Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab. 82 Mizka dan Elwas


__ADS_3

Rabel masih tidak percaya jika apa yang di katakan Mizka dari hatinya. Ia masih berusaha menyakinkan Mizka jika sebenarnya ia belum bisa melupakan Mizka, hatinya belum berpaling dari Mizka. Namun tidak sedikitpun mengubah pendirian Mizka untuk kembali pada Rabel.


" Beri aku alasan Mizka, kenapa kamu tidak ingin bersama ku. Apa kamu sudah tidak mencintaiku? " tanya Rabel berupaya menyentuh jemari Mizka namun Mizka pindahkan agar tidak tersentuh.


" Cinta itu Di rasakan, bukan untuk di pikirkan. Ia butuh balasan dari pada sebuah alasan. Ketika tidak ada lagi yang bisa di usahakan, kadang kadang pilihan terbaik adalah mengikhlaskan. Ini cara Tuhan mengajarkan arti ikhlas dalam hidup, adalah dengan cara menghilangkan seseorang yang di cintai. Cinta tidak harus memiliki, tidak selamanya apa yang kita kejar akan berpihak pada kita. Tidak semua yang kita impikan akan datang menghampiri kita. Biar kan semua ini menjadi kenangan hidup dan pengalaman. Apa yang terjadi sekarang ini tidak perlu kita sesali, tapi biarkan ini berjalan sesuai ketetapan Nya. " kata Mizka sudah mulai tenang


" Tidak Mizka. Percayalah, berikan aku kesempatan terakhir, aku tidak akan mengingkari lagi. Aku mohon Mizka. " kali ini Rabel ikut mengalir air matanya.


" Berikan kesempatan itu pada wanita lain, jaga dia berikan dia kepercayaan, tapi tidak untuk ku. Jika kamu memang mencintaiku, biarkan aku bahagia Rabel. " kata Mizka yang menarik paksa selang di pergelangan tangan nya. darah yang menetes tak ia hiraukan, rasa sakit itu tidak ia rasakan, karena lebih sakit hati yang ia rasakan.


" Jangan lakukan itu Mizka. " Rabel yang panik melihat tangan Mizka yang mengalir darah segar.


" Biarkan aku pergi. Atau aku mati berlahan di sini. " ucap Mizka yang sudah berdiri dengan tenang.


Rabel menggelengkan kepala nya, ia tidak menyangka rasa sakit yang ia torehkan, membekas dalam dalam hati Mizka, sampai Mizka lebih memilih mati jika harus bersanding dengan nya.


Ia pun memberi jalan untuk Mizka keluar, ia tidak mungkin memaksa Mizka saat ini. Karena kondisi nya jauh lebih utama saat ini bagi Rabel.


Dengan susah payah Mizka berjalan keluar, menahan rasa sakit di tangan, seluruh badan, juga hatinya yang sangat perih.


Betapa terkejutnya Elwas melihat Mizka yang begitu acak acakan. Bahkan tangan nya terus meneteskan darah.

__ADS_1


" Mizka.....!!! " Elwas yang baru saja keluar dari lift karena ia batu saja dari bawah mencari keberadaan Mizka namun tidak ketemu, akhirnya ia akan kembali ke apartemen namun ia melihat Mizka keluar dari apartemen seseorang yang berada di depannya.


Mizka menoleh Elwas masih dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Bisa di pastikan jika Mizka sedang tidak baik baik saa. Elwas melihat Rabel yang berada di belakang nya begitu geram.


" Ba********" ucap Elwas sambil memukul wajah Rabel bahkan Rabel yang jarang berkelahi hampir saja tersungkur karena satu pukulan dari Elwas.


" Elwas jang - " Mizka yang sudah tidak kuat berdiri akhirnya tergeletak di lantai. Elwas bergegas membawa Mizka masuk dan mendorong Rabel agar tidak menyentuh Mizka.


Elwaa menghubungi dokter di sana, agar segera memeriksa keadaan Mizka, Elwas tidak sudi saat Rabel menawarkan akan merawat dan mengatakan jika dia adalah dokter.


" Mizka bertahan lah. " ujar Elwas dengan mengusap wajah Mizka dengan tisu basah. Elwas sangat geram saat melihat tanda merah di leher Mizka yang tidak hanya satu. Ia mengepalkan tangan nya lalu berdiri. Ia akan menghajar Rabel seolah Mizka adalah miliknya. Namun saat akan keluar bertepatan itu pula seorang dokter akan masuk untuk memeriksa keadaan Mizka. Akhirnya niat Elwas akan berkelahi ia urungkan untuk mengetahui kondisi Mizka terkini.


" Bagaimana dokter. " kata Elwas saat melihat dokter itu mulai memeriksa tangan Mizka yang terluka.


Elwas hanya menggelengkan kepala tak mengerti.


" Untuk sementara aku akan memberikan cairan infus agar kondisi pasien kembali stabil. Seperti nya kondisi pasien sedang mengalami sebuah tekanan atau trauma yang mendalam, membuatnya berpikir terlalu sehingga menjadikan ia stress. Sebaiknya anda selalu menjaganya, dan pastikan agar ia tidak terlalu tegang dalam berpikir. Saya sudah menyuntikan vitamin juga penambah darah ke saluran infus. Semoga pasien isa segera pulih. " ujar Dokter itu.


Setelah mengantar kepergian dokter, Elwas lebih memilih menjaga Mizka dari pada mencari Rabel. Ia baru menyadari jika selimut milik Mizka tidak ada, ia pun berinisiatif mengambilkan selimutnya untuk Mizka.


Elwas selalu membelai rambut Mizka, sungguh hatinya sangat sakit melihat Mizka yang selalu membuat gaduh hidupnya harus terbaring lemah tak berdaya di ranjang, tanpa bisa membuka matanya.

__ADS_1


Elwas sangat merasa bersalah atas kejadian ini, seandainya saja ia tidak membohongi Mizka untuk di bawa ke Jerman. Atau menuruti keinginan Mizka agar pulang sendiri ke Indonesia,mungkin Mizka tidak mengalami hal semacam ini. Elwas mengusap wajahnya yang tak terasa meneteskan air mata melihat kondisi Mizka saat ini.


Lama Elwas termenung memandang wajah sayu Mizka, Ia mulai merasakan gerakan jati Mizka yang mulai bergerak. Segera Elwas mengenggam lembut jari Mizka agar dapat melihat kehadiran nya di sisinya.


Perlahan Mizka mulai membuka matanya dan di lihat wajah Elwas yang sudah tersenyum padanya juga air mata yang belum Elwas hapus dari wajahnya karena mengkhawatirkan keadaan Mizka saat ini.


Mizka ikut tersenyum melihat adanya Elwas di sisinya.


" Jangan bilang kamu sedang menangisi aku. " kata Mizka


" Jika aku katakan iya, apa kamu akan menolak nya. " jawab Elwas dengan menghapus air matanya.


Mizka menganggukan kepalanya, Elwas hanya tersenyum ia tidak mau membuat tekanan jiwa Mizka terlebih dahulu. Ia akan bersabar mengutarakan maksud hatinya, setelah Mizka sembuh nanti.


Elwas masih setia merawat Mizka, bahkan Elwas lebih memilih meninggalkan pertemuan penting untuk menjaga Mizka. Elwas tidak perduli jika akhirnya nanti akan di marahi oleh Reyhan atau di salahkan. Ia tidak ingin mengulang kesalahan sampai ke tiga kalinya. Saat ia sudah tidak dapat lagi kesempatan.


Dua hari Elwas merawat Mizka dengan teliti juga sangat lembut dan kasih sayang. Ia tidak pernah menanyakan bagaimana bisa seperti ini, karena hanya akan menganggu pemikiran Mizka.


Bahkan untuk ke kamar mandi, Elwas yang menggendong Mizka ke sana. Ia tidak menghiraukan Mizka yang menolaknya untuk di gendong. Ia tetap membantu sampai dalam, barulah ia akan keluar dan menunggu di depan pintu.


Seperti pagi ini, Mizka menolak Elwas menggendongnya ke kamar mandi, namun Elwas tetap saja tidak mendengar.

__ADS_1


Elwas menaruh tubuh Mizka di atas closed yang sudah terbuka.


" Apa perlu aku membuka kan nya? " goda Elwas membuat Mizka merona di wajahnya....


__ADS_2