
Malam pertama yang Kevin dambakan akhirnya gagal juga, saat tamu bulanan Kiara datang, Kevin tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aduh, mana aku tidak membawa roti tawar lagi," keluh Kiara dengan raut wajah bingung.
"Roti tawar, biar aku pesan kan ya," tawar Kevin antusias dan di anggukin oleh Kiara.
Kevin pun menelpon pelayan di hotel itu untuk membawakan roti tawar ke dalam kamarnya.
Setelah beberapa lama pintu kamarnya di ketuk oleh pelayan hotel, Kevin beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu kamarnya.
"Tuan ini roti tawarnya."
"Iya, terimakasih."
Kevin menerima satu piring roti tawar dari pelayan itu, lalu dengan senang hati Kevin membawa roti tawar itu pada Kiara.
"Ini roti yang kamu inginkan," terukir senyum begitu tulus di sudut bibirnya Kevin.
Bukannya Kiara merasa senang, seketika Kiara malah menatap kesal Kevin dengan tatapan menyalakan api perang.
"Apa kamu sedang bercanda?"
"Kok bercanda, aku membawakan apa yang kamu mau, bukannya kamu tadi bilang ingin roti tawar."
Sambil melirik kesal Kevin, Kiara terus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan roti tawar itu yang aku maksud," pekik Kiara.
"Lalu roti tawar apa yang kamu inginkan? Apa kamu mau yang ada rasanya?" tawar Kevin dengan raut wajah yang begitu polos.
"Biar aku pesan kan lagi," lanjutnya dan tatapan Kiara semakin menggebu-gebu.
"Kamu itu seorang Dokter, tapi kamu tidak tahu roti tawar itu apa?" oceh Kiara, moodnya mendadak jelek.
Dalam hati Kevin, lah salah aku dimana? Dia meminta roti tawar ya aku bawakan roti tawar tapi malah salah, wanita itu memang sulit di mengerti.
__ADS_1
"Istriku dimana-mana roti tawar ya seperti ini," dengan nada menekan, Kevin berusaha menahan rasa kesalnya.
"Roti tawar pembalut, maksudnya!!" tegas Kiara pada Kevin, seketika Kevin terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Oh roti tawar itu maksudnya," cetus Kevin dan Kiara mengangguk pelan.
"Bisa minta tolong belikan pembalut untukku," lirih Kiara dengan malu-malu.
"Tunggu lah! Aku akan mencari pembalut untukmu," jawab Kevin dan ia berlalu keluar dari dalam kamar.
Kevin pergi ke mini market dan kebetulan di dalam hotel itu ada minimarket, Kevin masuk ke dalam minimarket itu, lalu mencari apa yang di minta oleh Kiara.
Kevin mengendap-endap mencari-cari pembalut yang pas untuk Kiara, Kevin membaca satu persatu merknya dan bahan-bahan dari pembalut itu, apakah bahaya atau tidak? Wajarlah Kevin seorang Dokter jadi harus jeli dalam hal kecil seperti ini, apalagi ini untuk istrinya.
Setelah beberapa lama akhirnya Kevin menentukan satu pilihan dari berbagai macam merk pembalut.
"Aku harus beli berapa?"
"Aish, tidak aku tanya, Kiara biasanya makai merk apa saja tidak aku tanya lebih dulu."
"Dasar kamu ini bodoh sekali, Vin!"
Kevin membawa pembalut pilihannya ke kasir dengan santainya, padahal banyak beberapa wanita yang memperhatikan dirinya, namun Kevin tidak malu dan tetap memasang wajah cool nan tampannya itu.
"Lihat, laki-laki tampan itu membeli pembalut banyak sekali."
"Aku yakin, pasti gadis yang menjadi kekasihnya sangat bahagia."
"Jarang sekali ada laki-laki yang mau membelikan pembalut untuk wanitanya, pacarku saja katanya malu."
"Memang sangat tampan laki-laki itu."
"Jadi pingin punya kekasih seperti dia."
Para wanita yang melihat Kevin, sungguh mereka di buat meronta-ronta dan hanya bisa mengangumi saja.
__ADS_1
"Berapa Nona?"
"Semuanya 175 ribu, tuan."
Kevin membayar dengan uang 200 dan memberikan kembaliannya pada Nona kasir di minimarket itu.
"Terimakasih tuan, selamat datang kembali."
"Sama-sama," Kevin berlalu keluar dari dalam minimarket dan langsung menuju ke penginapan.
Sesampainya di penginapan Kevin melihat Kiara sedang memegangi perutnya, lalu ia mendekati Kiara.
"Ini roti tawar yang kamu inginkan," kata Kevin seraya memberikan tentengan plastik yang ada di tangannya pada Kiara.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Kiara.
"Jika aku membeli sedikit, aku takut kurang," sahut Kevin dengan nada lembut.
Kiara mengangguk, terserah Kevin sajalah yang penting sudah di belikan roti tawar yang diinginkan, bukan roti tawar yang bisa di makan.
Kiara beranjak dari tempat tidur, lalu ia bergegas pergi ke dalam kamar mandi untuk memakai pembalut, daripada bocor kemana-mana.
Setelah beberapa lama Kiara keluar dari dalam kamar mandi, Kevin masih terjaga karena merasa kawatir dengan Kiara.
"Kenapa belum tidur?"
"Apa kamu masih memikirkan pertempuran kita?"
"Tidak, sinilah tidur! Biar aku elus-elus perutnya kami," dengan penuh perhatian Kevin berbicara pada Kiara.
Dengan malu-malu Kiara berbaring di sebelah Kevin, dan benar Kevin mengelus-elus perut Kiara hingga Kiara terlelap tidur.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia