
"Kak kok dari tadi diem aja sih, Kakak marah ya sama Bila?" tanya Bila yang sudah kesekian kalinya.
"Sudah kakak bilangin Bila, kakak itu nggak marah, ngerti nggak sih?" bentak Varell tanpa sadar.
Varell baru sadar kalau dia barusan membentak Bila. Varell langsung menatap Bila yang sudah tertunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bil, aku ...." belum sempat mengucapkan perkataannya. Bila sudah memotong ucapan Varell.
"Tidak papa Kak, Bila mengerti kok. Bila hanya seorang perempuan dari kalangan biasa Kak. Jadi, Bila tidak pantas mendapatkan permintaan maaf dari Kakak," ucap Bila.
Bila terdiam sejenak, dan Varell menunggu Bila menyelesaikan ucapannya.
"Justru, Bila lah yang harusnya minta maaf sama Kakak. Maaf kalau selama ini Bila ada salah sama Kakak," imbuh Bila.
Bila tidak bisa lagi membendung air matanya. Air mata yang sedari tadi dia tahan, kini mulai keluar dengan isakan Bila.
Varell lalu menghentikan mobil mereka di tepi jalan untuk menenangkan Bila yang tengah menangis.
"Bila, kakak nggak bermaksud unt ...."
Lagi-lagi, ucapan Varell terpotong kala Bila semakin menangis dengan kencang.
"Pas-pasti Kakak mau marahin Bila kan? Marahin aja Kak ... tapi hiks ... jangan diemin Bila. Bila nggak kuat kalau Kakak diemin Bila kayak gini, hiks ..." isak Bila.
Varell dengan cepat langsung memeluk Bila, dan menenggelamkan wajah Bila ke dalam dada bidangnya, agar Bila menjadi tenang.
"Hiks ... ja-jangan diemin Bila Kak, Bila nggak mau di diemin Kakak, hiks ...," isak Bila dalam dekapan Varell.
__ADS_1
"Sutt ... sutt, tenang ya Bil, maafin kakak karena udah diemin Bila, kakak salah Bil. Maafin kakak ya?" ujar Varell sambil mengelus-elus kepala Bila.
Setelah Varell selesai berbicara, Bila semakin mengeraskan suara tangisannya lagi.
"Huaa ... Kakak pasti ngomong kayak gitu buat nenangin Bila aja kan, hiks ...," isak Bila lagi.
Varell semakin menenggelamkan kepala Bila di dada bidang miliknya, dan Bila mulai tenang setelah mendapatkan kehangatan dari sosok yang bernama Varell Dewangga.
"Sudah-sudah, tenang ya Bil," ujar Varell dengan lembut.
Setelah Bila tenang, baru lah Varell melepaskan pelukannya dan menyeka sudut mata Bila yang basah.
"Bila mau maafin kakak kan? Kakak tadi cuma sedikit kesal aja saat Bila mengatakan apa yang di katakan oleh ibu Bila hanya sebuah candaan semata. Kakak nggak mau itu Bil."
Varell lalu mengangkat wajah Bila, dan menatap mata Bila dalam-dalam. Varell mengagumi wajah Bila. Karena Bila memiliki mata yang teduh, wajah cantik, serta tubuh bak gitar Spanyol.
"Apa Kak?" tanya Bila dengan muka yang memerah.
Tanpa basa-basi lagi, Varell langsung mencium Bila hingga membuat Bila merasa bingung.
Varell yang awalnya hanya mencium biasa kini mulai terlena dengan bibir manis milik Bila dan ******* bibir manis tersebut.
"Eugh ... Kaa ... Kak," lenguh Bila.
Varell semakin melancarkan serangannya setelah mendengar d*sahan Bila yang terdengar sangat merdu di telinga Varell.
"Kakk ... sst ... topp ...," lenguh Bila.
__ADS_1
L*matan tersebut semakin penuh hasrat, hingga keduanya tersadarkan oleh suara klakson mobil.
"Woi, buruan jalan!" bentak orang tersebut sambil mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.
"Iya nih, lama!"
Saat keadaan semakin ricuh, Varell segera menancap pedal gasnya dalam-dalam, dan segera pergi dari sana.
"Huft ... untung aja selamat," ucap Varell sambil mengelus-elus dadanya.
"Kakak ni!" ucap Bila.
"Lho, emangnya kakak ngelakuin apa Bil?" tanya Varell.
"Kakak tadi kan sudah ... emm." Bila tidak berani melanjutkan perkataannya barusan.
Bila masih malu dengan kejadian yang menimpanya tadi, benar-benar memalukan. Bahkan, pipi Bila sampai memerah karena menahan malu.
"Kenapa Bil? Kakak tadi emangnya ngapain kamu?" goda Varell.
"Ka-Kakak ...."
"Hmm ... kamu mau coba lagi?"
Bersambung💖
Maaf ya Kakak-Kakak karena Author kemarin nggak up. Soalnya kuota Author habis🙏😭
__ADS_1