
Akhirnya Elia pulang diantar oleh Aldo, mereka bercanda dan bercerita tentang masa lalu mereka yang begitu cepat terlewatkan. Elia baru tahu jika sekarang Nihan sudah hamil anak kedua mereka.
" Apa tidak kasian dengan kak Nihan,bukankah masih terlalu repot mengurus Zian kak. " kata Elia
" Nihan yang mau, ia ingin ramai dengan anak anak. Aku beruntung mendapatkan dia El, Nihan tak pernah mengeluh atau menyesal menikah denganku. " kata Aldo
" Iya, kak Nihan memang wanita tangguh. Kalian berdua memang serasi dan kompak. " kata Elia.
Elia melamun, ia sebenarnya juga ingin mempunyai banyak anak, pasti akan ramai saat Reyhan pergi ke kantor. Namun saat ia menyadari jika Reyhan tak mencintainya, hatinya kembali tercubit, agar segera bangun dari lamunannya.
" Kak, aku berhenti di market itu sebentar ya, ada beberapa barang yang ingin ku beli. " kata Elia.
" Baiklah, aku akan membantumu. " kata Aldo. Dia memarkir mobilnya di depan sebuah swalayan.
Elia turun terlebih dahulu, dan masuk. Elia melihat lihat barang yang akan ia beli, Ia menemukan testpack dan mengambilnya, Elia ingin membeli sesuatu yang lain dengan melihat lihat terlebih dahulu, namun pandangannya terhenti pada bangku di resto sebelahnya. Market yang di kunjungi Elia saling berdekatan dengan ruko yang lain, dan hanya bersekat kaca bening, sehingga bisa terlihat suasana diluar market sebelahnya.
Dada Elia terasa sesak, menyaksikan Reyhan sedang duduk berada di sebuah resto dengan wanita dalam foto, yang di tunjukan oleh ibu mertuanya kemarin. Elia memegang dadanya, ia merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak menyaksikan pemandangan menyakitkan itu.
Elia merogoh ponselnya, ia berharap jika yang ia lihat saat ini bukan Reyhan. Elia mencoba menghubungi nomor Reyhan.
Ponsel Reyhan diatas meja berdering, sebenarnya Reyhan ingin mengangkat ponsel itu, namun tangan wanita itu memegang tangan Reyhan, mungkin mengisyaratkan agar tak mengangkatnya.
Elia berusaha menahan dirinya, agar tidak menagis, bagaimana pun Aldo sedang bersama dirinya, ia tidak mau membebani kakaknya dengan penderitaan yang ia hadapi. Bagaimana pun ini juga adalah kesalahannya, kenapa dia dulu menyanggupi menikah dengan laki laki yang punya dendam pada dia dan kakaknya. Jadi Elia tak ingin melibatkan Aldo dalam masalah keluarganya.
Elia kembali keluar, saat Aldo ingin masuk menghampirinya. Elia hanya membeli sebuah testpack yang ia pegang tadi, dan kembali keluar.
" Kenapa balik? Aku baru mau menyusulmu? " tanya Aldo
" Besok saja kak, aku capek. Lagi pula tadi Mizka menelpon akan membantuku belanja besok. " bohong Elia
__ADS_1
Aldo hanya menurut tanpa curiga, Karena Aldo belum sempat masuk ke market, jadi ia belum melihat Reyhan.
Sepanjang perjalanan, Elia memilih menutup matanya berpura pura tidur, sebenarnya ia sudah tak kuasa untuk berbicara saat ini. Menahan air mata agar tak jatuh saja, rasanya sangat sulit. Bagaimana tidak, ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Reyhan. Segala kelembutan, perhatian dan keposesifan yang di berikan Reyhan sangat berbekas di hatinya. Waktu dua tahun bersama, bukan waktu sebentar untuk di lupakan. Banyak kenangan pahit, namun lebih banyak lagi kenangan manisnya.
" El.... Bangun ! Sudah sampai. " kata Aldo melepaskan seat belt yang di gunakan adiknya.
Elia membuka matanya, lalu memeluk kakaknya. Ia tak bisa lagi menahan tangisnya. Yang mengundang kecurigaan Aldo.
" Kenapa Elia ? katakan padaku, apa kamu tidak bahagia bersama Reyhan? " tanya Aldo mengurai pelukan adiknya dan membersihkan airmata di wajah Elia.
Elia menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya merindukan ibu kak, seandainya dia masih hidup dan melihat kita sudah sama sama bahagia, pasti beliau akan sangat bahagia kak. " bohong Elia menutupi perasaan sakitnya.
Air mata Elia menetes begitu saja, saat ia membuka matanya. Namun tak mungkin jika Elia mengatakan yang sesungguhnya pada Aldo jika dia tak bahagia. Nihan sedang hamil, Elia tak ingin Aldo bertambah beban dengan mengetahui kesedihannya.
" Percayalah Elia, ibu pasti lebih bahagia di sana dengan ayah. Dan aku akan selalu menepati janjiku, untuk selalu menjagamu, melebihi aku menjaga diriku sendiri. " kata Aldo membelai rambut adiknya.
" Tidak perlu kak. Aku tidak apa apa. Lagi pula masih terlalu sore bukan ." kata Elia melihat jam baru pukul setengah tujuh.
" Jadi...kamu tidak mempersilahkan kakakmu mampir terlebih dahulu. " kata Aldo
" Baiklah. " kata Elia pasrah
Aldo hanya ingin memastikan apakah Elia baik baik saja, karena sejak dulu Elia tak pernah mau merepotkan kakaknya. Dia selalu berusaha sendiri dalam memecahkan masalahnya. Aldo masih tidak percaya begitu saja dengan penjelasan Elia.
Elia membuatkan teh hangat untuk Aldo, keduanya berbincang dengan sesekali Aldo mulai membuat bahan candaan, hingga membuat Elia tertawa.
" Ternyata kak Aldo sudah tertular dengan kak Nihan yang suka bercanda. " kata Elia
__ADS_1
" Bagaimana tidak tertular, dia selalu memarahiku jika aku diam saja. " kata Aldo
" Iya, aku pikir kak Nihan akan bosan menikah dengan lelaki dingin seperti kakak. Ternyata dia malah berhasil merubah kakak menjadi lelaki yang hangat. " kata Elia
" Sudah malam, Nihan akan memarahiku jika tak kunjung pulang. " kata Aldo
" Aku tak menyangka, kak Aldo yang jutek, ternyata takut sama istri. " kata Elia yang hanya di balas senyuman oleh Aldo.
Setelah menutup pintu, Elia masuk ke kamar, dia mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. Sebelum berendam, Elia mengunci pintu kamar mandi. Elia berendam sangat lama, Hatinya kembali sakit saat membayangkan wanita itu memegang tangan Reyhan, lalu dengan menurutnya Reyhan tak mengangkat panggilan ponselnya.
Dia kembali menangis terisak di bawah guyuran shower, Dia tak mampu berdiri lagi. Elia tak menyangka jika ini harus benar benar terjadi. Elia mendengar pintu kamar mandi di ketuk. Namun ia enggan untuk menjawab. Ia lebih memilih membersihkan tubuhnya dan langsung berganti pakaian di dalam.
Elia keluar, melewati Reyhan begitu saja. Sedangkan Reyhan hanya menatap Elia yang mengacuhkannya.
" Apa kamu marah karena aku tak mengangkat telponmu Elia? " tanya Reyhan
" Jika aku jawab Iya, memang kenapa? " jawab Elia dengan ketus.
" Elia, tadi aku sedang meeting. " kata Reyhan
" Sudahlah kak, kamu mau meeting, ataupun menemui kekasih barumu, aku juga tak perduli. " kata Elia dengan membuka selimut bersiap untuk tidur.
" Apa maksudmu? " tanya Reyhan mendekati Elia. Ada rasa sedikit kaget dengan jawaban Elia.
" Sudahlah aku ngantuk. Aku malas berdebat dengan mu. " jawab Elia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sedangkan Reyhan memilih keluar dari kamar.
Elia semakin terisak saat mendapati Reyhan tak berusaha menjelaskan namun memilih pergi meninggalkan dirinya sendiri di kamar. Mungkin pukul dua dini hari Elia baru bisa memejamkan matanya, dan tertidur.
Elia menggeliat, dan beranjak bangun dari tidurnya. Ia benar benar penasaran dengan ucapan Nihan jika dirinya hamil. Ia mengambil testpack dari dalam tas dan membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
Elia tak bisa menahan tangisnya kembali, saat mendapati dua garis biru sangat nyata terlihat dari testpack yang ia pakai.