Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab. 89 Apartemen Elwas


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih enam belas jam, Keduanya sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta.


Elwas masih dengan setia menarik koper juga membawa tas milik Mizka, sedangkan Mizka bak tuan puteri ia hanya menenteng tas kecil miliknya.


Mizka mengikuti Elwas menaiki taxi, Mizka menyandarkan kepalanya di pundak Elwas. Rasa penat yang ia rasakan saat ini.


" Apartemen Grand Haza ya pak !! "


" Baik Tuan !! " jawab Sopir taxi melirik ke belakang.


Sebenarnya Mizka berharap jika Elwas mau mengantarnya ke apartemen nya terlebih dahulu, namun ia lebih baik mengalah. Biarlah taxi ini membawa ke apartemen milik Elwas terlebih dahulu, baru ia akan memberitahukan alamat apartemen miliknya ke sopir itu.


Dari kaca spion Mizka melirik sopir taxi, seolah memberi isyarat pertanyaan siapa gerangan wanita di sebelah lelaki tampan penumpangnya itu.


Mizka sangat jengah dengan tatapan segenap orang yang melihatnya, seakan tidak pantas jika ia bersanding dengan Elwas. Lalu Mizka yang masih memeluk lengan kekasih nya itu, melihat wajah Elwas secara jelas dan sangat dekat.



" Memang sangat tampan. " batin Mizka dalam hati. Ketampanan Elwas bahkan tidak berkurang walau sudah melewati perjalanan enam belas jam lebih.


" Hidung mancungnya, rahang kokohnya. Oh my God... kamu memang makhluk Tuhan yang paling sexy... " batin Mizka masih saja mengagumi kekasihnya yang sedang ia peluk.


" Kenapa ??? Apa kamu baru menyadari begitu bodoh nya kamu mengabaikan cinta pria setampan aku ?? " Elwas mengagetkan Mizka tentang dirinya. Dan begitu bodohnya Mizka hanya menganggukkan kepala, lalu tersadar Mizka pun merona karena malu, begitu bodohnya mengakui jika dirinya bodoh.


" Elwas, aku takut jika ini hanya mimpi. Saat terbangun ternyata kamu tidak memilih aku. " ucap Mizka pelan.


" Tenang saja. Aku akan membuatmu semakin nyenyak dalam tidur, agar kamu tidak pernah menyesal telah memimpikan aku. " ucap Elwas dengan mencubit hidung Mizka.

__ADS_1


Mizka tersenyum dengan jawaban Elwas, semakin ke sini, Elwas semakin membuatnya nyaman. Bahkan Elwas sudah pandai menggoda nya sekarang ini.


Sampai di lobby Apartemen Elwas sopir taxi itu pun keluar mengeluarkan barang milik mereka.


" Ayo turun cantik. Apa kamu akan ikut sopir taxi ini pulang ke rumahnya?? " kata Elwas dengan mengulurkan tangan nya agar di raih Mizka.


" Aku langsung pulang saja Elwas. Lagi pula ini sudah larut malam. " jawab Mizka dengan melihat jam di pergelangan tangan nya yang sudah menunjukan pukul sebelas malam.


" Aku yang akan mengantarmu ke sana. kamu benar ini sudah larut malam. Aku tak mau kehilangan pacar se sexy dirimu. " ucap Elwas dengan mengedipkan satu matanya membuat Mizka melongo.' Apa benar ini Elwas yang dingin seperti beruang kutub utara itu. Kenapa pandai sekali melelehkan hatinya sekarang ini. '


" Tapi Elwas....- "


" Tenang saja aku tak akan memakanmu. Jadi dengarkan aku, pak sopir pun ingin istirahat pulang. " kata Elwas menarik tangan Mizka agar ikut turun bersamanya.


Akhirnya Mizka pun mengikuti Elwas masuk kedalam Apartemen nya. Sangat Rapi untuk ukuran pria, padahal waktu Elwas selalu di habiskan untuk melakukan pekerjaaan, bahkan Reyhan sering sekali menganggunya.


" Tidak ada. Aku tidak suka ada orang lain memasuki Apartemen ku. " jawab Elwas dengan menaruh barang barang mereka di ruang dekat sofa.


" Lalu kenapa membawa ku kemari, jika kamu tidak menyukainya. " jawab Mizka


" Karena kamu bukan orang lain bagiku. Kamu Nyonya pemilik apartemen ini. " kata Elwas menatap Mizka membuat Mizka kikuk dengan jawaban Elwas. Ia masih belum terbiasa dengan sikap hangat juga romantis Elwas.


" Hanya kamu dan Tuan Reyhan saja yang sudah masuk ke apartemen ini. " kata Elwas lagi


" Apakah...- ??"


" Paula?? Tidak pernah. Aku tak pernah membawanya kemari atau kemana pun. " jawab Elwas menuju dapur mengambil air putih untuk mereka.

__ADS_1


" Tak pernah?? Atau memang dia yang tidak mau?! " tanya Mizka terseyum kecut


" Dua duanya. "


" Aku tidak pernah mencoba mengajaknya, dan sudah di pastikan juga dia menolaknya, karena aku hanya Asisten Pribadi saja. " ucap Elwas dengan menuangkan air putih dan menyerahkan pada Mizka


Mikza pun hanya melihat air minum itu tanpa ada gerak gerik akan mengambilnya.


" Tenang saja, aku tidak akan menaruh racun padamu. Bukankah katamu tidak akan ada yang mau menggantikan mempelai wanita untuk bersanding dengan pria sedingin diriku? " kata Elwas yang tahu jika Mizka curiga dengan air yang ia berikan.


Mizka menerima air putih itu dengan terseyum kikuk. Sebenarnya ia bukan takut di racun mati, tapi ia takut jika ia di beri obat perangsang seperti dulu. Karena untuk pertama kalinya ia berani malam malam masuk di apartemen pria seperti ini. Walaupun ia percaya Elwas bukan tipe laki laki seperti itu tapi rasa curiga dan takut pasti ada. Karena menurutnya bisikan setan ada dimana mana.


Setelah meminum air putih Mizka melihat jam di pergelangan tangan nya, sudah menunjukan setengah dua belas malam.


" Elwas... ini sudah larut malam, bisakah kamu mengantar ku sekarang? " tanya Mizka


" Ini sudah tengah malam, lagi pula kamu pasti sangat capek, mendingan kamu istirahat di kamarku. Aku akan tidur di sofa, jika kamu tidak mengijinkan berbagi ranjang denganku. " kata Elwas


Lagi lagi Mizka risih dengan jawaban Elwas. Kenapa sekarang, dia di buat mati gaya dengan jawaban Elwas yang bisa membuatnya tak mampu menjawab.


" Aku berjanji tidak akan menyentuhmu Mizka, percayalah !! Kita sama sama capek, mari istirahat !! Besok aku akan mengantarmu sekalian berangkat kerja. Karena besok pagi, aku harus langsung ke kantor mengurusi pekerjaan yang tertunda karena Tuan Reyhan belum kunjung pulang. " kata Elwas.


Mizka yang kasian pada Elwas pun akhirnya mengalah. Ia masuk ke ruang kamar Elwas, ia menatap sekeliling ruangan, dan pandanganya berhenti, menatap sebuah foto di atas nakas yang membuatnya sangat tidak percaya.


Di atas nakas itu terpampang potret dirinya dengan Elwas, dengan pose satu tangan Elwas merangkul pundaknya dan satu tangan Mizka di dagu Elwas untuk memaksa Elwas terseyum. Sedangkan Mizka sendiri dengan terseyum lebar di foto selfie tersebut.


Bayangan Mizka kembali ke masa lalu, saat foto itu diambil. Foto itu diambil saat pertemuan pertama mereka, Yaitu adalah saat ia di bekap mulutnya oleh Elwas dan di ajak sembunyi agar Reyhan bisa berbicara leluasa dengan Elia saat itu.

__ADS_1


Elwas yang ingin memata matai Elia saat itu menerima ungkapan cinta Mizka begitu saja. Ya walau kata Mizka, itu juga cara dia memanfaatkan Elwas untuk mendapatkan informasi tentang Reyhan kala itu juga.


__ADS_2