
"Iya bro, aku baik banget kok. Kabar lu sendiri gimana?" tanya Varell.
"Baik juga kok bro. Eh btw, dia siapa? Pacar lo ya?" tanya Jarot sembari melihat Bila.
"Namanya Bila, dan dia itu adalah ... Eee, temen. Nah itu."
Jdar!
Bagai tersembar petir di siang bolong, hati Bila terasa hancur dan sesak saat mendengar pengakuan yang dilontarkan Varell kepada Sahabatnya itu.
'Ada apa denganku? Bukankah memang benar kalau aku dan Kak Varell itu cuma teman. Tapi kenapa rasanya sesakit ini saat mendengar pengakuan dari Kak Varell ya Allah. Apa ini Cinta?"
Pikiran Bila dipenuhi oleh teka-teki yang membingunkan pikiran serta hatinya. Apa itu Cinta? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Bila saat ini.
"Cantiknya. Salam kenal Dek Bila, aku Jarot, panggil aja Bang Jarot. Tapi kalau mau manggil Sayang boleh-boleh aja sih."
"Sa ae lu mie sapi."
"Jyahh ... Yaudah, gue tinggal dulu ya," pamit Jarot.
"Iya. Nanti ketemu lagi."
Saat Varell menengok kearah Bila, Varell terkejut. Ternyata sedari tadi Bila hanya melamun dengan tatapan kosong.
"Bil? Kamu nggak papa kan?" tanya Varell dengan nada khawatir.
Pertanyaan Varell sontak menyadarkan Bila dari lamunan panjangnya. "Eh? I-iya kak. Bila nggak papa kok," jawab Bila sambil tersenyum.
"Trus kenapa melamun? Kamu lagi ada masalah?"
"Bi-Bila enggak papa kok kak."
"Yaudah kalau begitu, ayo duduk."
__ADS_1
"Iya kak."
Kita tinggalkan dulu dua orang itu dan kembali ke Rama dan Nayra.
"Bun. Adeknya belom jadi ya?" tanya Alice polos.
"Eh ... a-adek?" tanya Nayra gelagapan.
"Iya bun. Katanya kalau cudah pulang bunda cama daddy mau bawain Alice adek. Tlus adeknya mana bun? Kok nggak ada dali kemarin."
"Emm ... Nanti ya Alice, adeknya kan masih proses. Masa langsung jadi sih," tutur Nayra lembut.
"Benal juga ya, yaudah deh. Ayo main lagi bunda," ajak Alice.
"Iya, ayo ...!" teriak Nayra dengan semangat.
Mereka berdua tertawa sampai tidak sadar kalau ada dua pasang mata yang tengah mengawasi gerak-gerik mereka. Siapa dia?
'Hatiku kok jadi hangat gini ya kalau melihat Nayra sama Alice main bareng gini.'
"Ahh ... Ini semakin membingungkan," ucap Rama frustasi.
Saat tengah memikirkan apayang terjadi dengan dirinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Ya, ada apa?" tanya Rama.
"Ma-maaf pak. Ini ada meeting dadakan pak," ucap sekretarisnya dengan gugup.
"Inikan hari minggu," ucap Rama dengan intonasi tegas.
"I-iya pak. Tapi meeting ini penting karna Predir dari SW Group ingin bertemu dengan bapak hari ini juga."
'Hmm ... Tak kusangka, orang penting seperti Presdir dari SW Group ingin menemuiku saat ini.'
__ADS_1
"Ya sudah. Kamu sudah siapkan tempat meeting kita kan?"
"Sudah pak. Beliau ingin menemui anda di Restoran xx segera."
"Baik. Sampaikan padanya kalau aku akan datang."
Rama pun segera mengganti pakaian santainya menjadi pakaian formal yang biasa dia pakai di Kantor.
"Nayra, Alice," panggil Rama.
Kedua wanita itu langsung menoleh kearah sumber suara.
"Iya dad/iya mas?" kedua wanita itu menjawab bersamaan.
"Daddy mau kekantor dulu ya," pamit Rama.
"Lho, bukannya ini hari minggu ya mas?" tanya Nayra yang heran.
"Iya, tapi tadi ada meeting dadakan dan mas akan bertemu langsung dengan Presdir dari SW Group Nay," ucap Rama dengan nada bahagia.
"Syukurlah kalau begitu mas."
"Yaudah, mas pergi dulu ya. Assalamualaikum," salam Rama.
"Waalaikumsalam."
Saat diperjalanan, Rama terus memikirkan siapakah wajah dari Presdir SW Group yang misterius.
"Siapa dia?"
Bersambung..
Maaf teman-teman. Kuota author sering abis"(
__ADS_1