Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab 37 Sebuah Fakta 1


__ADS_3

Elia dan Reyhan memutuskan pulang ke apartemen, setelah bermalam di tambah seharian penuh Elia berada disana, sudah dapat melepaskan kerinduan mereka.


Elia naik terlebih dahulu karena Reyhan sedang menerima panggilan dari Elwas membicarakan masalah pekerjaaan. Elia membuka pintu apartemen dan menyalakan lampu karena sudah malam jadi terlihat gelap.


Elia ingin segera membuka ponselnya karena ia belum memberitahukan kakaknya jika dirinya sudah sampai di Indonesia. Belum sempat Elia menemukan ponselnya, Reyhan masuk kamar hanya memberitahukan jika dia berada di ruang kerja, dan meminta tolong di buatkan kopi untuknya. Elia mengurungkan niatnya memgambil ponsel, ia lebih mendahulukan membuatkan kopi untuk Reyhan.


Elia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena ia membawa nampan kopi, sehingga jika mengetuk pintu akan kesulitan. Tampak Reyhan sedang menerima panggilan kemudian mematikan panggilan itu.


" Lain kali jika ingin masuk, biasakan mengetuk pintu terlebih dahulu. " kata Reyhan mulai membuka berkas berkasnya di file meja kerjanya.


Hati Elia sedikit tercubit dengan ucapan Reyhan, biasanya Reyhan tak pernah mempermasalahkan hal sepele semacam itu. Elia masih mencoba bersabar. Setelah menaruh kopi di atas meja ia mendekati Reyhan dan memeluk dari belakang. Entah kenapa akhir akhir ini Elia sering sekali ingin di manja oleh Reyhan, dan ia akan lebih sensitif dengan ucapan Reyhan.


" Elia aku sedang banyak pekerjaan, bisakah kamu istirahat lebih dahulu. Jika kamu menganggu pekerjaan ini tidak akan cepat selesai. " kata Reyhan


Deg......


Jantung Elia seakan berdetak seperti akan meledak mendengar penuturan Reyhan.


" Apakah tandanya kak Reyhan memang tak menyukaiku lagi. Kenapa kak Reyhan seperti ingin menjaga jarak dengan ku. " batin Elia.


" Baiklah, aku kembali ke kamar ya kak. " kata Elia dengan mencium pipi Reyhan. Elia masih mencoba bertahan walau dadanya terasa panas.

__ADS_1


" hmmmt " jawab Reyhan dengan masih sibuk membaca berkas berkas yang bertumpukan di meja kerjanya.


Elia berjalan keluar lalu menutupnya, ia kembali ke kamar untuk melanjutkan mencari ponsel untuk di hidupkan. Elia merogoh ponsel dalam tas, setelah di cari dengan teliti barulah ketemu. Elia mencoba mengaktifkan ponselnya lalu meneliti banyak panggilan Rabel juga ada banyak pesan darinya.


Pertama, ia melihat panggilan Aldo yang berjumlah sepuluh panggilan tak terjawab, juga Nihan. Kemudian ia baru membuka pesan dari Rabel.


" Elia...karena kamu tak mau menemuiku walau sesaat, aku hanya bisa mengirimkan video ini. Semoga kamu baik baik saja. Aku akan selalu mencintaimu, walaupun mereka mereka mencampakanmu. " isi pesan dari Rabel dalam sebuah aplikasi WhatsApp.


Elia membuka video tersebut, terlihat Reyhan sedang mabuk di sebuah klub. Terlihat percakapan mereka yang bisa di dengar jelas oleh Elia, karena keduanya menyewa sebuah ruangan vvip.


Elia mendengarkan dengan seksama, jika Reyhan sakit hati dengan perlawanan Elia, dia gagal untuk balas dendam. Sakit hatinya belum terbayarkan karena melihat Elia masih terasa nyaman hidup di sampingnya. Hingga Elwas menawarkan sebuah ide jika ingin menyakiti Elia, harus membuatnya jatuh cinta. Barulah bisa menyakiti berlahan. Reyhan pun membenarkan ide Elwas untuknya. Ia akan membuat Elia bertekuk lutut padanya dan akan menyakitinya berlahan. Setelah itu akan mencampakannya begitu saja.


Elia kembali menatap video itu kembali, ia kembali membayangkan saat dirinya masih berada di Jerman, saat itu Reyhan pulang mabuk, lalu sakit. Sejak itu pulalah tercipta sebuah hubungan baik keduanya. Elia baru tahu jika ini memang di sengaja oleh Reyhan.


Elia munutup mulutnya rapat-rapat, dengan airmata yang terus menetes. Sungguh semua bayangan tentang keposesifan Reyhan semua hanya kebohongan semata. Elia masih mencoba menenangkan dirinya untuk berpikir jernih. Mungkin saja Reyhan sekarang sudah benar benar mencintai dirinya.


Elia belum bisa memejamkan matanya padahal waktu sudah menunjukan pukul satu malam. Reyhan pun juga tak kunjung masuk ke dalam kamar.


Elia membodoh bodohkan dirinya sendiri, kenapa dia tak pernah menyadari jika semua yang di tunjukan Reyhan untuknya adalah sebuah kebohongan.


" Kenapa Tuhan? Kenapa harus seperti ini takdirku. " gumam Elia.

__ADS_1


Elia mencoba memejamkan matanya yang terasa berat. Dadanya masih terasa sesak, membayangkan kisah hidupnya yang tak kunjung ada perubahan.


" Apa memang sudah garis takdirku yang selalu terabaikan. Kenapa mereka semua hanya menjadikan aku mainan. " ucap Elia disela isak tangisnya.


Karena terlalu banyak menangis, Elia merasakan sakit dimatanya, ia mencoba bangun dan ingin mencuci wajahnya. Agar besok saat bertemu dengan kakaknya, tidak terlalu bengkak. Elia tidak ingin membuat Aldo sedih, karena kasih sayang untuknya lebih besar dari pada untuk dirinya sendiri. Elia nyakin jika Aldo tak pernah ada niat untuk menyakitinya.


Elia termenung di balkon rumahnya, udara dingin menyapa tubuh tak di hiraukannya. Ia masih tak percaya jika cinta yang dianggap tulus olehnya hanya kepalsuan untuk melancarkan balas dendamnya. Airmata Elia masih tak bisa berhenti menangis, karena cintanya untuk Reyhan sudah terlalu dalam untuk dilupakan. Elia membelai kursi di balkon itu, kursi itu pernah menjadi saksi saat dirinya memadu kasih dengan Reyhan kemarin. Ingin rasanya ia menangis meraung raung jika mengingat kembali kenangan indah bersama Reyhan yang terlalu manis untuk di lupakan.


Berlahan Elia meringkuk, lama ia masih melamun, sampai akhirnya ia tertidur.


Elia terbangun karena ia merasa kepanasan, ia baru menyadari sinar matahari bersinar sangat terik di pagi ini. Elia meregangkan otot dengan menggeliat.


Elia duduk untuk menyatukan jiwa dan raganya, mengingat kembali kenapa bisa ia tertidur di balkon sampai pagi. Sampai ingatannya kembali mengingatkan tentang fakta baru, untuk hidupnya yang baru.


Elia masih duduk belum beranjak, ia memikirkan harus bagaimana sikapnya saat bertemu dengan Reyhan nantinya. Sampai ia di kejutkan dengan kehadiran Reyhan yang masuk ke dalam kamarnya. Elia berpikir jika Reyhan sudah berangkat kantor dan tak membangunkannya. Tapi ternyata ia salah, karena pada kenyataannya Reyhan juga bangun kesiangan.


Elia masih enggan untuk menyapa Reyhan, ia sengaja tak masuk ke dalam, karena Reyhan pun juga tak menghiraukan keberadaannya.


Reyhan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya Ia mencari baju, karena biasanya Elia sudah menyiapkan. Baru ia menyadari jika dirinya tak melihat Elia di sekitarnya. Reyhan bergegas ke walk in closet untuk berganti tanpa mencari keberadaan Elia.


Hari ini Reyhan terburu buru ke kantor karena kesiangan. Tanpa menghiraukan keberadaan Elia dimana, Reyhan langsung berangkat ke kantor begitu saja, meninggalkan Elia yang masih termenung di balkon, yang sejak dari tadi belum beranjak

__ADS_1


__ADS_2