Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab. 91 Kembali pulang


__ADS_3

Sampai di di dalam rumah Mizka di sambut hangat oleh keluarga Elwas, namun Mizka masih merasa minder karena tatapan mereka seperti tidak ikhlas jika Elwas bersanding dengan nya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Mizka membantu ibunya beres beres, sedang Elwas terlihat sedang menggoda adiknya. Ya, Elwas mempunyai satu adik perempuan yang baru menginjak usia enam belas tahun, dia baru sekolah kelas dua sma.


Elwas duduk melihat Mizka terlihat sudah mulai akrab bercanda dengan ibunya di dapur. Ia tersenyum karena Mizka sudah mulai nyaman bersama ibunya.


" Kak, matamu sakit ya?? Apa perlu aku belikan kaca mata? " bisik Elsa pada Elwas, karena adik dari tadi memperhatikan kakaknya hanya memandang kekasihnya.


" Tidak. Memang kamu banyak uang mau belikan kaca mata? " tanya Elwas tidak mengerti maksud ucapan Elsa adiknya


" Ya walau pun tidak punya banyak uang. Aku takut saja, jika mata kakak sembuh akan menyesal !! " jawab Elsa enteng


" Maksudnya?? "


" Maksudnya, kalau mata kakak sembuh, kakak akan menyesal memilih kekasih. Kak Elwas tampan, kenapa bisa pilih kekasih gemuk seperti itu, nanti kalau sudah melahirkan bisa tambah parah loh. "


" Bukan nya justru makin sexy... " Elwas terseyum menggoda adiknya


" Sexy... body rata begitu di bilang sexy. mana perut,mana dada sama saja. " ceplos Elsa


" Kamu belum lihat saja. Kalau sudah lihat pasti akan bilang sangat sexy...." bisik Elwas dengan suara dibuat buat.


" Jadi kak Elwas sudah melihat kak Mizka telanjang??? " suara Elsa tak terkontrol karena terkejut. Dan lebih terkejut lagi Elwaa karena semua sekarang menatap ke arahnya. Begitu juga dengan Mizka ia sampai menjatuhkan sendok yang ia pegang.


Orang tua Elwas menatap Mizka juga Elwas bergantian. Elwas ingin menjelaskan jika tidak seperti yang di bayangkan. Ia hanya bermaksud membela Mizka juga mengerjai adiknya, namun ibunya menatap Mizka dengan tatapan menyelidik.


" Mizka, apa kamu hamil?? "


Pikiran ibu Elwas justru mengarah kesana karena tubuh Mizka sangat gemuk.


Deg.....

__ADS_1


Jantung Mizka seakan berhenti mendapat pertanyaan itu. Karena sampai sekarang ia juga belum haid. Ia menatap Elwas dengan mata berkaca kaca, seolah dirinya tak pantas berada disana karena mengandung anak orang lain. Tadinya Mizka berpikir jika Elwas pasti akan menerima jika Mizka hamil, tapi bagaimana dengan keluarganya, Mizka tak terpikir sampai kearah sana.


" Maafkan kami bu. " Elwas yang tadinya ingin menjelaskan namun setelah mendengar pertanyaan ibunya, ia juga takut seandainya Mizka benar benar hamil. Tidak mungkin Elwas mengatakan jika itu bukan anaknya. Pasti orang tuanya tidak akan merestui. Akhirnya Elwas memilih berbohong.


Ayah Elwas sangat kecewa, jika anak yang sudah ia didik bisa melakukan hal yang sangat kotor seperti itu.


" Bawa kami bertemu orang tuamu segera. " ucap ayah Elwas lalu langsung menuju kamar tanpa mendengar penjelasan Mizka belum tentu ia hamil.


Ibu Elwas mendekati Mizka, dan mengusap punggungnya.


" Sudahlah, mungkin ayahmu hanya kaget. Karena keluarga kami tidak mengajarkan Elwas perilaku seperti itu. "


Mizka terdiam, dia menunduk sangat malu. Hatinya perih seperti di sayat sembilu. Ia kembali merasa sangat tidak pantas jika bersanding dengan Elwas, mulai dari tubuh juga kepribadiannya.


" Kami pamit undur diri dulu. " ucap Elwas setelah melihat tak ada percakapan lagi, karena Ayah Elwas pun sudah masuk ke kamar.


" Elwas, aku ingin pulang ke apartemen Elia saja. "


" Elwas, aku ingin pulang. Biarkan aku sendiri dulu. "


" Mizka, bukan kah kamu ingin aku memperjuangkan kita. Ini adalah cara aku memperjuangkan cinta kita. Aku tak akan membiarkan kamu pulang, karena aku nyakin setelah ini kamu akan menjauhiku."


" Aku tahu kamu akan menghindar, dan pada akhirnya kamu akan meninggalkan aku karena merasa tak pantas bersanding dengan ku. Begitu kan pemikiran mu?? "


Mizka menatap wajah Elwas, karena sesungguhnya memang itu yang ia pikirkan.


" Sudah berapa kali aku beritahukan Mizka, aku tak perduli dengan keputusan orang, penilaian orang karena aku yang menjalani hidup ku, bukan mereka."


" Aku yang merasakan kebahagiaan, aku yang merasakan kesedihan, itu semua aku rasakan sendiri. Mereka tak punya hak juga keputusan. "


" Tapi Elwas, Bagaimana perasaan orang tuamu jika aku mengandung anak rabel. Mereka pasti - "

__ADS_1


" Aku akan mengatakan jika itu anak ku. " Elwas menyela ucapan Mizka.


" Tapi - "


" Cinta hanya bisa dirasakan, tidak perlu di pikirkan. Ia lebih butuh balasan dari pada sebuah alasan. "


" Ingat Mizka, aku lebih butuh dirimu, dari pada sebuah logika yang tidak bisa ku Terima. "


Elwas membuka pintu mobil nya dan membawa Mizka masuk ke apartemen miliknya.


" Mungkin lebih baik jika seperti ini. Kita bisa secepatnya menikah. Besok bawa aku ke tempat orang tuamu. " pinta Elwas


Mizka pun menceritakan jika ia sudah diusir dan tidak di terima oleh keluarganya, karena sebuah tuduhan teman nya yang menjebaknya dan menjadikan ia seorang simpanan. Beruntung saat ia di perjual belikan, Reyhan lah yang membelinya dan langsung di tolong oleh Elia.


" Kita coba temui besok. Bagaimana pun kita harus tetap meminta restu keluargamu. Jika mereka tetap tidak menerima kita, kita bisa tanyakan ustadz bagaimana sebaiknya kita menikah, tanpa wali ayahmu. Sekarang bersihkan dirimu, lalu tidurlah. " Elwas keluar kamar memberi ruang pada Mizka untuk membersihkan diri.


Elwas lebih memilih untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia bawa pulang ke ruang tamu. Bagaimana pun keadaan nya, Elwas sangat bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan Reyhan yang di limpahkan padanya.


Keesokan harinya Mizka juga Elwas berencana mengunjungi rumah orang tua Mizka. Berkali kali Elwaa menyakinkan Mizka jika semua baik baik saja. Mereka hanya untuk meminta restu, sebagai bakti anak pada orang tuannya.


Tibalah mereka di kediaman Rumah Mizka. Ternyata rumah Mizka lebih besar dari rumah keluarga Elwas. Dan dapat di lihat jika Mizka pun anak orang berada.


Mizka melihat sekeliling rumahnya, masih sama seperti saat ia meninggalkan rumahnya. Walau jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap berjalan maju.


Elwas masih setia berjalan di samping Mizka dengan mengenggam tangan .


Mizka mengetuk pintu rumah itu, terlihat ibunya beranjak membuka pintu. Air mata Mizka jatuh begitu saja tak bisa ia bendung, saat melihat ibunya menatap dirinya.


Tak di sangka ibunya berhambur memeluk Mizka dan ikut menangis haru. Berkali kali terucap kata ' Maafkan ibu ' dari mulut ibunya membuat Mizka tambah deras mengeluarkan air mata.


Ibu Mizka menatap Elwas dan memeluknya, walaupun tidak tahu siapa Elwas, seolah ibunya berterima kasih karena telah membawa anaknya sampai ke sana, karena terdengar kata Terima kasih dari ibunya Mizka.

__ADS_1


__ADS_2