
"Apa kamu mau Felly?" Putra kembali bertanya.
"Dokter...."
Felly malah tercengang ia masih tidak percaya kalau Putra menyatakan perasaannya padanya. "Kiara, Dokter Putra nembak aku, untung saja aku tidak mati," batinnya dalam hati.
"Fell, kok malah diam?" tanya Putra.
"Mauuu....iya aku mau Dok," dengan antusias Felly menerima pernyataan perasaan Putra. "Astaga Fell, kenapa kamu tidak jual sedikit saja, ah tapi sudahlah kalau aku terlalu jual mahal nanti jatuhnya bertele-tele," lirihnya dalam hati.
Putra seketika tertawa kecil, ia mencium punggung tangan Felly dengan lembut.
"Mulai sekarang kita pacaran ya," ujarnya dengan nada lembut dan tatapan penuh kebahagiaan.
Aku kira Felly akan menolak aku, ternyata pikiranku sudah salah.
Di malam yang begitu cerah ini akhirnya Putra dan Felly resmi berpacaran, keduanya juga terlihat sama-sama bahagia walaupun terlihat agak canggung.
Setelah selesai dengan acara malam ini, Putra langsung mengantarkan Felly pulang karena sudah malam, tidak baikan kalau membawa anak gadis orang hingga larut malam jadi sebelum jam 10 malam Putra harus mengantarkan Felly sampai di rumahnya.
****
Beberapa bulan kemudian
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu juga sudah berlalu, bulan demi bulan juga sudah berlalu, tidak terasa waktu berlalu sangatlah cepat. Kandungan Kiara juga terlihat semakin besar, bahkan Kiara juga akhirnya cutti kuliahnya. Bukan tanpa alasan tapi Kevin sangat kawatir, apalagi perut istrinya yang mungkin semakin berat dibawa kemana-mana jadi Kevin menyuruh Kiara hanya di rumah saja. Beruntungnya punya suami sebaik Kevin, sudah kaya raya baik hati pula.
Semenjak kehamilannya Kiara juga sangat manja dan ia sering sekali nangis, mungkin bawaan bayi juga. Sedikit saja Kevin bicara dengan nada agak tinggi karena sangking kesalnya kadang Kiara bandel kalau di ingetin, di saat itu juga Kiara tiba-tiba menangis. Padahal dulu tidak secengeng ini, tapi wajarlah karena calon bayi Kiara perempuan jadi mungkin sudah terbiasa manja dari dalam perut mamanya.
Saat masa-masa ngidamnya juga aneh-aneh sekali, ada minta berbagi macam pita dan itu harus warna pink, lalu minta makan kue tar malam-malam dan itu juga harus warna pink. Pernah saat itu ngidam minta makan donat dan saat itu toko donatnya mau tutup, karena Kevin tidak mau istrinya sedih akhirnya Kevin memboking satu toko donat di malam itu juga. Kevin selalu sabar menghadapi istrinya saat masa-masa ngidam itu, demi anak dan istrinya apa saja di turuti, iya walaupun harus merogoh kocek yang tidak sedikit tapi Kevin iklhas karena baginya uang yang ia cari setiap hari itu hanya untuk istri dan anaknya.
Mahendra dan Ria juga sangat memanjakan Kiara dengan penuh kasih sayang dan perhatian, sungguh ini adalah suatu kebahagiaan untuk Kiara, di saat orang tua kandungnya tidak pernah perduli akan dirinya di sisi lain ada mertuanya yang begitu tulus menyayanginya seperti anaknya sendiri.
Dua hari lagi Kiara akan melangsungkan acara 7 bulanan kehamilannya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Kevin saat melihat Kiara hendak beranjak dari tempat tidur.
"Mas, aku lapar," keluhnya sambil mengelus-elus perutnya yang sudah terlihat cukup besar. Padahal sudah tengah malam, tapi perutnya sangat lapar sekali.
"Duduklah! Biar mas ambikan cemilan," kata Kevin dan Kiara mengangguk.
Kevin turun ke bawa untuk mengambil cemilan di kulkas dapur, karena kulkas di kamarnya belum di isi makanan.
Setelah beberapa lama Kevin kembali dengan banyaknya cemilan di tangannya.
"Ini makan, istriku, kalau pingin apa-apa katakan saja! Jangan capek-capek," titah Kevin pada Kiara.
Kadang Kiara kasian dengan suaminya, sudah capek berkerja, namun masih harus mengurusi dirinya.
__ADS_1
Terimakasih Tuhan, engkau telah memberikan suami sebaik Mas Kevin. Siapa yang menyangka awalnya kita sering berdebat, rasa cinta pun tidak ada di dalam hatinya tapi semuanya berubah dan kini menjadi sangat indah dan penuh kebahagiaan. Beginilah takdir manusia tidak ada yang tahu.
"Mas, terimakasih sudah menjadi suami yang baik untuk aku, maaf jika aku akhir-akhir ini aku rewel," lirih Kiara dan ia menghambur ke pelukan Kevin.
"Sama-sama istriku, terimakasih juga kamu sudah mau menjaga calon anak kita dengan baik," bisik Kevin di telinganya Kiara.
Kiara hanya terdiam, tanpa sadar ia menangis karena terharu.
"Oh iya acara 7 bulanan nanti di rumah mama, mama sudah menyiapkan semuanya sayang," ujar Kevin sambil melepaskan Kiara dari pelukannya.
"Iya mas," jawabnya dengan nada lembut, di hapuslah air mata Kiara yang membasahi kedua pipi mulusnya dengan kedua tangan Kevin. "Jangan menangis," kata Kevin dengan nada lembut.
Kini keduanya saling menatap dalam-dalam, membuat keduanya sama-sama tersenyum kecil.
"Sayang, anak kita sudah mau lahir, dan itu butuh jalan keluar yang mulus, mas buatkan jalannya ya," godanya dengan nakal.
Seketika Kiara mengangguk, ia paham akan maksud suaminya.
"Pelan-pelan mas!" pintanya dengan nada menggoda.
Kini pergulatan membuat jalan malam ini berjalan dengan baik. Tidak apa-apa istrinya sedang hamil gede, kalau yang namanya jatah mah harus minta.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia