Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab. 87 Diantara dua pilihan


__ADS_3

Elwas berlari mengejar Mizka, ia tidak mau orang yang ia cintai membencinya.


Elwas langsung memeluk Mizka dari belakang dengan sangat erat, ia tidak ingin melepaskan Mizka sebelum semuanya jelas.


" Mizka, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku?? Apa aku harus mengatakan ini semua pada Tuan Reyhan, baik akan aku lakukan. Jika kamu menginginkan sekarang pun, aku juga akan lakukan. Sekarang juga aku akan mendatangi Tuan Reyhan di Dubai. " kata Reyhan


" Di Dubai??? " yah... Tuan Reyhan akan membawa Nona Elia keliling dunia, sebagai penebus kesalahan nya. Mereka sudah bahagia Mizka, semua sudah terjadi, jadi aku mohon maafkan aku yang telah membuatmu kecewa. Aku tahu aku bukan laki laki baik, tapi aku akan selalu berusaha menjadi lelaki yang terbaik untukmu. Mizka aku mohon, jangan membenciku. " kata Elwas mengurai pelukan dan membalik tubuh Mizka agar menghadapnya.


Mizka masih terdiam, ia masih tak habis pikir dengan keadaan ini.


" Mizka, setiap manusia pasti punya kesalahan. Karena kita hanya manusia biasa, tempatnya salah dan lupa. Apa kesalahan ini sudah benar benar menutup hatimu untuk ku. Apa dengan kesalahan ku ini, membuatmu hatimu tertutup untuk ku?? Cinta itu harus nya tidak bersyarat Mizka, seperti aku yang tak meminta satu syarat pun dari mu. Aku tak perduli dengan masa lalu mu, karena saat itu, belum adanya aku di hidupmu. "


Mizka terdiam mendengar dan mencerna setiap ucapan Elwas, yang pada dasarnya adalah benar. Sebuah cinta itu, tidak membutuhkan syarat.


" Tapi aku ingin satu syarat dari mu. "


" Untuk mu, kamu bisa mengajukan berapa pun syarat untuk ku. " jawab Elwas


" Jangan pernah kamu menyembunyikan sesuatu dariku. karena itu bisa menghilangkan kepercayaan ku untuk mu. " pinta Mizka


Elwas menatap Mizka, lalu memeluknya erat.


" Aku berjanji !! aku tak akan merahasiakan sesuatu pun dari mu. "


Keduanya larut dalam pelukan, Elwas sangat berterima kasih pada keadaan yang selalu saja masih berpihak kepadanya, ia di berikan kehidupan layak oleh Tuannya dan ia juga dapat pengampunan dari orang yang ia cintai.


" Mizka, lusa pekerjaan disini sudah selesai. Kita akan pulang hari itu juga. " ucap Elwas mengurai pelukan.


" Tapi janjimu akan membawaku jalan jalan di kota ini. " Mizka mengingatkan Elwas.

__ADS_1


" Aku akan jalan jalan setelah kamu sah menjadi istriku. Aku harus mengikatmu terlebih dahulu sebelum aku menepati janjiku. " ucap Elwas


Kedua mata itu beradu, hingga tanpa sadar bibir mereka saling bersentuhan. Elwas yang tersadar segera mengurai pelukan dan merasa kikuk.


" Maaf ! " kata Elwas


Mizka hanya terdiam, ia juga membodoh bodohkan diri nya sendiri, dengan mudahnya tidak menolak apa yang Elwas lakukan.


" Aku akan kembali ke kamar. " ucap Mizka langsung membalik badan menuju kamar dan langsung menutupnya.


Mizka memegang bibirnya, dan merasa sangat malu, kenapa ia tidak menolak.


" Apa Elwas akan mengira aku hanya wanita murahan. " gumam Mizka menyalahkan diri sendiri, saat mengingat Elwas langsung mengurai pelukan mereka.


" Bodoh bodoh bodoh. " ucap Mizka sambil berbaring dan menutup wajahnya di bawah bantal.


Setelah kejadian kemarin, keduanya justru kikuk dan seolah menjaga jarak. Sampai pagi ini Elwas sengaja berangkat agak siang agar bisa bertemu dengan Mizka karena sejak kejadian seminggu yang lalu, Mizka selalu mengurung diri di kamar dan jarang sekali keluar kamar.


" Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. " ucap Elwas saat melihat Mizka


Dengan terseyum kaku Mizka ikut duduk di kursi makan. Mereka pun menyantap nasi goreng yang Elwas buat.


" Mizka, hati ini pekerjaan ku sudah selesai. Besok pagi kita bisa langsung pulang dengan jadwal keberangkatan pertama. Jam enam kamu sudah harus sudah siap. Karena jam tujuh kita sudah lepas landas. " kata Elwas


" Baiklah. "


Hanya kata itu yang Mizka ucapkan, ia masih menunduk dengan seolah ia sedang menikmati nasi goreng.


Elwas mengelap bibirnya dengan tisu, ia pun berpamitan pada Mizka jika ia akan pulang terlambat hari ini.

__ADS_1


" Elwas.... " Mizka memanggil Elwas yang sudah hampir membuka pintu, membuat Elwas menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Mizka.


" Hati hati ! " ucap Mizka terseyum


Elwas pun membalas senyum itu tanpa menjawab, lalu ia keluar setelah pintu terbuka.


" Mizka ..... apa yang terjadi pada dirimu?? kenapa kamu jadi seperti bukan dirimu di depan Elwas sekarang. " Mizka memarahi dirinya sendiri dan menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.


Pagi menjelang Mizka merapikan diri dan melihat dirinya dari pantulan cermin. Ia bahkan sudah tidak mengenali lagi siapa gadis di pantulan cermin itu. Karena sekarang ini wajahnya sangat bulat, gemuk dan antara dada dan perut bahkan hampir sama.


Mizka berjanji setelah sampai di Indonesia ia akan melakukan olah raga seperti yang Elia katakan juga meminum obat yang Elia racikan untuk membakar lemak.


Tok...tok ..tok !!


Terdengar pintu kamar Mizka di ketuk.


" Iya... Sebentar lagi. " jawab Mizka yang tahu jika Elwas tengah menunggunnya.


Walau Mizka tidak percaya diri dengan penampilan nya ia tetap keluar. Sekilas Elwas melihat penampilan Mizka namun segera mengalihkan, membuat Mizka merasa minder, apa sebenarnya Elwas mulai menyadari jika dirinya terlalu buruk. Padahal sesungguhnya Elwas membuang pandangan karena setiap melihat Mizka ada getaran hebat dari dalam dadanya. Apalagi semenjak ia telah menempelkan bibirnya di bibir Mizka


" Waktunya sudah mepet, kita harus bergegas. " ucap Elwas


Mizka hanya menganggukan wajahnya, ada raut kecewa saat Elwas segera membuang pandangan nya. Namun ia mencoba menata hatinya, dan memberi semangat pada dirinya sendiri jika ia akan berubah untuk Elwas, dan akan memperjuangkan cinta untuk Elwas. Tidak seperti saat dengan Rabel yang selalu merasa tak pantas dan hanya bisa menerima kenyataan, tanpa mau memperjuangkan.


Keduanya keluar dari kamar, Elwas membawa koper sedangkan Mizka tidak mempunyai banyak barang hanya membawa tas saja. karena tas pakaian nya sudah di bawa Elwas.


Keduanya berjalan beriringan tanpa percakapan, keduanya terdiam dengan pemikiran masing masing. Elwas yang sibuk menata degup jantungnya, sementara Mizka yang salah paham pada Elwas jika tak ingin melihat wajahnya, sesekali ia melihat Elwas, namun pandangan nya selalu kedepan, tanpa sedikitpun menoleh padanya.


" Mizka...... !!! "

__ADS_1


Mizka berhenti saat seseorang memanggil namanya. Ia sangat hafal suara yang sudah bertahun tahun mendampingi nya. Begitu juga dengan Elwas, ia pun ikut berhenti memandang wajah sosok laki laki yang sudah memanggil nama wanita pujaan hatinya.


Sebenarnya Elwas merasakan panas di sekujur tubuhnya, apa lagi saat Mizka juga sedang menatap laki laki itu dengan mata yang berkaca kaca. Membuat Elwas bisa melihat sebenarnya masih ada cinta di mata Mizka untuk pria itu.


__ADS_2