
Elia berjalan cepat meninggalkan Mall, dengan sesekali menghapus air matanya yang kembali menetes. Kini ia dapat mengerti apa alasan Reyhan ada di sekitar sini, pasti karena mengantar Paula.
Elia masuk dalam klinik dan duduk di tempat semula, tak berselang lama Mizka datang dengan menenteng banyak makanan.
" Elia.... Kenapa kamu meninggalkan aku. " kata Mizka sambil menata makanan di meja.
Elia diam saja pura pura sibuk bekerja dengan membolak balikan sebuah dokumen.
Kini Mizka dapat tahu jika Elia tidak dalam keadaan baik baik saja.
" Katakan pada ku Elia, apa yang membuatmu menjadi seperti ini ? Dimana sosok Elia yang sangat aku kagumi dulu. Elia yang tidak pernah terbawa suasana, Elia yang berani, Elia yang pandai membawa diri ! " kata Mizka mencoba membangkitkan semangat Elia.
Elia termenung, membenarkan ucapan Mizka. Dimana Elia yang dulu berjanji untuk berubah kuat, dimana Elia yang tidak mudah di tindas, kenapa sekarang dia sangat rapuh.
Mizka menghapus air mata Elia yang tak bisa ia tahan.
" Katakan Elia,apa sebenar yang terjadi. Aku akan membantumu, seperti kamu dulu membantuku dari jurang hitam. Sekarang katakan, agar aku bisa membantumu. " kata Mizka
Elia menceritakan pertemuannya dengan Reyhan dan juga pertemuannya dengan Paula. Mizka yang geram dengan tingkah Paula ingin sekali mencakar wajahnya.
" Elia... Apa kamu masih ingat saat kamu akan memenggal leherku, saat aku berani mengusikmu? Kenapa sekarang kamu hanya bisa menangis. Kembalilah seperti dirimu yang dulu Elia. Jika kamu seperti ini itu tandanya kamu pengecut. Tunjukan pada mereka jika kamu lebih bahagia, tunjukan pada mereka jika kamu bisa berdiri diatas mereka. " kata Mizka semangat.
Elia menatap Mizka yang semangat, sampai membuat nya takjub, Mizka yang bodoh dan ceroboh namun bisa menjadi teman dan pandai menyemangati.
__ADS_1
" Kamu benar Mizka, Mari kita semangat. Aku tak mau menjadi Elia yang pengecut dan pecundang. Aku berjanji ini adalah air mata terakhir. " kata Elia terseyum dan bersemangat
" Semangat !!! Janji ini adalah air mata terakhir. " kata Mizka dengan menyodorkan jari kelingkingnya untuk di kaitkan dengan kelingking Elia, sebagai bukti ini adalah kesepakatan dan sebuah janji.
Elia membalas memberikan jari kelingkingnya dan terseyum semangat.
" Janji !!! "
Keduanya tertawa bersama, dan menghabiskan semua makanan yang di beli oleh Mizka tadi.
Menjelang sore Elia dan Mizka akan pulang, Elia mengecek semua pintu dan jendela terlebih dahulu, apakah sudah terkunci, baru ia mengambil tasnya dan keluar klinik menyusul Mizka yang sudah dulu keluar.
Terlihat Mizka membuat candaan dengan membicarakan seseorang yang baru di lihatnya membuat Elia tertawa tawa.
" Tuan, aku dengar perusahaan Antara akan melakukan kerja sama dengan Nona Elia. Perusahaan Antara akan memasarkan produk krim pemutih wajah milik Elia. " kata Elwas
Reyhan mengusap usap dagunya yang tidak gatal, ia tersenyum licik seperti sedang merencanakan sesuatu untuk Elia. Dan Elwas dapat menangkap apa yang berada di isi kepala Reyhan. Keduanya tersenyum penuh arti. Reyhan yang mengangguk di susul oleh Elwas yang mengangguk pula seperti membenarkan rencana Reyhan.
" Urus semuanya. Aku tak mau rencana kita gagal sebelum Elia menanda tangani kontrak perjanjian. " kata Reyhan dengan berdiri
" Baik Tuan. " kata Elwas membungkukan badan dan mengikuti berdiri.
Reyhan menyuruh Elwas untuk langsung pulang, sedangkan dirinya lebih memilih ke apartemen Elia untuk melihat Elia sejenak agar segala rasa capek di tubuhnya sedikit terobati.
__ADS_1
Reyhan memarkirkan mobilnya di sebrang jalan apartemen Elia. Dan sangat beruntung Reyhan dapat melihat Elia yang sedang melihat bintang di langit dari Balkon apartemen nya.
" Aku tidak bisa tidak mengusikmu Elia, karena aku tak bisa hidup jika kamu di miliki orang lain. Mungkin kamu bisa bahagia tanpa aku, tapi aku tidak bisa bahagia tanpa kamu Elia. Jika aku tak dapat memilikimu, orang lain pun tidak ada yang boleh memilikimu. Karena kamu tercipta hanya untuk ku Elia, hanya untuk ku seorang. " gumam Reyhan yang teru memandang wajah cantik Elia dari bawah, walau hanya terlihat samar samar wajah Elia, namun setidaknya sudah bisa mengugurkan sedikit kerinduan di hati Reyhan.
Reyhan memutuskan pulang ke apartemen nya, karena hari ini sangat melelahkan,membuatnya berkeringat sehingga membuat tubuhnya lengket.
Elia melihat sekeliling jalan, ia seperti melihat mobil Reyhan, namun ia tepis kembali, ia tak mau besar kepala dan nantinya hanya akan membuat luka hatinya kembali.
Elia masuk ke dalam rumah, karena hari semakin malam dan udara juga semakin dingin. Elia membaringkan tubuhnya di ranjang, ia mengingat kembali saat dirinya masih di Jerman, Reyhan akan selalu mengusik tidurnya atau Reyhan akan merentangkan tangannya agar Elia berbantal lenganya dan mereka akan saling berpelukan.
Elia tersenyum mengingat masa masa indah itu.
" Aku tak pernah menyangka kak, dirimu sangat pandai bersandiwara, melebihi aku sang ratu drama. " kata Elia yang teringat kembali saat Reyhan memanggilnya dengan sebutan ratu drama
Malam semakin larut akhirnya membawa Elia pada mimpi indah, terlukis senyum saat dirinya tidur, entah apa yang di mimpikan Elia karena Author tidak bisa ikut masuk ke alam mimpinya.
Reyhan memasuki apartemen nya, sebelum mandi ia keluar ke balkon untuk menyalakan satu batang rokok. Semenjak Elia pergi, Reyhan mulai merokok untuk menghilangkan gejolak dalam jiwanya, setidaknya pikiran sedikit tenang saat ia menyesap rokok. Namun Reyhan tidak ingin mengulang meminum minuman keras seperti saat di Jerman dulu, karena bisa sangat menyiksa dan merugikan kesehatannya.
Reyhan menatap bintang dengan berdiri bersandar di pinggiran pembatas, seperti yang di lakukan Elia tadi. Sesekali terbayang wajah Elia yang begitu teduh saat melihat bintang.
Lama Reyhan melamun, ia memutuskan duduk di kursi lantai balkon tersebut. Teringat kembali saat hari pertama ia sampai di Indonesia, kursi inilah yang pernah menjadi saksi mereka memadu kasih, penuh dengan cinta dan kabut gairah. Terlintas kembali saat dirinya mencumbui Elia sampai mendesah, dan kini ia hanya bisa memeluk bantal kecil yang berada di kursi itu.
" Semuanya cepat berlalu Elia. Aku harap kita bisa memperbaikinya seperti semula. Saat tak ada penganggu diantara kita. Tidak ada Sean juga tidak ada Paula. Aku berjanji jika kita bersatu, aku akan membawamu pergi jauh. Jauh dari kehidupan yang bisa membuat kita berjarak. " gumam Reyhan dengan membaringkan tubuhnya di kursi itu. Niatnya untuk mandi sudah ia lupakan, karena pada kenyataannya ia lebih memilih memejamkan mata nya di kursi lantai balkon.
__ADS_1