
" Ibu.... Jangan menghukumku seperti itu. Aku tak pernah memberi pilihan. Ibu akan tetap menjadi ibuku, sekarang nanti dan selamanya. " kata Reyhan memeluk ibunya erat.
Sina mengurai pelukan Reyhan dan membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan karena Reyhan.
" Jika kamu masih menganggap aku ibu, suruh wanita ini pergi dari hadapan ibu. " kata Sina dengan tegak dan angkuh. Sangat lain dengan kebiasaan keseharian Sina yang rendah hati dan hangat pada siapa aja.
" Ibu.... "
" Ibu tidak memberimu pilihan Reyhan. Jika kamu memang tida bisa. Ibu juga tidak main main dengan ucapan ibu. " kata Sina memakai kaca mata hitamnya kembali dan berjalan meninggalkan keduanya begitu saja.
" Paula, tolong kembalilah lebih dahulu. Biarkan aku memberi penjelasan pada ibu terlebih dahulu. Aku harap kamu tidak tersinggung dengan ucapannya. Karena sebenarnya ibuku tidak seangkuh itu. " kata Reyhan
Paula menatap wajah Reyhan, sebenarnya dadanya sangat panas dengan penghinaan ibunya Reyhan, tapi untuk saat ini Paula memilih diam terlebih dahulu. Ia tidak ingin terkesan pembangkang di hadapan Reyhan dan ibunya.
" Pergilah. Aku mengerti, aku nyakin ibumu akan menerimaku nanti. " kata Paula terseyum
" Terima kasih. " kata Reyhan dengan mengusap lengan Paula dan pergi mengejar ibunya yang sudah terlebih dahulu masuk dalam lift meninggalkan Reyhan.
Sina mengetuk pintu ruangan Elia di rawat. Terlihat Elia sudah duduk, sedangkan Aldo di sampingnya sedang berkemas. Walau masih terlihat pucat dan lemas, Elia memaksa Aldo untuk membawanya pulang. Aldo terpaksa menyetujui permintaan Elia, dengan catatan ia harus tinggal bersama Aldo dan Nihan nanti.
Sina membuka pintu dan masuk dengan pelan. Terlihat Aldo menampakan wajah tak sukanya.
" Untuk apa Anda kemari. Rawatlah anakmu, sebelum aku kembali menghajarnya. " kata Aldo
" Kak.... Jangan seperti itu pada Ibu ! Ibu sangat menyayangiku selama ini. " kata Elia memegang lengang kakaknya yang membelakanginya.
__ADS_1
Aldo menatap Elia, terlihat wajah Elia yang memelas memohon pada Aldo agar bersikap sopan pada Sina.
Aldo yang masih memiliki rasa benci pada semua keluarga Reyhan, mengalah dan memilih pergi dari ruangan tersebut, memberi waktu keduanya untuk berbicara.
" Masuklah bu. kami sedang berkemas, karena aku akan pulang hari ini. " kata Elia. Walau hatinya terluka karena anaknya, namun Elia masih menghargai Sina sebagai orang tuannya.
" Tapi wajahmu masih sangat pucat sayang. Kamu jangan memaksakan diri untuk pulang. " kata Sina
Elia terseyum, ia sangat senang karena ibunya Reyhan masih sangat menyayanginya dan memperdulikan dirinya, sekalipun Aldo sudah menghajar Reyhan sampai babak belur.
" Tidak apa bu. Aku akan tinggal bersama kak Aldo nanti. Lagi pula ada kak Nihan yang akan merawatku nanti di sana. " kata Elia
" Tapi sayang, aku dengar Nihan sedang mengalami morning sickness tri semester, bagaimana jika kamu tinggal bersama ibu. Aku akan menyewa dokter untuk merawatmu di rumah. " kata Sina
" Tidak bu, terima kasih. Aku bisa jaga diri kok. Lagi pula di sanan akan ada Zian yang akan menemani aku dan menghiburku nanti. " kata Elia meneteskan air mata. Ia tak bisa membendung air matanya yang ia tahan agar tak jatuh. Karena setiap waktu Elia masih menyesalkan kandungannya yang tak bisa di selamatkan.
" Maafkan ibu sayang, maafkan ibu yang tak bisa berbuat apa apa. Ibu akan selalu menyayangimu nak. Bahkan ibu lebih memilih kehilangan Reyhan dari pada kehilangan kamu nak. Sebagai wanita, ibu juga tidak terima jika di perlakukan seperti ini oleh suami ibu. Jangan pernah membenci ibu sayang. Karena ibu sangat menyayangimu. " kata Sina masih terus memeluk Elia.
Elia membalas memeluk Ibunya Reyhan, dia semakin terisak mendengar penuturan Sina. Elia merasa di sayangi dan di perdulikan.
Aldo kembali masuk dari luar, dengan beberapa kertas administrasi yang baru saja di lunasi.
" Elia, semua sudah selesai. Mari kita pulang ! " kata Aldo mengajak Elia agar bersiap. Nihan tidak bisa menjemput karena keadaan morning sickness nya yang sangat parah, sampai membuatnya lemas untuk berdiri.
" Kami pulang dulu bu. " kata Elia berpamitan pada Sina. Elia menghapus air matanya.
__ADS_1
" Aku akan ikut mengantarmu pulang. " kata Sina
" Apa tidak menganggu waktu ibu. " kata Elia tak enak hati
" Untukmu, ibu akan selalu ada waktu. Bahkan ibu akan merawatmu dengan tangan ibu sendiri, jika kamu mau pulang ke rumah ibu. " jawab Sina lembut
Aldo ikut melunak saat mendengar penuturan ibu Reyhan yang sangat lembut pada Elia. Pantas saja Elia membela dirinya tadi, pikir Aldo.
" Tidak bu, aku lebih nyaman bersama kak Aldo. Aku masih belum siap untuk bertemu dengan kak Reyhan. " jawab Elia
Sina hanya bisa tersenyum, walau sebenarnya ia tak enak hati dengan penuturan Elia, yang tak ingin bertemu dengan Reyhan. Sina juga tidak ingin memaksa Elia, karena ia takut jika nanti justru Elia ikut membencinya.
" Baiklah sayang. Aku akan ikut mengantarmu. Bolehkan? " kata Sina
" Boleh bu. " jawab Elia tersenyum lalu berdiri, ia masih jalan tertatih dengan di bantu Ibunya Reyhan.
Reyhan yang mengikuti ibunya sampai lantai atas, ingin mengikuti masuk. Namun saat melihat Aldo keluar ia mengurungkan niatnya. Reyhan tidak ingin ada perjelahian lagi yang akan menganggu ketenangan pasien lain. Akhirnya ia hanya bersembunyi di belakang tembok. Saat melihat Aldo pergi ke bawah Reyhan mengintip ibunya yang sedang berpelukan dengan Elia. Hatinya sakit saat Elia meneteskan air mata. tergambar jelas raut kesedihan di wajah pucat Elia. Reyhan kembali bersembunyi saat melihat Aldo kembali keruangan kamar Elia. Dan Reyhan kembali mengintip di belakang pintu. Hatinya kembali tercubit saat mendengar penuturan Elia yang tak ingin bertemu dengannya. Reyhan kembali mengurungkan niatnya untuk menemui Elia saat ini.
Reyhan memilih bersembunyi di balik tembok lagi saat melihat Elia, Aldo dan ibunya pergi meninggalkan ruangan kamar itu. Reyhan memasuki kamar bekas Elia tempati tadi. Begitu rindunya ia pada Elia sampai Reyhan menciumi bantal bekas Elia tiduri tadi. Reyhan berbaring dengan memeluk bantal dan di hirup aroma tubuh Elia yang tersisa. Walau dua hari tidak mandi, masih tercium aroma parfum Elia yang sangat khas. Ia teringat jika Elia pernah memamerkan aroma parfum ini. Parfume ini di racik khusus oleh Elia, sangat elegant namun manis.
Reyhan seperti orang bodoh menangis di ranjang Elia, sampai kehadiran seorang perawat mengejutkannya. Perawat itu akan membersihkan ruangan itu.
Dengan segera Reyhan bangun, dia mengatakan jika akan membeli bantal sprei yang di gunakan Elia tadi. Sebelumnya perawat itu melarang, namun saat Reyhan bertemu dengan penanggung jawab. Bantal dan sprei itu di berikan secara percuma pada Reyhan. Dengan senang hati Reyhan menerima dan karena kejadian ini pula Reyhan menanamkan banyak saham di rumah sakit ini.
Pada Akhirnya Reyhan jadi hilang akal, bantal bekas orang sakit di beli....!!! 🤣🤣🤣
__ADS_1
Cuz Tinggalkan Like, Komentar, gift dan Vote Kalian. Agar Author semangat untuk terus berkarya.... Love My Reader ❤️❤️❤️