
Elia segera duduk di samping suami nya, terlihat senyum dari keduanya. Elia merasa sudah seperti bertemu seseorang yang sangat membuat nya bahagia.
Di sepanjang perjalanan Elia tak lepas dari pelukan Reyhan, bahkan Elia pun ikut memeluk tubuh Reyhan tanpa memperdulikan Mizka yang sesekali melihat Elia yang sangat romantis menurut pandangan nya.
Berbeda dengan Elia, Mizka justru hanya diam saja dengan Elwas. Tak ada percakapan dari keduanya semenjak perang mulut dari keduanya ketika Reyhan membawa paksa Elia ke apartemen nya.
Mizka yang saat itu sangat ketakutan terjadi sesuatu pada Elia, memaki Elwas sesuka hatinya, bahkan dia mengatakan jika tahu semua rencana Elwas yang hanya memanfaatkanya dan Mizka juga mengatakan jika sesungguhnya tidak mencintai Elwas dari awal. Dia pun juga memanfaatkan Elwas untuk mengetahui rencana Reyhan.
Baik Elwas atau Mizka, tidak ada dari mereka yang bersuara lebih dulu. Keduanya seperti seseorang yang tidak kenal.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua belas jam, mereka menginjakan kaki di negara orang. Sebuah negara yang sangat Elia dan Mizka kagumi. Tak tangung tanggung Reyhan menyewa sebuah hotel mewah dengan menyuguhkan keindahan pantai yang sangat mengagumkan.
Elia membuka tirai jendela berwarna putih, ia menutup mulutnya karena takjubnya akan keindahan pantai yang dapat ia lihat dari kamarnya, dan ada sebuah pintu yang menghubungkan dengan pantai tersebut.
" Apa kamu menyukainya? " tanya Reyhan dengan memeluk tubuh Elia dari belakang, dan mencium rambutnya dari samping.
" Sangat menyukainya. " jawab Elia mantap
__ADS_1
" Aku dulu sempat berkhayal. Jika aku menikah aku akan melewati masa bulan di Turki dengan pemandangan pantai yang bisa membuat suasana menjadi romantis. Dan akhirnya bisa juga aku melakukannya, ya... walaupun bisa di bilang sangat terlambat untuk masa bulan madu kita. " jawab Elia tersenyum
" Tidak ada yang terlambat, karena selamanya kita akan menjalani kehidupan bersama. Dan aku akan membuat hari hari mu, menjadi menjadi hari seolah kita sedang bulan madu. " kata Reyhan dengan membalik tubuh Elia agar menghadap dirinya.
Keduanya saling tersenyum, seolah tak ada kata lelah mereka pun melewati sore yang panas berdua.mengabaikan Mizka yang sedang kecewa, karena saat ini ia harus satu kamar dengan Elwas.
Elwas yang tidak mengetahui jika Mizka akan ikut diantara mereka, maka ia hanya memesan dua buah kamar untuk Reyhan dan Elia, juga untuk dirinya. Karena sesungguhnya semua fasilitas yang ia gunakan saat ini adalah Elwas yang menyiapkan. Reyhan hanya menerima laporan saja.
Elwas sudah menyiasati akan mencari sebuah kamar untuk dirinya namun ternyata semua kamar sudah penuh, bahkan Elwasnbakan membayar lebih namun pihak hotel tidak bisa mengecewakan satu pelanggan dengan mengusirnya.
Sampai akhirnya Mizka dengan terpaksa menyetujui ketika Elwas meminta berbagi kamar dengan nya dan bersedia akan tidur di sofa yang ada di sana.
Mizka membuka pintu yang menghubungkan dengan sebuah pantai, ia melepas sendalnya dan berjalan di sisi pantai tanpa alas kaki. Kenapa bayangan nya menerawang ke masa lalu saat Rabel menanyakan tempat bulan madu mana yang akan ia pilih. Dan Mizka sangat menginginkan Turki sebagai tempat bulan madu mereka.
Mizka terseyum getir, sesak di dadanya jika kembali mengingat sebuah masa lalu yang sangat menyakiti hati nya. Dimana ia pernah sangat di cintai oleh Rabel, namun karena sebuah kesalah pahaman ia harus di tinggalkan Rabel begitu saja.
" Kau tahu Rabel, akhirnya aku bisa menginjakan kaki ke Turki, walaupun tidak bulan madu dengan mu, setidaknya aku mengantar seseorang yang sedang bulan madu. " gumam Mizka pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Mizka memandang pantai dengan melamun karena mengingat masa lalunya tanpa mengetahui jika dirinya sedang di perhatikan oleh seseorang ya dia adalah Elwas.
Elwas sangat kecewa saat mendengar penuturan dari Mizka jika sebenarnya Mizka tidak mencintainya. Bahkan Mizka mengatakan jika dia juga sama dengan dirinya, hanya memanfaatkan keuntungan yaitu sebuah informasi tentang Reyhan maupun Elia saja.
Sebenarnya Elwas sudah merasakan getaran saat bersama Mizka, kedekatan mereka yang tawa renyah Mizka bisa membuatnya tersenyum. Hari hari sepi Elwas mulai sedikit berwarna dengan canda Mizka yang selalu saja menggodanya.
Elwas terlalu percaya diri jika merasa Mizka juga mencintainya. Elwas bahkan sudah bisa menerima kekurangan fisik Mizka yang di bilang gempal, juga jauh dari tubuh ideal. Elwas sudah mulai membuka hatinya saat Mizka dan dirinya sering berbalas pesan. Ysng pasti di mulai Mizka. Namun sejak perang mulut dari keduanya tak ada satu pun dari mereka yang mau membuka percakapan terlebih dahulu, atau berkirim pesan terlebih dahulu.
Elwas meneguk segelas wine untuk menghilangkan penat di kepalanya, dengan menggoyangkan gelas yang ia pegang ia terus menatap keluar dimana Mizka sedang berdiri mematung.
Sampai tengah malam, Mizka masuk kembali ke dalam karena udara dingin menyapa tubuhnya. Di lihat Elwas sudah tertidur di sofa, Akhirnya Mizka melewatinya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai Mizka naik ke ranjangnya, dan mulai membaringkan tubuhnya. Dari ranjang ia melihat Elwas yang terpejam dengan mensedekapkan kedua tangan nya. Mizka pun membuka selimutnya dan membawanya pada Elwas dan mulai menyelimuti tubuh Elwas. Mizka memandang wajah tampan Elwas. Begitu sempurna menurut pandangan Mizka. Hidung yang mancung, kulit yang bersih dan bibir yang merah seperti wanita, dan rahang yang kokoh, oh.... sungguh menggoda iman' dalam pikiran Mizka.
Mizka menggeleng gelengkan wajahnya dengan sedikit menampar sendiri wajah nya agar tersadar dari khayalan nya. Mizka merasa tak pantas untuk pria sesempurna Elwas. Walaupun hanya satu kali ia pernah berhubungan badan, namun tetap saja Mizka merasa sudah tidak suci, sehingga tidak layak untuk Elwas yang tak pernah tersentuh oleh wanita.
Mizka memutuskan kembali ke ranjang dan tidur dengan membelakangi Elwas, agar tidak bisa terus menatap wajah tampan nya. Karena selimut hanya satu, Mizka mengalah tidak memakai, karena ia merasa ia bisa tidur di tempat nyaman sedang Elwas tidak.
Walau sudah memakai piyama panjang, Mizka masih merasa kedinginan, Ia memaksakan tidurnya menahan kedinginan, karena malam sudah semakin larut, Mizka berharap agar pagi segera menjelang.
__ADS_1
Elwas yang sebenarnya tidak tidur mengembangkan senyumnya saat mengingat Mizka menyelimuti tubuhnya dan terus memandanginya, bahkan ia melihat saat Mizka menampar wajahnya sendiri karena ia membuka sedikit matanya tapi Mizka tidak menyadarinya.