
"Iya, katakan aku apa gadis manis?" Kevin memotong kata-kata Kiara, membuat Kiara semakin kesal. "Diam, aku aku sedang mau menjawabnya, tapi kamu potong-potong," oceh Kiara dan Kevin langsung terdiam.
"Aku akan...."
"Katakan saja, kamu akan menikah denganku kan?" lagi-lagi Kevin menebak jawaban Kiara dengan begitu yakin.
"Iya tapi itu semua terpaksa, ingat semua ini karena terpaksa!" Kiara menegaskan kata-katanya pada Kevin.
"Terpaksa atau tidak aku tidak perduli, anggap saja kita itu menikah dulu baru jatuh cinta," ujar Kevin yang diiringi tawa kecil dan sorot mata semakin dalam.
"Terserah kamu saja," sahut Kiara malas.
"Baiklah terserah aku, maka pernikahan kita akan di langsung minggu depan," ujar Kevin, membuat mata Kiara membulat sempurna karena merasa kaget.
"Hay, apa kamu ini gila! Kamu bilang minggu depan? Lalu bagaimana dengan kuliahku? Aku baru mulai masuk kuliah, haruskah pernikahan kita di langsung minggu depan?" Kiara geleng-geleng kepala, ini apalagi? Kenapa harus minggu depan? Bukannya menunggu aku lulus kuliah dulu, tapi lagi-lagi Kevin memutuskan semuanya sendiri.
"Apa salahnya jika kamu kuliah dan kamu juga menikah," dengan genit Kevin mengedipkan satu matanya, membuat Kiara semakin kesal dibuatnya dan ingin sekali menginjak kakinya untuk yang kedua kalinya.
Kiara terdiam, jika aku terikat sebuah pernikahan maka aku tidak bisa mencari laki-laki tampan untuk menjadi kekasihku kelak, dan aku harus satu rumah dengan laki-laki stress ini, tuhan ini cobaan apalagi yang engkau berikan padaku?
Kevin mendekati Kiara, lalu ia mengangkat dagu Kiara dengan lembut, sorot matanya semakin tajam seolah-olah mengerti apa yang sedang Kiara pikirkan saat ini.
"Ingat setelah kita menikah, jangan berani-beraninya kamu memikirkan laki-laki lain ataupun melirik laki-laki lain! Yang perlu kamu ingat setiap hari, suamimu ini sudah tampan dan di otakmu harus terus mikirin aku," tuturnya dengan ketus dan lagi-lagi Kevin mencium pipi Kiara dengan lembut.
Kiara merasa sangat kesal, lalu ia mendorong tubuh Kevin dengan kuat, hingga Kevin terhuyung karena memang tidak siap dan tidak tahu kalau Kiara akan mendorongnya. "Selain stress, ternyata kamu juga laki-laki mesum, dasar brengsek," dengan kesal Kiara memarahi Kevin.
"Meskipun seperti itu, ingat aku ini calon suamimu," ujar Kevin dengan senyum penuh kemenangan dan penuh penegasan.
"Aku tidak perduli, sudahlah aku mau pulang, hari ini jam kuliah soalnya, siapa tahu aku bertemu dengan jodoh yang tepat," ejeknya dan Kiara berlalu pergi meninggalkan ruangan mewah itu, tapi belum sempat melangkahkan kakinya tiba-tiba tangan kekar Kevin sudah meraih tangannya.
__ADS_1
"Biar aku antar."
"Tidak usah, aku bisa berangkat sendiri."
"Aku tidak butuh penolakanmu!"
Tanpa banyak bicara lagi, Kevin mengandeng tangan Kiara keluar dari ruangan mewah itu.
Sambil mengikuti langkah kaki Kevin, Kiara terus ngedumel tidak jelas.
"Naiklah...!" Kevin membukakan pintu mobilnya, Kiara menurut ia naik ke dalam mobil milik Kevin.
Mobil sport warna hitam ini adalah mobil kesayangan Kevin, itu adalah kado ulang tahun dari sang papa dan mamanya.
Kiara tercengang, ini pertama kalinya ia naik mobil sport dan tentunya pasti harganya sangat mahal.
Tiba-tiba Kevin mendekat ke Kiara membuat Kiara kaget. "Kamu mau apa? Jangan macam-macam! Atau aku bertriak," lirih Kiara yang sudah memejamkan matanya.
"Apa yang kamu pikirkan? Pasti kamu memikirkan hal mesum ya, atau kamu memang menginginkan sesuatu yang indah terjadi di dalam mobilku ini," goda Kevin dengan jail, seketika pipi Kiara menjadi merah karena malu.
"Apa sih? Sudah jalanlah! Nanti aku terlambat," elak Kiara seraya menahan rasa malunya. "Dasar otakku ini, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya pada hatinya.
Setelah selesai memasangkan sabuk pengaman pada Kiara, Kevin menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke kampus Kiara.
"Kamu kuliah di kampus mana?"
"Di kampung xx, tidak jauh dari sini."
"Hahh, kenapa kamu kuliah di kampus biasa? Kamu tidak mau pindah ke kampus yang elit?"
__ADS_1
"Tidak, ibuku bukan orang kaya, bisa melanjutkan kuliah saja aku sudah sangat bersyukur."
"Pindah saja! Nanti aku yang tanggung semua biaya kuliahmu."
Kiara hanya menggelengkan kepalanya, membuat Kevin mengangguk paham.
Sesampainya di depan kampus Kiara, Kevin menghentikan mobilnya, lalu ia turun lebih dulu dari dalam mobilnya untuk membukakan pintu mobilnya untuk Kiara.
"Turunlah...!!"
Kiara turun dari dalam mobil Kevin dengan hati-hati.
"Terimakasih," ucap Kiara sambil membungkukkan sedikit kepalanya.
"Sama-sama," jawab Kevin dengan nada datar.
Kiara hendak berlalu pergi, tapi belum sempat melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Kevin lagi-lagi Kevin menarik tangannya membuat Kiara berdecak kesal.
"Sekarang apalagi?" tanyanya dengan ketus, sambil memasang raut wajah kesal pada Kevin.
"Kamu itu calon istriku, kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan sebelum kamu masuk ke kampus?" Kevin menatap Kiara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Haah.... memangnya aku harus melakukan apa?" tanya Kiara dengan tatapan bingung.
"Kamu harus...."
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1
.