
Elia beranjak dari balkon, lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rencananya ia hari ini ingin menemui kakaknya di apartemen.
Elia merias diri, membuat make up untuk menyamarkan matanya yang sembab. Elia meraih ponsel dan melakukan panggilan dengan Aldo, memberitahukan jika dia sudah berada di Indonesia.
Sesuai kesepakatan mereka akan bertemu di apartemen milik Aldo, karena kebetulan Nihan juga sedang cuti.
Elia keluar dari apartemen, dirinya mencari sebuah taxi karena Reyhan belum memberinya mobil. Di dalam taxi ia menghubungi Mizka, memberitahukan jika dia sudah kembali. Dan tergambar raut kebahagiaan dari diri Mizka lewat suara yang terdengar cempreng dari sambungan ponsel milik Elia. Selama ini Mizka menempati apartemen milik Elia dulu. Karena tidak di pakai, Elia memutuskan menyuruh Mizka untuk menempati.
Tiba di depan apartemen Aldo, Elia membunyikan bel, tak berselang lama kemudian pintu terbuka, nampak Nihan membuka pintu, sambil menggendon anak kecil laki laki kurang lebih dua tahun.
" Elia....." kata Nihan menurunkan anaknya lalu memeluk erat adik iparnya.
" Kak Nihan... " Elia pun tak kalah senangnya bertemu dengan kakak iparnya.
Elia melihat anak kecil yang sangat menggemaskan, dengan pipi cabi. Elia mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong balita tersebut. Namun anak kecil itu menangis tak mau di gendong.
" Dia memang seperti itu, hanya mau di gendong dengan orang yang sudah di kenalnya. Tapi biasanya jika wanita cantik dia mau. " kata Nihan melihat anaknya.
" Berarti aku tak cantik dong.... " kata Elia sambil mencubit pipi Zian
" Zian... Anty punya hadiah buat Zian. " kata Elia memperlihatkan paperbag berisi banyak mainan. Elia sangat gemas jika berdekatan dengan Zian. Tak berselang lama mereka sudah akrab, bahkan Zian sudah tak mau turun dari gendongan Elia, yang membuat Nihan gemas, karena tak mau di gendong ibunya
Tak berselang lama Aldo datang, Elia pun berhambur memeluk Aldo dengan erat dan mengatakan sangat merindukan Aldo. Siapa sangka kejadian itu membuat Zian menangis dan memukul mukul Elia. Zian pikir Elia ingin merebut dadynya, yang menimbulkan tawa semuanya dengan tingkah Zian yang menggemaskan.
" Zian.... ini Adik dady, kamu juga bisa memanggilnya momy jika mau. " kata Nihan
Zian akhirnya diam tak lagi memukul Elia, mungkin dia sudah mengerti dengan apa yang dimaksud ibunya.
Mereka menikmati makan siang bersama, karena Aldo memesan makanan siap antar dari sebuah resto langganan mereka. Terlihat Elia sangat menikmati makanan itu, walau sesekali bibirnya dibuat monyong karena kepedesan tapi tak menyurutkan niatnya untuk menghabiskan sisa makanan di piringnya. Nihan dan Aldo hanya saling pandang dengan kelakuan adiknya dan tersenyum. Bagaimana tidak Elia sudah menghabiskan nasi tiga piring.
" Elia... Pantes saja kamu sekarang jadi gendut, makanmu tak terkontrol seperti itu. " kata Aldo melihat adik nya terus menyuapkan makanan ke mulut.
" Iya kak. Akhir akhir ini aku tak bisa mengontrol porsi makan ku. Bahkan malam pun jika aku tak makan aku tak bisa tidur. " jawab Elia masih dengan mulut yang berisi makanan.
" Biasanya kamu pantang makan malam. " kata Aldo heran
__ADS_1
" Mau bagaimana lagi. Dari pada aku tak bisa tidur. Tapi memang sekarang aku gendut banget ya kak ? " tanya Elia
Nihan memperhatikan seksama postur tubuh Elia, yang bertambah besar hanya di bagian dada dan perutnya saja.
" Iya. Kamu sekarang bahkan sudah seperti gajah yang hamil. " kata Aldo yang sontak membuat Elia tersedak.
" Uhuuukkk.... "
" Pelan pelan Elia, minum dulu. " kata Nihan dengan menyerahkan segelas air putih
" Aku rasa kamu hamil Elia. " kata Nihan lepas begitu saja, yang justru membuat Elia semakin tersendak
" Uhukkkkk. " air itu pun jadi ikut keluar kembali membuat baju Elia basah.
" Pelan pelan Elia. " kata Nihan sambil ikut membersihkan baju Elia yang basah.
" Ganti baju aku aja. Ayo !! " kata Nihan mengambilkan baju kedalam kamar, di ikuti Elia di belakangnya.
" Aku rasa kamu beneran hamil deh El. " kata Nihan setelah melihat kaosnya di pakai Elia terlihat di bagian perut dan dada yang menonjol.
" Tapi aku nggak ngerasa mual atau gimana gitu kak. " jawab Elia polos
" Deg..... "
Jantung Elia seakan berhenti saat mendengar penuturan Nihan. Benar saja, karena rasa cintanya kepada Reyhan, membuatnya seperti seorang wanita bodoh. Bahkan dirinya lupa sudah berapa minggu ia tak menerima tamu bulanannya.
" Hey... kenapa bengong. Jangan bilang kamu selama ini melakukan kontrasepsi. " kata Nihan
" Tidak kak. Aku hanya belum mengecek, soalnya aku juga lupa terakhir mens. " kata Elia polos
" Coba di cek dengan testpack dulu. Nanti baru konsultasi ke dokter. " kata Nihan
" Iya kak, nanti aku cek di rumah. " kata Elia terseyum
Terdengar Zian menangis di luar, membuat keduanya menghentikan obrolannya.
__ADS_1
" Kenapa sih dady ? " saat Nihan mengambil baby Zian dari gendongan Aldo.
" Zian mau tidur kayaknya mom. " jawab Aldo
Elia melihat kakaknya sangat kompak merawat anak bersama, membuatnya sedikit sedih. Karena dia saat ini juga bingung, jika seandainya dia hamil. Apa perlu dia memberitahukan kehamilannya pada Reyhan nantinya.
Elia berpikir, jika seandainya memberitahukan kehamilannya mungkin akan membuat Reyhan luluh dan bisa memulai hidup baru bersama dirinya.
" Iya, aku akan mengecek terlebih dahulu kehamilanku, baru memberitahukan pada kak Reyhan. Semoga Tuhan masih memberiku jalan untuk kami bersatu. " batin Elia.
Elia melihat ponselnya, ini sudah hampir pukul lima, namun tidak ada satu pesan atau panggilan pun dari Reyhan. Justru Miska dan Rabel lah yang memenuhi beranda ponsel nya. mulai dari pesan dan panggilan. Elia sengaja mensilent ponselnya agar tidak menganggu aktifitas temu kangen dengan kakaknya.
" Kak, aku rasa aku harus pulang. Karena sebentar lagi kak Reyhan pulang. " kata Elia
" Kenapa tak menyuruh Reyhan menjemput kesini saja El, kamu tak membawa mobil sendiri bukan ? " kata Aldo
" Tidak usah kak, aku mau naik taxi saja. Lagi pula aku mau ke market untuk belanja bulanan. " kata Elia
" Belanja bulanan kamu sendiri ? Sudah biar aku antar saja. Tunggu sebentar aku ganti baju. " kata Aldo
" Tidak usah kak. Aku juga pengen jalan jalan dulu. " kata Elia menolak
" Elia, biar diantar kakakmu. Lagi pula kamu kan sedang hamil . " kata Nihan
" Kamu hamil El ? " tanya Aldo kaget
" Belum pasti kak. Baru perkiraaan. " jawab Elia, sambil membulatkan mata untuk Nihan agar tak membahas kehamilan terlebih dahulu.
" Jika kamu hamil, harusnya si bre****k itu mengantar jemput kamu. Jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan sendiri Elia. Jika dia tak bisa menjagamu, aku yang akan menjagamu. " Titah Aldo tegas
" Ini belum pasti dady, lagi pula Elia juga belum memberitahukan pada Reyhan, jika dirinya hamil. "
Nihan jadi tak enak hati memberitahukan kehamilan Elia yang belum pasti, pada Aldo. Karena ia pikir, ini adalah kabar bahagia bagi mereka.
" Tapi bukankah ini sama saja menelantarkan istri, lihatlah, apa pernah aku menyuruhmu naik taxi, atau tak mengantarkan pergi. " jawab Aldo
__ADS_1
Elia menatap kakaknya tersenyum, memang benar Aldo adalah laki laki yang sangat bertanggung jawab. Ia tak akan pernah melihat orang yang di cintainya susah atau tak nyaman berada di sisinya.
" Kamu beruntung kak Nihan, melepaskan kak Reyhan memilih Kak Aldo. Karena kalian sangat bahagia dan harmonis, kalau boleh jujur aku sedikit iri dengan kebahagiaan kalian. " batin Elia melihat perdebatan Nihan dan Aldo namun berakhir dengan canda tawa.