
Paula sangat kecewa dengan jawaban Reyhan. Namun dia mencoba berpura pura terseyum.
" Semoga kamu bisa bahagia Rey. " kata Paula dengan terseyum.
" Bahagia bersamaku nanti. " batin Paula dengan terus terseyum pada Reyhan.
" Aku pun berharap kamu juga bisa bahagia nantinya. " jawab Reyhan.
" Aku akan bahagia jika bersama denganmu Rey. " jawab Paula yang hanya berani dalam hati.
Keduanya terdiam dalam waktu yang lama, temggelam dalam pemikiran masing masing. Reyhan memikirkan bagaimana cara menemui Elia, karena dia nyakin Aldo sudah pasti tidak mengijinkan untuk bertemu.
Reyhan tidak sabar ingin bertemu dengan Elia dan menjelaskan kesalah pahaman antara mereka. Karena sekarang ini rasa cinta Reyhan sangat dalam untuk Elia.
Sampai seorang dokter masuk memeriksa keadaan Reyhan dan memberitahukan jika dirinya sudah boleh pulang.
Paula membantu Reyhan untuk berkemas dan pulang.
Namun Reyhan memutuskan akan menengok Elia terlebih dahulu, walaupun hanya dari kejauhan.
*
*
*
Sean masih setia menjaga Elia di sampingnya. Karena Nihan memberitahukan jika dirinya belum bisa menyusul ke sana karena Zian menangis terus karena sedang demam, sehingga terpaksa Aldo harus menggendongnya. Karena kondisi Nihan yang hamil muda masih sering muntah muntah dan lemas.
Elia menggerak gerakan tangannya, dan perlahan membuka matanya. Di tatap langit langit atap rumah sakit. Elia masih menyatukan pikiran nya, kenapa dengan keadaanya.
Elia mengangkat tangannya yang tertancap selang infus. Terasa sakit dan berat.
Sean yang melihat Elia siuman terseyum sumringah.
" Elia... " kata Sean.
Elia menengok ke wajah Sean, ia sangat hafal suara Sean, membuatnya kaget. Elia masih belum bisa memaafkan Sean.
__ADS_1
" Aku tahu kamu membenciku El, tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjadi temanmu. Setidaknya hanya sebagai teman biasa. " pinta Sean.
Elia tak menggubris ucapan Sean, dia masih menyimpan sedikit kebencian untuk Sean.
Elia kembali mengingat ingat kenapa dirinya bisa sampai di rumah sakit, karena dia sama sekali tak mengingatnya. Hingga dirinya teringat jika Reyhan dan Aldo sedang berkelahi, lalu dia terjatuh karena ingin melerai ke duanya.
" Anak ku. " kata Elia sambil memegang perutnya.
" Tenang El . Tenang kan dirimu. " kata Sean
" Anak ku, anak ku masih ada di sini kan Sean? Dia masih hidupkan ? " tanya Elia menatap Sean dan mencoba untuk duduk.
" Tenang kan dirimu dulu. Jangan banyak bergerak dulu El. " kata Sean memperingati Elia untuk berbaring kembali namun Elia memaksa untuk duduk.
" Sean beritahu aku, anak ku masih ada kan, dia masih hidupkan? katakan Sean, Katakan dia masih hidup kan? " Elia menangis mengingat dirinya merasakan nyeri yang hebat sebelum pingsan tadi.
" Elia, kamu harus sabar. Kamu bukan wanita lemah Elia. " ucap Sean.
Elia menggelengkan kepalanya, ia masih tak percaya dengan ucapan Sean, dirinya masih berharap jika anaknya masih bisa di selamatkan.
" Tuhan sudah merawatnya di tempat yang jauh lebih indah dan membahagiakan El. " jawab Sean
" Tidak mungkin. Tidak mungkin anak ku pergi meninggalkan aku. Tidak mungkin, kembalikan anak ku Sean.... !! kembalikan !! Kamu pasti sengaja membunuhnya, kamu ingin aku menderita juga kan. Semua hanya menganggapku sebuah mainan bukan. Kamu juga seperti itu bukan Sean...huuuuu " Elia menangis memegang perutnya yang masih rata.
Sean memeluk tubuh Elia agar sedikut tenang. Sean ikut menangis mendengar penuturan Elia, ia dapat merasakan kesedihan yang Elia hadapi saat ini. Hatinya seperti tercabik cabik.
Reyhan hanya mampu melihat Elia menangis dari kaca pintu luar rumah sakit. Ia ikut meneteskan air mata saat melihat Elia menangisi anaknya. Reyhan sangat menyesal dengan tindakan nya yang sudah merenggut nyawa anaknya. Ingin rasanya Reyhan masuk dan memohon pada Elia untuk memaafkannya.
Reyhan tak berani untuk menemui Elia saat ini, karena ia nyakin Elia pasti akan sangat membencinya sekarang ini. Dia akan berusaha meluruskan kesalah pahaman ini, setelah kondisi Elia sudah membaik.
Reyhan berbalik meninggalkan ruangan Elia dengan deraian air mata. Ia benar benar merasa adalah laki laki yang sangat tidak berguna. Ia sudah menyia nyiakan perasaan tulus Elia, dan juga sudah membunuh anaknya.
Reyhan membayangkan saat Sean lah yang merengkuh tubuh Elia dan menenangkan, saat itu pula ia baru menyadari hatinya bagai tertusuk belati. Ia benar benar tidak menyangka jika situasinya akan berubah serumit ini. Reyhan terus berjalan meninggalkan rumah sakit dengan tangan terkepal. Ia mengabaikan Paula yang terus memanggil namanya, karena Reyhan memilih naik taxi meninggalkan Paula begitu saja.
" Elia.... Kamu boleh menangisi sesuatu, tapi tidak untuk berlarut. Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah dari yang kamu angankan. Kamu harus bangkit, jadikan pengalaman ini sebagai cambukan agar kamu mengingat jika kamu bukan wanita yang mudah untuk di tumbangkan. Aku akan selalu mendukungmu, dan akan selalu di belakangmu mulai saat ini. " kata Sean menenangkan Elia.
Elia tak berhenti meneteskan air mata, dirinya merutuki hidupnya yang malang, harus di khianati tunangan, dijadikan ajang balas dendam, dan sekarang pun harus menerima kenyataan jika dirinya di tinggalkan oleh suaminya.
__ADS_1
" Elia, aku mengenalmu. Kamu bukan wanita yang lemah. Kamu adalah wanita yang kuat dan mandiri, tak mudah terpengaruh oleh keadaan. Kamu punya ambisi Elia, kamu harus mewujudkan nya. " kata Sean mengurai pelukan karena Elia mulai berhenti menangis.
" Sean, menurutmu apa aku seperti wanita yang bodoh? " tanya Elia
" Tidak El, justru akulah yang bodoh karena telah menghianatimu. Kamu tahu El, ini menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam sejarah hidupku . Hanya orang bodoh yang berani menyia nyiakanmu. " jawab Sean
Keduanya terdiam, Elia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Ia masih enggan untuk berbicara dengan Sean.
" Pulanglah Sean, aku ingin sendiri. " kata Elia
" Aku akan memberitahu Aldo, jika dirimu sudah sadar. " kata Sean merogoh ponselnya.
" Tidak Sean, jangan beritahu kan dia. Aku tidak ingin merepotkan dirinya, untuk kembali ke sini, menengokku. " kata Elia
" Tapi Aldo sangat mencemaskan keadaanmu, dia pasti akan senang jika mendengar kamu telah sadar. " kata Sean
Akhirnya Elia mengalah memberi waktu untuk Sean memberitahukan keadaannya pada Aldo.
" Aldo akan segera kesini. " kata Sean terseyum
Elia diam tak menjawab perkataan Sean. Dirinya masih belum percaya jika anaknya tak dapat di selamatkan. Ia sangat kecewa dengan Reyhan, karena saat ini ia tak melihat Reyhan di sampingnya
' pasti dia sedang bersama wanita itu.' batin Elia memikirkan Reyhan.
" Apa yang kamu rasakan saat ini El ? " tanya Sean
" Aku baik baik saja. dan akan selalu baik baik saja. " jawab Elia
Sean memeriksa kondisi kesehatan Elia, dan mencatat nya.
" Aku ingin pulang Sean. " kata Elia
" Kondisimu belum stabil, kamu masih perlu istirahat. Jangan banyak bergerak terlebih dahulu. " kata Sean.
Bantu Author terus berkarya dengan memberi like, gift dan vote kalian ya.....🥰🥰❤️
Semakin banyak hadiah, like, dan vote kalian...Akan membuat Author semakin semangat buat Crazy up ❤️❤️❤️
__ADS_1