya Nayra yang baru saja tiba sambil menggendong Alice.
"Kamu obatin luka Nak Rama gih," ucap ayah.
"Lho, Pak Rama emang kenapa Yah?" tanya Nayra yang tidak mengerti.
"Kamu lihat sendiri tuh," ucap ayah sambil menunjuk kearah luka Rama.
"Ya ampun, Pak Rama kenapa, Yah?" tanya Nayra dengan terkejut.
__ADS_1
"Udah, kamu sekarang ambil kotak P3K dan obatin Nak Rama," ujar ayah.
Nayra lalu mengangguk dan segera menuju kamar untuk mencari kota P3K miliknya, sambil menggendong Alice.
"Daddy kenapa ya, Mami?" tanya Alice yang tadi melihat pipi Rama sedikit berdarah.
"Nggak tau juga Mami, ayo kita obatin daddy," ajak Nayra.
"Ayo," ucap Alice dengan semangat.
Nayra sedikit kaku saat memanggil dirinya dengan sebutan Mami.
Mungkin dia memang harus membiasakan diri dengan panggilan barunya.
"Sini Pak, saya obatin," tawar Nayra.
"Biar saya sendiri saja," ucap Rama dengan jutek.
"Ram!" pekik bunda Molly dengan tatapan penuh peringatan.
"Udah Bu, tenang ya, Bu," ucap ibu Sri.
"Saya akan pelan-pelan ya, Pak?"
"Hem," ucap Rama dengan singkat.
'Ih, kan aku yang disakiti disini, gara-gara ciuman pertama aku diambil. Dasar Guru nyebelin, tapi tampan.'
Tanpa sadar, Nayra senyum-senyum sendiri dan hal itu cukup membuat Rama takut.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Nay?" tanya Rama yang melihat Nayra dengan tatapan aneh.
"Hah? Apa Pak?" tanya Nayra yang baru saja tersadarkan dari lamunannya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Nayra?" tanya Rama lagi.
"Oh itu, Nayra ee," ucap Nayra dengan gugup.
"Ee apa?"
__ADS_1
"Aduh!" pekik Rama saat Nayra tanpa sengaja menekan dengan keras luka Rama.
"M-maaf Pak," ucap Nayra dengan menyesal.
"Lain kali hati-hati dong!" ucap Rama dengan sedikit membentak.
'Uh, nyebelin banget sih ni Guru. Untung aja tampan, kalo enggak udah gue gibeng lo.'
"Mata kamu kenapa menatap saya sampai begitunya?"
"Enggak papa kok Pak," ucap Nayra sambil nyengir.
"Pak, ngomong-ngomong. Saya mau tanya, Bapak kenapa mau dijodohin sama saya?" tanya Nayra.
"Saya mau nyoba aja, gimana rasanya nikah sama bocah kayak kamu," ucap Rama sambil menyentil kening Nayra.
"Aduh, Pak Rama ini. Aku itu bukan bocah tau!" ucap Nayra sambil memegangi keningnya.
"Oh ya?" tanya Rama sambil meremehkan Nayra.
"Iya."
"Apa buktinya?"
"A-aku bisa menghibur Bapak," ucap Nayra.
"Hah? Apa maksudnya?" tanya Rama yang tidak mengerti dengan maksud Nayra.
Tanpa aba-aba, Nayra langsung mendorong Rama dan duduk diatas tubuh Rama.
"K-kamu mau apa Nay?"
"Saya mau Bapak~" ucap Nayra dengan suara yang dibuat manja.
"S-stop Nay," titah Rama dengan gugup.
"Tadi katanya saya bocah. Karena itu, saya mau membuktikan kepada Bapak kalau saya itu bukan bocah."
"Astaghfirullahaladzim."
__ADS_1
Bersambung💖