
Elwas membuka selimut itu kembali, dan berdiri lalu berjalan mendekati ranjang Mizka. Elwas berdiri di depan wajah Mizka sama seperti saat Mizka menyelimuti nya tadi. Di tatap wajah Mizka, yang semakin ia lihat ternyata ia baru menyadari jika di balik postur tubuhnya yang lebar, Mizka memiliki wajah yang sangat cantik. Wajah yang putih, bibir tipis, juga mata yang lebar saat terbuka. Elwas pun ikut mengagumi wajah Mizka saat ini. Hati yang tadi nya terasa nyaman hanya karena tingkah Mizka kini Elwas semakin mengagumi kecantikan nya pula, yang diam diam tersimpan.
Elwas menyelimuti tubuh Mizka diam diam, namun karena Mizka yang memang belum terlalu bisa tidur, kembali terbangun saat Elwas menyelimuti tubuhnya. Mizka memundurkan wajah juga tubuhnya saat mengetahui jarak Elwas dan dirinya sangat dekat, karena posisi Elwas yang sedikit menunduk ketika menyelimuti.
" Aku hanya menyelimuti tubuhmu, aku tahu kamu sangat kedinginan. Dan jangan berpikir macam macam. " ucap Elwas dengan berbalik akan ke sofa kembali
" Udara sangat dingin. Aku tidur di ranjang yang nyaman sedang kamu di sofa. Kamu lebih membutuhkan, pakailah. " jawab Mizka.
Sebenarnya Mizka juga tidak enak hati karena memang kehadiran nya hanya pengikut, jadi sadar diri tak mau merepotkan.
" Aku seorang pria, sudah biasa tak memakai selimut. Pakai lah, kamu lebih membutuhkan. Kecuali jika kamu mau berbagi selimut, kita pakai sama sama. " jawab Elwas sudah merebahkan tubuhnya di sofa. Mungkin sedikit pengaruh dari minum wine membuat Elwas bicara ngawur
Mizka menatap selimutnya, memang selimut itu panjang kali lebar juga tebal. Kebetulan mereka datang ke Turki memasuki musim dingin, jadi walau pun tidak memakai ac udara di sana sangat dingin. Mungkin sebentar lagi akan memasuki musim salju.
" Baiklah, kamu boleh ikut memakainya, kemarilah. " jawab Mizka setelah memikirkan beberapa pertimbangan. Ia berpikir jika Elwas tidak mungkin macam macam karena sikapnya yang sangat dingin.
Mizka menaruh guling di tengah lalu di tidur di tepi ranjang, sehingga jaraknya akan sangat jauh dengan Elwas jika Elwas ikut tidur di ranjang itu. Semula Elwas tidak segera beranjak namun setelah menunggu lama ia tak bisa memejamkan matanya pula, ia memutuskan untuk mamastikan Mizka sudah tidur atau belum.
Elwas nyakin jika Mizka sudah tidur, ia pun memutuskan untuk ikut naik ke ranjang toh Mizka sudah menyuruh nya tadi. Elwas menggeser guling yang di taruh Mizka di tengah tadi, di tarik pelan pelan tubuh Mizka agar menbalik kan badan manghadap dirinya.
Elwas kembali menatap wajah Mizka yang tenang. Perlahan Elwas ingin mencium kening Mizka, namun saat itu pula bayangan Paula muncul di hadapannya.
Bayangan Paula yang selama ini menghantui pikiran nya kembali melintas di benaknya. Akhirnya Elwas mengurungkan niat nya untuk mencium Mizka, ia ikut memejamkan matanya entah karena rasa nyaman tidur di samping Mizka atau entah karena rasa hangat setelah memakai selimut Elwas pun ikut tertidur masuk ke alam mimpi yang indah.
Pagi yang cerah menyambut sepasang suami istri yang sedang berpelukan tanpa sehelai benang pun. Hanya selimut yang menutupi keduanya.
__ADS_1
Elia membuka matanya, di tatap wajah tampan suaminya yang masih terpejam. Begitu tenang dan memberi kedamaian untuk Elia.
Elia tak menyangka jika sekarang ini ia bisa berada di Turki bersama suaminya. Meninggalkan begitu banyak mimpi yang akan ia raih, dan tinggalkan begitu saja.
Elia bangun mengambil bath rope yang tergeletak di lantai, karena semalam setelah mandi Reyhan pun tak memberi kesempatan Elia untuk berganti baju.
Elia membuka tirai jendela, begitu indah pantai itu dengan angin yang bertiup membawa ombak kembali ketengah.
Reyhan mengerjapkan matanya tatkala matahari menyapa tubuhnya. Begitu tirai di buka oleh Elia, cahaya bisa masuk memberi kehangatan untuk keduanya.
" Kamu sudah bangun sayang? " kata Elia yang sudah berani memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
Reyhan tersenyum mendengar panggilan istrinya. Ia bangun duduk bersandar di sisi ranjang. Elia kembali ke ranjang untuk menikmati pemandangan pantai yang bisa ia lihat dengan berbaring.
Reyhan mencium puncak kepala Elia dengan begitu lama, dan Elia pun mendongak kan kepalanya.
" Aku lebih bahagia sayang, karena kebahagiaan ku terletak pada diri mu. " jawab Reyhan dengan kembali mencium rambut Elia atas.
" Apa kita akan lama di sini. " tanya Elia
" Terserah kamu. Sampai kapan pun, atau menetap di sini pun aku tak masalah. " jawab Reyhan enteng.
" Banyak sekali pelanggan ku yang menginginkan ku. Mereka semua protes karena aku tak kunjung membuka klinik ku kembali. " jawab Elia yang sudah dalam pelukan Reyhan
" Aku akan sangat cemburu jika kamu lebih mementingkan mereka. " jawab Reyhan
__ADS_1
" Ya Tuhan.... bahkan dengan pelanggan pun kamu cemburu? " tanya Elia mendongak kan kepalanya menatap wajah Reyhan, karena saat ini kepala Elia berada di ketiak suaminya.
" Aku tak perduli, walaupun pelanggan, Mizka, Aldo, Nihan atau bahkan anak anak mereka pun aku akan cemburu jika kamu mengabaikan ku. " jawab Reyhan ikut memandang wajah Elia.
Elia tersenyum, ia begitu gemas dengan tingkah suaminya tang melebihi anak kecil.
" Kamu tahu kak, kamu sudah seperti Zian saat ini. "
Reyhan mengerutkan keningnya, saat Elia mengatainya mirip Zian.
" Zian ? siapa Zian ? " tanya Reyhan yang memang belum kenal dengan Zian
" Dia anak kak Aldo, dia selalu memanggilku momy. Bahkan dia lebih senang ikut dengan ku dari pada ikut kak Nihan. " jawab Elia membayangkan wajah gemas zian yang selalu akan menangis jika ia pulang kembali ke apartemen miliknya.
" Tentu saja aku akan lebih cemburu pada nya nanti. Aku tak mau siapa pun menganggu kebersamaan kita. " jawab Reyhan membawa Elia dalam pelukanya kembali.
Tok....tok ...tok....
Pintu mereka di ketuk dari luar, terdengar suara berisik Mizka menganggu keduanya yang masih bercengkerama.
" Kenapa kamu harus bawa radio rusak seperti itu, menganggu ketenangan saja. Apa dia pikir kita sedang menjadi tour guide nya, yang harus mengantarkan kemana tamasya yang ingin dia singgahi. " gerutu Reyhan tanpa melepas pelukan istrinya.
" Ish... bukan kah kakak yang membawanya padaku saat itu? " kata Elia mengulang kembali ingatan Reyhan saat pertama kali ia membawa Mizka dengan pakaian yang sangat amburadul. Bahkan hanya karena ingin menyakiti perasaan Elia, sampai Reyhan membawa wanita tak di kenal pun masuk ke kehidupan mereka
" Selera kakak hot juga...! " goda Elia mengingat tubuh Mizka saat itu.
__ADS_1
" Berani kamu menggodaku Sayang. Aku tak akan memberimu ampun !! " kata Reyhan yang mulai menggelitiki seluruh tubuh Elia.
" Ampun kak.... Tidak... Aku tidak berani menggodaku kamu lagi. Mizkaaaaa tolong aku.... " teriak Elia sambil tertawa tawa di bawah kungkungan suaminya tanpa ada dari keduanya yang beranjak untuk membuka kan pintu.