Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab. 84 Di tolak


__ADS_3

Mizka meraih botol minum yang di berikan Elwas untuk nya. Setelah meminum ia pun menaruh gelas, sejenak ia menunduk menyesuaikan nafasnya yang sempat tersengal.


" Mizka, aku serius ingin membina rumah tangga dengan mu. Aku tipe lelaki yang berkomitmen. Aku tidak suka berpacaran, jadi aku ingin kita langsung menikah. " kata Elwas jujur.


Sejenak keduanya terdiam, tidak ada yang bersuara. Kemudian terdengar Mizka menarik nafas dalam.


" Elwas, aku tahu kamu hanya kasian padaku. Kamu sebenarnya tahu apa yang telah menimpaku, sampai kamu merasa bersalah, seakan ini terjadi karena kesalahan mu bukan. Sudahlah semua sudah terjadi, aku tidak apa apa. Aku bahkan sudah pernah melewati masa yang lebih berat dari ini semua. Apa yang terjadi hari, kita jadikan pelajaran untuk masa depan. Aku tidak pantas untukmu Elwas, kamu baik, tampan juga mapan kamu bisa mendapatkan gadis yang lebih baik, cantik dan lebih segalanya dari ku. Jangan berkorban untuk orang lain jika itu membuatmu terluka. " kata Mizka


Elwas mengenggam tangan Mizka erat, dan menatap dengan sepenuh hati.


" Mizka aku mencintaimu tanpa syarat, aku tulus ingin hidup bersama mu bukan karena keterpaksaan, atau karena kasihan. Semua aku ungkapkan sesuai dengan isi hati yang aku rasakan saat ini. Aku mencintaimu sejak kamu mengajak kita untuk berkencan. Jujur, kamu adalah wanita pertama yang berani mendekati ku. Kamu wanita pertama yang berani menggodaku. Aku menyadari cinta ini saat kamu dengan mudahnya mengatakan tidak mencintaiku setelah berhasil memporak porandakan hatiku. Kamu tahu perasaan ku saat itu Mizka?? Aku bahkan sangat marah dengan keadaan, kenapa dengan mudahnya kamu bilang cinta, tapi lebih mudah lagi mematahkan perasaaan ku. Saat itu aku bahkan sampai tidak bisa tidur, aku terus memikirkan dimana letak salah ku. Memang dari awal aku tidak mencintaimu, tapi kamu salah jika aku pada akhirnya tetap tidak mencintaimu. Karena sesungguhnya tak menunggu lama aku merasakan kenyamanan saat bersama mu. " ungkap Elwas jujur


Mizka masih tidak menyangka dengan semua keadaan yang baginya sangat tidak terduga ini. Mizka masih berdamai dengan keadaan setelah semua yang terjadi, Ia yang harus bertemu kembali dengan Rabel, harus mendengarkan penghinaan Rabel, bahkan ia juga merasakan pelecehan Rabel yang ia torehkan kan.


Tapi sekarang, seakan tidak ada dalam angan angan nya jika Elwas akan melamarnya, tidak pernah ia bayangkan jika sebenarnya Elwas menaruh hati dengan keadaan nya yang seperti itu, bahkan ia tidak menghiraukan jika ia sudah tidak suci lagi. Elwas mau menerima kekurangan itu.

__ADS_1


" Maafkan aku Elwas, aku tidak pantas untukmu. Aku masih belum bisa bersanding denganmu. Kamu terlalu sempurna untuk ku. " kata Mizka


" Jika kamu merasa aku sempurna untuk mu, kenapa kamu menolak ku? Apa tidak bisa kamu mencoba untuk hidup bersamaku. Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan itu Mizka. " jawab Elwas


Mizka menggelengkan kepala nya, ia masih merasa tak pantas untuk Elwas yang begitu baik, tampan, juga bertanggung jawab.


Elwas terdiam menerima keputusan Mizka begitu sesak yang ia rasakan. Walau perasaan ini sudah ia persiapkan tapi masih saja ia tidak bisa menerima kenyataan jika pada akhirnya ia tidak akan mendapatkan balasan cinta dari Mizka.


" Beri aku satu alasan Mizka. Agar aku bisa melupakanmu. " pinta Elwas


" Baiklah Mizka, aku bukan laki laki baik, yang bisa berdamai dengan keadaan. Maafkan aku!! setelah ini, mungkin akan jadi pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya. Aku akan pergi dari kehidupan mu, untuk melupakan mu. "


" Elwas, kamu begitu sempurna - "


" Jika aku sempurna di mata mu, lalu kenapa kamu menolak ku??? " sela Elwas dengan nanda sedikit meninggi yang membuat Mizka sedikit terkejut.

__ADS_1


" Maaf kan aku Mizka. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan di sini, aku akan mengantarmu pulang kembali. Aku harap kamu bisa menemukan cinta, yang kamu anggap pantas bersanding denganmu. Karena kamu memang benar, aku tak pantas untuk mu, aku begitu jelek untuk kamu miliki, aku tak bisa seperti pria lainnya yang bisa memberimu bunga, kata kata romantis, aku tidak bisa seperti itu. " Elwas sudah meneteskan air mata.


Elwas menuju kamarnya, setelah percakapan malam itu, Elwas tak oernah lagi bertemu dengan Mizka, ia pergi sebelum Mizka bangun, dan ia pergi setelah Mizka tidur karena selalu tengah malam Elwas baru akan kembali ke apartemen. Sebelum ia kembali ke kamar, ia pasti akan memastikan terlebih dahulu apakah Mizka ada di kamarnya atau tidak. Sebenarnya Mizka belum tidur sekalipun Elwas tengah malam. ia dapat merasakan jika sebelum tidur Elwas akan membelai rambutnya dan membenarkan selimutnya layaknya anak kecil. Namun ia memilih pura pura tidur. Karena ia juga tidak ingin memberi harapan untuk Elwas.


Malam ini, Mizka melamun di ruang tamu. Pandangan nya selalu tertuju pada kamar Elwas, Ia pun mencoba memberanikan diri untuk mencoba masuk, toh jika pulang Elwas selalu larut malam, ia hanya merindukan saat Elwas bersamanya, saat Elwas merawatnya ketika sakit, aroma tubuhnya diam diam Mizka rindukan, pelukan saat ia menggendongnya.


" Pelukan??? Aku begitu gila jika aku merindukan pelukan nya. " gumam Mizka menggeleng gelengkan kepalanya menatap ranjang Elwas yang ternyata begitu rapi. Kamar Elwas begitu sangat rapi, semua tertata pada tempat nya. Walau banyak dokumen di kamar itu namun tertata sesuai tempatnya di meja, yang menurut Mizka itu adalah meja kerja Elwas yang tergabung dalam kamar.


" Kamu tidak gila jika hanya merindukan pelukan ku Mizka, yang gila adalah saat kamu menolak cinta seseorang yang juga kamu cintai. " jawab Elwas yang ternyata sudah berada di belakang nya, membuat Mizka terkejut karena sudah berani memasuki ruangan kamar Elwas, dan sekarang ia sedang tertangkap basah.


" Aku akan memberikan pelukan ini setiap hari. Tanpa bisa kamu merindukannya lagi, jika kamu mau membuka hatimu untuk ku. " ucap Elwas lagi dengan memeluk tubuh gemuk Mizka dari belakang, bahkan bertambah gemuk karena setelah di infus pola makan Mizka juga semakin banyak.


Mizka masih terdiam memikirkan perasaan nya, bersalahkah ia jika tetap menolak permintaan Elwas, atau pantaskah ia jika menyambut perasaan Elwas dan mulai membuka hati untuk Elwas.


" Elwas, aku tidak bisa. " jawab Mizka tanpa mencoba mengurai pelukan Elwas dari belakang. Ia biarkan pelukan Elwas melingkar di tubuhnya, karena sesungguhnya Mizka juga merindukan aroma parfum ini.

__ADS_1


Elwas mencoba melepas pelukan itu, ia mulai membalik tubuh Mizka agar menatap dirinya, yang ternyata ia lihat Mizka sudah meneteskan air mata, namun Mizka menunduk, membuat Elwas belum melihatnya.


__ADS_2