Menikah Dulu Baru Jatuh Cinta

Menikah Dulu Baru Jatuh Cinta
Gadis itu adalah kamu


__ADS_3

Satu jam telah berlalu, akhirnya kelas selesai juga, namun Rizal tidak kunjung datang juga.


Kiara dan Felly keluar dari kelas, mereka pergi menuju ke taman dan mereka duduk disana.


"Rizal tidak kunjung datang ke kelas Pak Hilmi, Rizal itu kenapa?"


"Kiara, kamu tanyakan langsung padanya, karena tidak berhak menjawab."


"Tapi kamu kan Fell, sih Rizal itu kenapa?" Kiara menatap Felly dan Felly mengangguk.


"Katakan Felly, biar aku tahu!"


Felly menggelengkan kepalanya, ia tidak punya keberanian untuk mengatakan Rizal itu kenapa? Dan Felly juga tidak mau ikut campur akan masalah Rizal dan perasannya yang selama ini Rizal pendam.


"Kiara, aku masih ada urusan, aku pulang duluan ya, kamu bisa tanyakan langsung pada Rizal untuk masalah yang ada saat ini," kata Felly dan Felly beranjak dari tempat duduknya dan ia berlalu pergi.


Kini Kiara terdiam sendirian, saat Felly sudah berlalu pergi, Kiara terus kepikiran akan Rizal, dasar Rizal, kamu itu kenapa? Tidak biasanya kamu bersikap aneh seperti ini.


Kiara beranjak dari tempat duduknya, ia hendak berlalu pergi meninggalkan taman, namun belum sempat melangkahkan kakinya tatapan mata Kiara tertuju pada satu laki-laki yang sedang duduk di kursi taman dan itu tidak jauh dari tempat Kiara duduk.


"Rizal," gumam Kiara dengan suara lirih.


Kiara berjalan menuju ke tempat Rizal duduk, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk ia bertanya pada Rizal, akan masalah yang ada saat ini.


"Rizal," panggilnya dengan lirih, Kiara menepuk pundak Rizal dengan lembut.


Rizal menoleh pelan, ia tampak gugup melihat Kiara saat ini berada tepat di belakang dirinya sedang duduk.


"Kiara," sahutnya pelan.


Kiara tersenyum pada Rizal, namun Rizal malah menatap Kiara dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


"Boleh aku duduk?"


"Duduklah!"


Seketika Rizal tampak cuek pada Kiara, Kiara mengehela nafasnya dengan pelan sambil duduk tepat disampingnya Rizal.


"Kenapa, kamu tidak masuk ke kelas Pak Hilmi?"


"Aku malas saja," lagi-lagi Rizal kembali bersikap cuek.


"Apa yang membuatmu malas?"


"Karena diriku sendiri yang terlalu bodoh"


"Bodoh dalam hal apa?"


"Aku sudah menyukai seorang gadis dari dulu, namun bodohnya aku tidak mau mengakui perasaanku pada gadis itu"


"Karena, aku tidak mau persahabatan yang aku jalin dengan gadis itu hancur karena sebuah hubungan seperti pacaran, aku takut jika suatu saat putus semuanya akan berubah"


"Seiring berjalannya waktu semuanya akan berubah, tidak perlu kamu takutkan, perasaan itu harus di ungkapkan!"


"Untuk apa? Aku rasa perasaanku ini sudah tidak penting lagi,"


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Karena gadis yang aku sukai itu akan segera menikah dengan laki-laki lain dan aku lihat laki-laki itu, jauh lebih baik dariku, aku juga yakin kalau laki-laki itu pasti bisa bahagiain gadis itu,"


"Akan segera menikah?" Kiara bertanya dengan nada kaget dan Rizal hanya mengangguk pelan dengan raut wajah tidak bahagia.


"Siapa gadis itu?" Kiara kembali bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Gadis itu adalah kamu!" Rizal menekankan jawabannya, seketika Kiara terdiam, ia sangat kaget dengan jawaban Rizal.


"Aku?!" Kiara kembali memastikan.


"Iya kamu, aku menyukaimu sejak dulu, tapi apakah kamu pernah sadar akan hal itu? Apa kamu pernah sekali saja sadar kalau aku ini selama ini menyukaimu Kiara!"Rizal menatap Kiara begitu dalam, seketika jantung Kiara berdebar kencang.


Rizal dan Kiara saling menatap satu sama lain, Kiara geleng-geleng kepala dan Rizal tiba-tiba meraih kedua pipi Kiara dengan kedua tangannya.


"Kamu mau apa?" tanya Kiara takut.


"Kiara, aku mencintaimu," ujar Rizal dengan sorot mata tajam.


"Tapi aku," Kiara menghentikan kata-katanya.


"Aku tidak peduli Kiara, biarpun kamu akan segera menikah, karena sebelum janur kuning melengkung, kamu bukan milik siapa-siapa," tegas Rizal dan ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kiara, Kiara berusaha meronta-ronta pelan tapi Rizal malah mempererat kedua tangannya di pipi Kiara dengan kuat.


Kiara kembali menggelengkan kepalanya.


"Apa yang mau kamu lakukan, Zal?" tanya Kiara, tubuhnya gemetaran karena takut Rizal berbuat macam-macam.


"Aku," Rizal semakin mendekatkan bibirnya hingga kini bibir dirinya dan Kiara hanya berjarak beberapa senti saja.


"Rizal jangan seperti ini!!" pinta Kiara dengan suara lirih.


Rizal tidak memperdulikan perkataan Kiara, ia hanya ingin mendapatkan apa yang ia mau untuk saat ini tanpa memikirkan hati dan perasaan Kiara.


"Brengsek, apa yang mau lakukan!!!" kata seseorang dengan suara lantang.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2