Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan

Mengejar Cinta Yang Ditinggalkan
Bab. 42 Kritis


__ADS_3

Reyhan tak berani melangkah maju, ia hanya berdiri menatap ruangan Elia dari kejauhan. Dia hanya berdiri di depan pintu lift.


" Bruk......"


Tiba tiba Nihan menabrak Reyhan yang berdiri mematung di depan lift. Karena langkah Nihan yang tergesa gesa sampai mengabaikan orang yang menghalangi jalannya


" Maaf. " kata Nihan menatap Reyhan


" Reyhan....? " ucap Nihan yang hampir tak mengenali wajah Reyhan karena babak belur, jika ia tidak memperhatikan dengan seksama


Aldo yang mendengar sedikit keributan di samping lift, matanya mencari mengikuti sumber suara. Dan emosinya kembali memuncak saat melihat Reyhan berada di rumah sakit ini.


" B******k, untuk apa kamu kemari? Pergi dari sini !! " kata Aldo dengan memukul kembali wajah Reyhan.


" Daddy udah......" kata Nihan melerai suaminya, Nihan sudah terbiasa memanggil Aldo dengan sebutan daddy sejak Zian lahir.


" Sayang....! " bentak Nihan yang tak bisa menghentikan aksi suaminya yang terus memukul Reyhan, akhirnya Aldo berhenti memukul Reyhan.


Nihan membawa Aldo keruang tunggu untuk duduk agar dia menjadi sedikit tenang. Kemudian berbalik menghampiri Reyhan yang masih berdiri seperti orang bodoh.


Nihan menatap Paula dengan pandangan sinis, kemudian mendekati Reyhan. Nihan tidak iba sama sekali menatap Reyhan, saat mengetahui wanita di samping Reyhan adalah Paula. Tanpa di beritahukan masalahnya, Nihan dapat menangkap jika ada hadirnya orang ketiga dalam hubungan Elia dan Reyhan.


" Aku tidak tahu pasti, apa sebenarnya yang terjadi. Namun aku ingatkan agar kamu membuka matamu lebar lebar Reyhan !! Supaya kamu dapat melihat, mana batu permata dan mana yang hanya batu kerikil kali. Supaya kamu juga dapat membedakan batu permata walau mahal akan banyak yang mencari dan membeli. Namun jika batu kerikil kali, harganya sudah murah, namun masih banyak yang menawar. Aku harap kamu bisa paham maksud ucapanku !! " kata Nihan sinis.


Saat bersamaan dengan itu, datang seorang perawat yang berlari menghampiri Nihan, di ikuti Aldo yang ingin tahu kondisi Elia.


" Dokter Nihan, janin pasien tidak dapat di selamatkan. Dan sekarang pasien mengalami kritis karena pendarahan yang tak kunjung berhenti. " kata perawat itu dengan panik.


" Apa...? " kata Aldo dan Nihan bersamaan.

__ADS_1


" Cepat panggil dokter Sean, katakan pasien bernama Elia dalam keadaan kritis, dan bawa kantong golongan darah A dua kantong. Segera. " kata Nihan yang terus berlari menuju ruangan Elia.


Aldo menatap istrinya berlari, sebenarnya ia juga sangat khawatir dengan kondisi Nihan yang sedang hamil muda. Namun ia juga mengkhawatirkan kondisi Elia saat ini. Dia benar benar merasa gagal menjadi seorang kakak yang akan melindungi Elia, seperti janjinya pada ibunya dulu.


" Ini semua gara gara kamu !!! " kata Aldo berlari ingin menghajar Reyhan kembali. Paula yang melihat aksi Aldo segera berteriak minta tolong, sehingga menimbulkan kegaduhan di ruangan tersebut.


" Tolong..... laki laki itu akan membunuh suamiku. " kata Paula mengiba saat ada beberapa orang yang menghampiri.


Aldo yang melihat pertunjukan Paula menjadi semakin muak.


" Cih..... Menjijikan. " kata Aldo yang tak jadi memukul Reyhan karena di halangi beberapa penunggu pasien di ruangan itu. Tak berselang lama seorang security intel menghampiri dan memberitahukan agar menjaga ketenangan, dan tidak membuat kegaduhan kembali.


Aldo kembali mendekati ruangan Elia dan bersandar di tembok samping pintu. Ia melihat Sean berlari ingin menuju keruangan Elia, di ikuti perawat yang membawa dua kantong darah. Aldo hanya pasrah melihat Sean ikut menangani kondisi Elia yang kritis, karena Aldo tahu jika di rumah sakit ini Nihan dan Sean adalah dokter yang profesional.


Reyhan meneteskan air mata begitu saja saat mendengar seorang perawat tadi memberitahukan jika janin Elia tidak bisa di selamatkan. Reyhan sangat menyesali semua yang terjadi. Kenapa dia mengabaikan perasaan Elia padanya dulu.


Reyhan terjatuh, kaki nya tak kuasa menumpu berat tubuh nya lagi. Reyhan seperti orang bodoh yang terduduk tanpa ekspresi, tatapannya pun kosong.


Paula mencoba membimbing Reyhan untuk pergi dari tempat itu. Sedangkan Reyhan yang pikirannya kosong hanya diam mengikuti langkah bimbingan Paula.


Sampai di lantai bawah, Paula membawa Reyhan masuk ke ruang pemeriksaan. Paula ingin mengobati luka Reyhan sekalian. Sungguh Paula tak tega melihat kondisi Reyhan saat ini, penuh dengan memar di sekujur tubuhnya.


Dokter yang menangani Reyhan mengenali siapa Reyhan, langsung menghubungi ayah Reyhan. Dan tak berselang lama, ayah ibu Reyhan sudah ikut menyusul kerumah sakit dimana Reyhan di rawat.


Ibu Reyhan menutup mulutnya, karena terkejut melihat tubuh anaknya penuh dengan luka dan bengkak di wajahnya. Ia menangis memeluk tubuh Reyhan yang seperti mayat hidup, sangat pucat.


Ayah Reyhan menatap sinis Paula, yang sedang duduk di samping Reyhan.


" Kenapa kamu bisa berada di sini ? Bukankah aku sudah menyuruhmu menjauhi anak ku. " bentak Surya ayah Reyhan

__ADS_1


" Tapi aku mencintainya Pak. " jawab Paula


" Berani sekali kamu memanggil ku pak. Aku tidak akan menjilat ludahku untuk merestui hubungan kalian. Bukan kah dulu kamu yang menolak kami, saat memohon untuk melihat kondisi Reyhan. " kata Surya


" Aku menyesal pak, Aku akan memperbaiki semuanya. " kata Paula


" Pergi. Aku tak butuh rasa penyesalanmu. " . kata Surya, namun Paula tidak mendengarkan, ia masih saja tak tahu malu menunggu Reyhan disamping tidurnya.


" Elia.... Dimana Elia. Kenapa bisa Reyhan jadi seperti ini. " kata Sina mencari keberadaan Elia, namun tak melihatnya, lalu pandangannya berhenti pada Paula


Paula yang ditatap pun, menunjukan rasa kesedihan yang sangat.


" Elia di lantai atas, sedang dalam perawatan pula. Ini semua gara gara dia yang mengajak Aldo ke apartemen Reyhan. Aldo yang melakukan pemukulan ini, bu. " kata Paula


Sina menggelengkan kepala tak mengerti, ia berlari keluar ruangan dan ingin mencari kejelasan. Bagaimana pun Sina tidak terima anak semata wayangnya di pukul sampai tak berwujud wajah lagi.


Sina menanyakan ruangan ke resepsionis, dimana Elia berada, di ikuti Surya yang khawatir dengan Sina yang pasti akan memarahi Aldo.


" Bu... Tenang dulu. Kita tanyakan dulu baik baik apa sebenarnya yang terjadi. Jangan termakan ucapan ular berbisa seperti paula. " Surya mencoba menenangkan istrinya terlebih dahulu.


" Tapi pak.... Apa bapak tak melihat kondisi anak kita? Aku yang sudah mengandungnya, merawatnya, belum pernah memukul aku Reyhan. Kenapa Aldo tak punya perasaan melakukan seperti itu pak. " kata Sina masih emosi


Keduanya masuk lift, ingin menuju ruangan Elia. Sampai di lantai ruangan Elia dirawat, Sina sudah menatap penuh emosi terhadap Aldo.


JENG JENG......JENG !!!! Kira kira ibu Reyhan jadi memaki Aldo tidak ya 🤔🤔🤔


Apa karena ini ibunya jadi benci dengan Elia juga 🤔🤔


Simak terus kelanjutan kisah Halu Author ya.... 😘😘😘 Jangan lupa like, gift dan votenya, agar Author semangat crazy up seperti kemarin.... 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2