
Elwas memberikan waktu untuk Mizka berbicara, ia tidak akan ikut campur tentang masalah pribadi Mizka. Elwas masih bisa menguasai dirinya agar diam pada posisi nya.
" Mizka, tetap lah di sini bersama ku. Aku berjanji aku akan menjagamu segenap jiwa ku. Dan aku berjanji tak akan menyia nyiakan kesempatan untuk membahagiakan mu. " Rabel mendekati Mizka dan memegang tangan Mizka yang tak ada penolakan.
Mizka memandang Elwas, hatinya bergemuruh merasakan ini semua. Sebenarnya ia ingin Elwas mempertahankan dirinya, tapi kenapa saat ini dia hanya dia menatapnya tanpa ada sedikit pun suara yang keluar dari mulut Elwas, melihat dirinya di sentuh Rabel.
Elwas pun mendekati keduanya, dan meletak kan tas yang sejak tadi ia bawakan. Dengan suara gemetar menahan gejolak dada ia hanya mampu berucap tanda perpisahan.
" Aku selalu memberimu kebebasan untuk memilih Mizka. Karena cinta ku tak terbatas untuk mu. Asalkan kamu bisa bahagia dengan dia, aku akan melepaskan mu !!Walau sebenarnya hatiku tak akan bisa menerima keadaan ini. Tapi aku akan berusaha Mizka. Dan aku berjanji agar tidak membuatmu bimbang, aku tidak akan pernah menampak kan diriku di hadapan mu. " ucap Elwas
Mizka hanya mampu menunduk ia mendengarkan dengan seksama apa yang di ucap Elwas, dan ia bisa tahu sekarang, besar cinta Elwas sangat lah dalam untuknya. Sampai ia merelakan kesedihan demi untuk melihatnya bahagia.
Elwas melihat Mizka yang tertunduk hanya bisa berpaling dan pergi meninggalkan keduanya. Ia tahu jika sebenarnya Mizka memang belum terlalu mencintainya. Karena sejak awal Elwas lah terlalu bermain dengan perasaan, sehingga setiap apa pun yang di lakukan oleh Mizka selalu ada ruang di hatinya.
Elwas menunggu lift turun meninggalkan Mizka berdua dengan Rabel. Ia menoleh untuk terakhir kalinya wajah Mizka yang sedang tidak menatapnya, sampai lift itu tertutup.
Mizka menutup matanya rapat bersamaan dengan lift yang di pakai Elwas tertutup.
" Mizka aku sangat mencintaimu. " ucap Rabel segera memeluk tubuh Mizka dengan sangat erat.
Melihat tak ada respon Rabel mengurai pelukan nya dan menatap Mizka.
__ADS_1
" Aku harap ini adalah pelukan terakhir kita Rabel. Aku sudah memutuskan akan menikah dengan Elwas setelah kepulangan ku. Aku harap kita saling bahagia setelah saling melupakan. Aku percaya jika kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna dari aku. Dan aku pun akan menemukan kebahagiaanku bersama lelaki pilihan ku. " ucap Mizka mundur sedikit menjauh dari hadapan Rabel.
" Mizka, bagaimana jika kamu hamil?? Kamu bisa saja mengandung anak ku !! " ujar Rabel yang masih tidak ingin kehilangan Mizka
" Jika aku bisa berharap, aku bisa mengandung anakmu. Setidaknya aku menjaga cinta yang aku miliki bersama mu dulu. Dan aku nyakin Elwas akan memberikan segenap cintanya tanpa memandang siapa ayahnya. Jadi seandainya aku hamil, itu tidak akan merubah keputusan Elwas untuk menikahiku. " ucap Mizka
" Tidak Mizka. Jika kamu hamil, akulah yang aku bertanggung jawab apa pun alasan nya. " ucap Rabel
" Inilah perbedaan yang membuatku semakin mantap memilih Elwas, Rabel. Kamu terlalu menginginkan aku sebagai ambisi. Sedangkan Elwas mencintaiku dengan ketulusan. Ia mencintaiku tanpa meminta aku untuk membalasnya. Ia merelakan dirinya terluka untuk bisa membuatku bahagia. Tapi dirimu?? Kamu terlalu menginginkan aku, sampai kamu tak melihat masih adakah cinta untuk mu yang bisa ku berikan. Apakah aku akan terluka atau bahagia jika bersamamu, itu tidak kamu pikirkan. Yang kamu tahu adalah setiap yang kamu lakukan akan bisa membuatku bahagia. Belum tentu Rabel !!! Belum tentu kita menjalani bahtera rumah tangga akan bahagia seperti kita merajut cinta dulu. Semuanya sudah berubah Rabel. Aku sudah memiliki hati yang bisa untuk ku labuhi. Selamat tinggal Rabel. Semoga kamu dapat menemukan cinta yang bisa menyambut perasaan mu, karena aku sudah tidak bisa menyambutmu. "
Mizka meraih tas yang di letak kan Elwas di sampingnya. Ia segera menuju lift tanpa ingin melihat wajah Rabel untuk yang terakhir kalinya.
Elwas memberhentikan taxi di depan nya dan akan membuka pintu taxi itu.
" Kamu itu jahat sekali, meninggalkan aku dengan meninggalkan tas seberat ini. Memangnya siapa yang akan mengganti kan mempelai wanita jika mempelai prianya saja terlalu dingin seperti kamu. " teriak Mizka dengan menenteng tasnya.
Elwas sangat hafal betul suara itu mengurungkan niatnya membuka pintu taxi. Ia pun membalikan badan dan menatap Mizka yang sudah manyun. Ia pun merentangkan kedua tangannya agar Mizka berhambur memeluknya.
Dengan langkah cepat Mizka pun mendekati Elwas lalu menaruh tas besarnya di dada Elwas pengganti pelukan.
" Tidak ada pelukan !! Tega sekali meninggalkan tas sebegitu beratnya untuk ku bawa. " gerutu Mizka.
__ADS_1
Mizka langsung naik taxi begitu saja, meninggalkan Elwas yang kemudian membuka bagasi taxi memasukan tas juga kopernya.
Di dalam taxi tak ada percakapan dari keduanya, Elwas masih belum bisa percaya jika Mizka memilih bersamanya untuk pulang. Itu tandanya Mizka sudah memutuskan akan memilih hidup bersanding dengan nya di banding dengan mantan kekasihnya.
Melihat Elwas yang diam saja membuat Mizka begitu gemas untuk memeluknya, Mizka sendiri juga heran bagaimana bisa ia memilih pria sedingin Elwas dan meninggalkan Rabel yang selalu hangat untuk nya.
Mizka memeluk tubuh Elwas dari samping dan menyandarkan wajahnya di dada bidang Elwas sedangkan Elwas yang awalnya terkejut, akhirnya tersenyum lalu membelai lembut rambut Mizka yang sangat wangi.
" Berjanjilah padaku, jika kamu akan selalu memperjuangkan aku, saat ada pria yang akan merebut ku dari mu. " ucap Mizka masih memeluk tubuh Elwas.
" Aku percaya kamu akan selau setia untuk aku, karena kamu sudah terhipnotis oleh pesonaku. Jadi aku rasa aku tak perlu berjanji untuk itu. " jawab Elwas santai
Mizka begitu heran mendengar penuturan Elwas yang tumben sekali sangat percaya diri. Lalu ia pun mencubit pinggang Elwas sangat keras karena begitu gemas, sekarang Elwas sudah pandai menggoda nya. "
" Auw....www "
Elwas merintih kesakitan saat Mizka tak kunjung melepaskan cubitan nya.
" Mizka aku berjanji... Ia aku berjanji. " ucap Elwas berusaha melepaskan tangan Mizka dari pingganganya.
Sopir taxi itu hanya bisa menatap heran, pria setampan Elwas memiliki kekasih yang gemuk, ya walaupun cantik, tapi postur tubuhnya sangat tidak ideal menjadi kekasihnya. Sedangkan Mizka yang merasa di perhatikan oleh sopir taxi itu dengan tatapan seperti kenapa bisa, justru semakin mengeratkan pelukan nya
__ADS_1