
"Me-mencicipi a-apa ya Pak?" tanya Nayra dengan gugup.
"Mencicipi kamu lah, kita buktikan apakah tubuhmu itu ses*xy yang kamu bilang."
'Duh, kok malah gue sih yang dipojok'an disini.'
Nayra kesal bercampur malu saat Rama mengatakan hal tersebut. Harusnya Nayra lah yang mengancam Rama, tapi kenapa justru terbalik.
"Kalian kenapa?" tanya bunda Molly saat melihat Nayra dan Rama seperti sedang berbisik.
"Hah? Eh, ee ... ka-kami nggak kenapa-kenapa kok Bun, iyakan Nay?" Nayra sebenarnya tidak ingin membohongi bunda Molly. Tapi dia tidak punya pilihan lain lagi.
"I-iya Bunda," bohong Nayra.
'Hiks, dasar Guru tampan, bikin gue bohong di depan mertua gue aja. Inikan hari pertama gue jadi menantu, masa udah bohongin mertua sendiri sih. Huh, sebel.'
Nayra langsung menatap Rama dengan tatapan kesal, karena Rama lah. Nayra jadi harus berbohong kepada bunda Molly yang sudah berstatus mertuanya.
"Oh, okelah." kegiatan yang di gelar secara sederhana, berjalan dengan lancar.
Para saksi serta penghulu juga sudah pulang, begitupun dengan Rama dan Nayra yang akan pulang kerumah mereka sendiri, dengan Alice tentunya.
"Kami pulang dulu ya, ayo Rell. Kamu anterin juga tuh si Bila, tadi Bunda liat, dia kesini pake ojek," ujar bunda Molly yang tidak tega meninggalkan Bila sendirian. Mengingat Bila pernah hampir di p*rkos* oleh beberapa b*j*ng*n.
"Siap Bun."
"Assalamualaikum/accalamualaikum," salam Rama, Nayra, dan juga Alice.
"Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang ada disana.
Setelah mobil yang di kendarai oleh Rama pergi, barulah Varell mengajak Bila untuk pulang bersama.
"Bil," panggil Varell.
__ADS_1
"Eh, iya Kak, ada apa ya Kak?" tanya Bila dengan sopan.
"Kamu mau pulang bareng Kakak sama Bunda Molly nggak?" tawar Varell.
"Eh, e-enggak usah Kak, Bila bisa pulang sendiri kok," tolak Bila dengan halus.
Varell lalu tersenyum sendu. "Jangan menolak Bil, Kakak nggak mau kamu ngalamin kejadian kayak waktu itu."
Bila lalu terdiam sejenak sembari memikirkan apa yang dikatakan oleh Varell.
'Benar juga apa kata Kak Varell, kalo gue di l*cehin kayak waktu itu gimana dong?'
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bila menyetujui ajakan dari Varell untuk pulang bersama.
"Baiklah Kak, Bila mau ikut pulang bareng Kakak." akhirnya Varell membawa Bila ke tempat bunda Molly untuk pulang bersama.
"Maaf ya Tan, jadi ngerepotin kalian," ucap Bila dengan tidak enak hati.
"Nggak papa Bil, sekalian aja. Tante nggak mau, tragedi yang menimpa kamu waktu itu terulang lagi."
"Waalaikumsalam," jawab ayah dan ibu Sri.
Saat berada di dalam mobil, bunda Molly dan Bila mengobrol santai, dan sesekali mereka tertawa.
"Kamu kenal sama Nayra udah dari lama ya?" tanya bunda Molly.
"Lumayan Tan, dulu Bila kenal sama Nayra pas masih kecil," ujar Bila.
"Dari kecil sampai SMA kalian barengan terus?" tanya bunda Molly.
"Dulu kami sempat berpisah beberapa tahun, dan baru bertemu lagi pas SMA Tan." bunda akhirnya mengerti, tentang bagaimana awal Nayra dan Bila berteman baik. Bahkan sampai ketingkat sahabat.
"Kalian ngomongin apasih? Sampai lupain Varell," ucap Varell yang masih fokus dengan jalan didepannya.
__ADS_1
"Mau tau aja kamu, ini itu urusan para perempuan."
Bila hanya menanggapi pembicaraan antara Varell dan bunda Molly dengan senyuman manisnya saja.
"Bil, Tante mau tanya sesuatu sama kamu."
"Mau tanya apa Tan?"
"Kamu udah punya pacar apa belum?"
"Be-belum Tante, emang kenapa ya Tan?" tanya Bila.
"Wah, kalau gitu kamu mau nggak, nikah sama Varell," celetuk bunda Molly.
Varell yang mendengar ide 'luar biasa' dari bundanya tersebut, langsung menginjak rem mobil dengan keras, dan membuat bunda Molly dan Bila terkejut.
"Kamu apa-apaan sih Rell?" teriak bunda Molly.
"Bu-Bunda ke-kenapa bicara sembarangan be-begitu sih?" tanya Varell dengan pipi yang memerah.
"Emang apa salahnya sih? Lagi pula, kamu itu belum pernah deket sama cewek manapun. Bunda jadi curiga sama kamu," ucap bunda Molly sambil menatap Varell dengan tatapan curiga.
"Cu-curiga kenapa Bunda?" tanya Varell dengan gugup.
Karena Varell tahu, kalau bunda Molly sudah curiga, pasti curiga tentang hal yang di luar akal sehat manusia.
"Jangan-jangan ...." bunda menjeda ucapannya sebentar.
"Jangan-jangan apa Bunda?"
Bila juga penasaran akan hal tersebut dan menyimak perbicaraan ini dengan seksama.
"Jangan-jangan kamu h*mo lagi," celetuk bunda Molly.
__ADS_1
Bersambung💖