
"Dia...."
"Iya dia siapa? Katakan padaku!"
"Dia teman sekelasku."
Kevin merenggut tidak suka, masa teman begitu akrab? Apakah semua gadis itu selalu begitu akrab dengan teman laki-lakinya? Pikir Kevin di otaknya.
"Teman apa teman?" sindirnya.
"Maumu apa?" sahut Kiara dengan malas.
"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Kevin, sejak pertama kali bertemu dengan Kiara, ia lupa bertanya akan hal ini.
"Tidak punya, namun aku sedang menyukai seorang laki-laki, dia adalah kakak kelasku, kita juga kuliah di tempat yang sama namun jurusannya berbeda, " jawab Kiara dengan nada lembut.
"Setelah menikah, jangan harap kamu bisa mendekati laki-laki manapun, ingat mata-mataku nanti akan ada dimana-mana," ujar Kevin dengan nada menekan.
"Apa pekerjaanmu? Sehingga kamu mempunyai banyak mata-mata? Apa kamu ini seorang detektif yang handal?" tebak Kiara.
"Aku seorang Dokter muda yang tampan," jelas dengan gaya sok cool nya.
__ADS_1
"Oh seperti itu," lagi-lagi Kiara bersikap cuek pada Kevin.
Kevin menyalakan mesin mobilnya, lalu ia melajukan mobilnya entah kemana?
Saat di perjalanan Kiara memilih untuk diam saja, sedangkan Kevin fokus menyetir mobil.
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan, apa kamu mau?" tawar Kevin.
"Aku harus pulang, aku malam ini akan berjaga dirumah sakit," tolak Kiara.
"Baiklah aku antar kamu pulang," kata Kevin.
Kevin pun mengantarkan Kiara pulang ke rumahnya, sesampainya dirumah Kiara, Kevin tidak turun karena tiba-tiba mendapat telpon dari rumah sakit dan ada pasien yang harus segera ia tangani secepatnya.
"Ibu," sapa Kiara.
"Bagaimana dengan Tuan Kevin? Kamu tidak menolak untuk menikah dengannya kan, ingat jangan sampai menolak!" Merry langsung mencecer Kiara dengan banyak pertanyaan, padahal Kiara belum duduk sama sekali dan baru saja sampai rumah.
"Kata laki-laki itu, pernikahannya akan di langsung satu minggu lagi bu," ujar Kiara terlihat raut wajahnya tidak bahagia.
"Baguslah, cuma dengan cara ini, kita bisa membiayai pengobatan kakakmu," Merry tersenyum senang.
__ADS_1
Kiara memejamkan matanya, ia menarik nafasnya dengan pelan, demi kakaknya ia harus mengorbankan hati dan perasaannya, padahal dalam hati Kiara, Kiara sedang jatuh cinta dengan laki-laki lain yang tidak lain adalah kakak kelasnya dulu waktu di SMA dan sekarang mereka juga kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan, namun dengan adanya hal seperti ini, Kiara sadar sampai kapanpun cintanya dengan laki-laki yang ia cintai tidak akan tersampaikan.
"Bu, apakah ibu tidak pernah memikirkan perasaan Kiara? Kiara menyukai laki-laki lain bu, Kiara tidak mencintai Tuan Kevin," cerita Kiara, berharap ibunya mau mengerti dan tidak menyuruhnya lagi untuk menikah dengan Kevin laki-laki yang tidak ia kenal dan tidak ia cintai sama sekali juga.
"Hey gadis bodoh, untuk apa kamu memikirkan cinta? Cinta itu bisa tumbuh kapan saja," ujar Merry dengan nada ketus.
"Ibu, rasanya aku seperti dijual oleh ibuku sendiri, kenapa ibu begitu tega?" tangis Kiara pecah, buliran air matanya membasahi pipi mulusnya.
Merry menatap Kiara dengan tegas, tangannya memegang kedua punggung Kiara dengan kuat.
"Ibu tidak menjualmu! Ibu hanya ingin kamu membalas budi pada ibu, ingat selama ini yang membesarmu itu adalah aku, jadi apa salahnya jika kamu harus membalas budi? Jika aku tidak merawatmu dari dulu, mungkin kamu sudah mati," terang Merry dengan kasar.
Mendengar jawaban ibunya, isak tangis Kiara semakin jadi, apakah aku ini anak yang tidak inginkan? Kenapa, ibuku bicara sekasar itu? Apakah jika dulu aku mati, ibuku akan bahagia? Tuhan, kenapa engkau tidak cabut nyawaku saja dari dulu? Kenapa aku di biarkan hidup, jika kelahiranku sama sekali tidak inginkan oleh ibuku sendiri. Punya ibu kandung tapi rasa ibu tiri.
"Aku ini sebenarnya anak ibu bukan sih? Kenapa ibu memperlakukanku sangat beda sekali dengan Kak Megga?" tanya Kiara, hatinya sangat sedih jika mengingat ibunya yang selalu berlaku tidak adil pada dirinya dan kakaknya.
"Kamu memang anak kandungku, namun sampai hatipun kelahiranmu, tumbuhnya kamu di dalam rahimku, sungguh itu tidak aku inginkan sama sekali," jawab Merry dengan lantang, nafasnya menggebu-gebu karena sangat marah, apalagi jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu, hatinya hancur dan rasanya kejadian itu tidak mau terjadi dalam hidupnya.
Tangis Kiara semakin pecah, ia berlari masuk ke dalam kamarnya, hatinya tidak kuat mendengar kata-kata dari ibunya, hatinya selalu bertanya-tanya, aku ini anak kenapa? Apa salahnya aku? Namun jawaban itu sampai sekarang tidak pernah Kiara dapatkan.
Setelah Kiara masuk ke dalam kamar, Merry menangis mengingat kejadian beberapa tahun lalu, sungguh kenapa ini bisa terjadi pada dirinya pada saat itu?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia